Sebagian Wilayah Temanggung Alami Krisis Air

Kompas.com - 19/09/2018, 20:57 WIB
IlustrasiDavide Restivo/CC 2.0 Ilustrasi

TEMANGGUNG, KOMPAS.com - Di penghujung musim kemarau, kekeringan masih melanda sebagian wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Kabupaten Temanggung mencatat masih ada 18 desa yang mengalami krisis air bersih.

Ke-18 desa yang tersebar di 9 kecamatan itu antara lain Candiroto, Kandangan, Kranggan, Kledung dan lainnya.

"Perkiraan BMKG, puncak kemarau pada Oktober 2018, dan perkiraan hujan akan turun sekitar November 2018. Sejauh ini masih ada desa yang kekeringan," jelas Plt Kepala Pelaksana BPBD Temanggung Gito Walngadi, Rabu (19/9/2018).

Gito melanjutkan, distribusi air bersih masih terus dilakukan di desa-desa tersebut. Dalam sehari BPBD mengoperasikan 4 mobil tangki untuk mengirimkan air bersih.

"Upaya dropping air masih dilakukan, ada 4 armada yang mengirim masing-masing 4 trip (kiriman) per hari," sebut Gito.

Baca juga: Kekeringan, Warga di Polewali Mandar Seduh Air Sungai untuk Diminum

Menurutnya, kekeringan yang terjadi karena musim kemarau panjang tahun ini dan bukan akibat dari kebakaran hutan Gunung Sumbing dan Sindoro beberapa hari terakhir ini. Debit air dari sumber air semakin mengecil.

Pihaknya mendapat bantuan sosial perusahaan (CSR) dari sejumlah BUMN/BUMD untuk mengatasi kekeringan ini. Selain itu pemerintah daerah setempat juga telah menganggarkan penanganan kekeringan sebesar Rp 150 juta.

"Stok air bersih dari CSR masih sekitar 72 tangki, masih ada CSR yang akan membantu lagi. Semoga bisa memperpanjang bantaun," tuturnya. 



Close Ads X