Bantu Warga Lombok, ITB Bangun Prototipe Shelter Hunian dari Bambu - Kompas.com

Bantu Warga Lombok, ITB Bangun Prototipe Shelter Hunian dari Bambu

Kompas.com - 14/09/2018, 11:40 WIB
Sejumlah warga di pengungsian korban gempa Lombok.Kompas.com/Fitri Sejumlah warga di pengungsian korban gempa Lombok.

BANDUNG, KOMPAS.com - Tim Satgas Insitut Teknologi Bandung ( ITB) membuat beberapa prototipe shelter dan hunian sementara dari bambu dan dinding bambu plester.

Nantinya, prototipe ini akan menjadi shelter atau hunian sementara bagi para korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seperti diketahui, gempa meluluhlantakkan sebagian wilayah Lombok. Kerusakan terbesar terjadi di Lombok Utara, sehingga warga tinggal di tenda pengungsian.

Selain itu, ITB juga membangun Posko ITB-Unram sebagai pusat koordinasi kegiatan bantuan ITB-Universitas Mataram (Unram) untuk korban gempa Lombok dengan model Geodesik Dome 3V.

Baca juga: Pasca-Gempa Lombok, Pemerintah Beri Kelambu Berinsektisida untuk Cegah Malaria

Berdasarkan rilis yang diterima Kompas com, pembuatan dome tersebut diinisisasi Andry Widyowijatnoko dari Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, ITB.

Adapun lokasi pembuatannya berada di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Proses pengerjaan dome dimulai 7 September 2018 dan rencananya akan diresmikan rektor Universitas Mataram.

Dalam proses pengerjaannya, terdapat 10 orang yang tergabung dalam tim. Enam orang di antaranya, mahasiswa ITB dan empat lainnya tukang.

Bentuk dari dome yang menyerupai kubah setengah lingkaran dengan bahan dasar bambu dan menggunakan sambungan khusus memang agak unik dari posko yang lain.

"Proses pengerjaan saat ini sudah selesai pemasangan rangkanya. Akan dilanjutkan dengan pemasangan membran penutup luarnya," kata Andry dalam rilisnya, Jumat (14/9/2018).

Baca juga: Fakta Terbaru Gempa Lombok, Pengungsi Terserang Malaria hingga Kerugian Rp 10,15 T

Andry menjelaskan, desain dari prototipe ini berdasarkan geodesic dome 3V.

Nantinya ada tiga jenis panjang bambu dan tiga jenis sambungan. Semakin banyak jenis bambu dan sambungan, maka akan semakin mendekati bentuk bulat mulus.

Ia menambahkan, butuh 165 bambu dari bahan lokal setempat untuk membangun dome ini. Sedang mangkuk bana dan alat sambung ke bambu dibuat dan dibawa dari Bandung.

"Nanti yang kita bawa kembali ke Bandung juga hanya alat sambungnya saja. Bambu kita tinggal. Pola ini akan kita pakai lagi jika ada kondisi darurat di tempat lain, sebagai posko ITB," ujarnya.

Bambu, sambung dia, dipilih untuk pembuatan dome lantaran murah, mudah didapatkan di Indonesia, dan gampang dipakai untuk struktur temporer.

Hal tersebut dinilai dapat menghemat ongkos transport dan juga untuk mempromosikan bambu.

Selain dome, tim telah membuat huntara dari bambu, prototipe shelter terpal dengan struktur bambu memakai sambungan dari tali rafia, prototipe terowongan bambu dengan bentang 7 meter dengan penutup terpal dan sambungan tali rafia untuk shelter komunal atau kelas temporer.

"Selain bambu, tali rafia juga dipakai pada prototipe shelter dan ruang kelas temporer sebagai sambungan. Tali rafia terdapat di mana-mana dan murah," ungkapnya.

"Ide membangun prototipe shelter dan ruang kelas temporer dengan bambu dan rafia adalah memberikan solusi teknologi paling sederhana untuk kebutuhan mendesak," tutupnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X