Warga Karawang Berharap Ridwan Kamil Selesaikan Masalah Pencemaran Sungai Cilamaya - Kompas.com

Warga Karawang Berharap Ridwan Kamil Selesaikan Masalah Pencemaran Sungai Cilamaya

Kompas.com - 16/09/2018, 21:55 WIB
Sudah 22 tahun Sungai Cilamaya menghitam dan bau menyengat. Warga meminta Gubernur Jabar Ridwan Kamil turun tangan.KOMPAS.com/FARIDA FARHAN Sudah 22 tahun Sungai Cilamaya menghitam dan bau menyengat. Warga meminta Gubernur Jabar Ridwan Kamil turun tangan.

KARAWANG, KOMPAS.com - Warga Karawang berharap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dapat menyelesaikan masalah Sungai Cilamaya yang menghitam dan mengeluarkan bau busuk sejak 22 tahun lalu.

Bendi Sukarya, salah seorang warga Desa Situdam, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, berharap Ridwan Kamil menyelesaikan permasalah warga di sepanjang bantaran Sungai Cilamaya.

"Harapan kami gubernur menyelesaikan masalah ini. Bila perlu datang langsung untuk melihat langsung kondisi Sungai Cilamaya," ujar Bendi, Minggu (16/9/2018).

Bendi menyebut, warga di bantaran Sungai Cilamaya sudah geram, lantaran impian sungai itu kembali jernih tak kunjung terealisasi. Apalagi, untuk pertanian pun, petani terpaksa menggunakan air yang tercemar tersebut.

"Selain menghitam, juga bau busuk yang menyengat sangat mengganggu pernapasan. Adapun kebutuhan pertanian kami terpaksa menggunakan air sungai tersebut, karena tidak ada air lagi," tandasnya.

Selain Sungai Cilamaya, air di Bendungan Barubug di Desa Situdam, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang juga menghitam dan bau busuk. Bendungan ini berfungsi mengairi 2.926 hektar sawah yang membentang dari Kecamatan Jatisari Patokbeusi Subang. Bendungan yang dibangun tahun 1949 ini membagi air ke Sungai Cilamaya dan Sungai Ciherang.

Dugaan Pencemaran

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdatul Ulama (LPBI NU) dan Karangtaruna Kecamatan Kotabaru mensinyalir pabrik kertas PCP yang terletak di Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang membiang limbah tanpa diolah terlebih dulu.

Mereka sengaja menyusuri aliran Sungai Cilamaya mulai dari hilir ke hulu untuk menemukan sumber malapetaka pencemaran tersebut.

"Kami geram, saat melihat kondisi air Sungai Cilamaya dan Bendung Barugbug kembali menghitam dan menebar bau busuk," ujar salah seorang pungurus LPBI NU Karawang, Dian Nugraha, Sabtu (15/9/2018).

Dian menyebut, upaya tersebut membuahkan hasil. Sebab, pada Jumat (14/9/2018) siang, mereka menemukan sebuah saluran mengalirkan limbah ke Sungai Cilamaya. Aliran itu berbuih dan berwarna hitam.

"Dari radius ratusan meret saja, bau busuk dari limbah itu sudah menyergap hidung," kata Dian.

Dian mengatakan, masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah sudah mengadukan hal itu kepada sejumlah instansi terkait, termasuk pihak kepolisian. Bahkan, instansi yang dilapori pernah mengambil sampel limbah untuk diteliti.

"Akan tetapi, hingga saat ini tidak ada tindak lanjutnya. Pencemaran Sungai Cilamaya pun berlanjut terus hingga sekarang," katanya.

Atas temuan tersebut, LPBI NU akan melapor ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Polda Jabar. Mereka berharap pihak terkait tidak segera menindaklanjuti dugaan pencemaran tersebut.

Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Karawang Elivia Khrissiana mengatakan, pencemaran Sungai Cilamaya dan Bendungan Barugbug tidak pernah
ditangani secara serius. Akibatnya, pencemaran limbah B3 itu terus berlangsung hingga belasan tahun.

"Ini harus diselesaikan secara tuntas, karena dampaknya langsung ke masyarakat Karawang," katanya.

Elivia menyebut tidak sedikit warga yang menderita gatal-gatal setelah terkena air sungai. Lahan pertanian juga tak luput dari imbas pencemaran tersebut.



Close Ads X