Gubernur Sumut Edy Rahmayadi: Saya Senang Ada Demo, tapi Jangan seperti Ini... - Kompas.com

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi: Saya Senang Ada Demo, tapi Jangan seperti Ini...

Kompas.com - 14/09/2018, 05:45 WIB
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menemui massa nelayan yang demonstrasi ke kantor gubernur, Kamis (13/9/2018)KOMPAS.com/MEI LEANDHA Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menemui massa nelayan yang demonstrasi ke kantor gubernur, Kamis (13/9/2018)

MEDAN, KOMPAS.com — Ribuan nelayan dari sejumlah daerah mengatasnamakan Himpunan Nelayan Kecil Modern Sumatera Utara (HNKM Sumut) melakukan demonstrasi ke kantor gubernur.

Massa meminta solusi pengganti alat tangkap trawl atau cantrang yang dilarang penggunaannya dan soal penangkapan rekan mereka di Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi bersama Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah yang baru selesai shalat zhuhur di Masjid Agung langsung menemui massa. Menaiki podium, Edy menyapa dan berdialog kepada para nelayan.

Baca juga: Hari ke-5 Jadi Gubernur Sumut, Edy Ajak ASN Shalat Berjemaah dan Hemat Listrik

“Saya senang ada demo, tapi jangan seperti ini, saya baru lima hari bertugas. Belum tahu apa yang menjadi duduk perkaranya. Kalau kalian sudah beri tahu saya dan tidak saya tindak lanjuti, kalian boleh unjuk rasa. Saya minta beberapa perwakilan masuk, kita bicarakan masalahnya,” kata Edy, Kamis (13/9/2018).

Dialog pun terjadi antara perwakilan nelayan, gubernur, dan organisasi perangkat daerah (OPD). Terkait penangkapan nelayan, Edy meminta bantuan Ditpolair Polda Sumut untuk menelusuri pelaku penangkapan dan penyebabnya.

“Cari tahu penyebab ditangkap. Menurut saya, tidak mungkin ditangkap jika tidak salah. Kalau kalian ditangkap tanpa melakukan kesalahan, laporkan kepada saya. Tapi kalau salah dan melanggar aturan, wajar ditangkap,” tegasnya.

Baca juga: Menteri Susi: Sekali Tangkap, Kapal Cantrang Buang 1 Kuintal hingga 1 Ton Ikan Kecil

Untuk penggunaan alat tangkap yang dilarang, Edy meminta Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut menelaah Undang-Undang dan Peraturan Menteri untuk mengeluarkan rekomendasi penyelesaian masalah.

Rahman Gapiki, salah satu koordinator aksi, menyampaikan, gejolak di tengah nelayan terjadi setelah terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 71 Tahun 2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI.

Menurut dia, kalau penggunaan pukat trawl dilarang, harusnya ada solusi alat pengganti.

"Janji Menteri Susi, semua nelayan kecil di bawah 5 GT diberi ganti alat tangkap. Sampai sekarang tidak ada kejelasan. Kami mengharapkan solusi, biar kami bisa melaut lagi. Tidak ada lagi korban penangkapan karena Permen 71 itu,” ucap Rahman.

Baca juga: Nelayan Sumatera Utara Sesalkan Perpanjangan Penggunaan Cantrang

Kepala Satuan Patroli Ditpolair Polda Sumut Zonni Aroma menjelaskan, sudah lama pihaknya melakukan penyuluhan kepada nelayan tentang pelarangan alat tangkap yang merusak lingkungan, termasuk salah satunya pukat trawl.

Sementara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut Mulyadi Simatupang menyampaikan akan segera menindaklanjuti semua persoalan.

Menurut Mulyadi, pihaknya harus mendengar dari semua pihak, di satu sisi ada yang menuntut penegakan Permen Nomor, di lain sisi ada yang merasa tidak adil dengan implementasinya.

"Kita akan undang semua pihak, kita telaah. Semoga ada solusi, seperti percepatan pergantian alat menangkap ikan,” kata Mulyadi.

Usir massa

Saat massa melakukan aksi, Edy dengan pengawalan petugas satuan polisi pamong praja (satpol PP) menaiki podium. Saat dia berbicara dengan massa, dilihatnya ada ibu-ibu yang juga sedang berbicara.

Baca juga: Jabat Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi Tak Akan Mundur dari Ketum PSSI

 

Diduga tersinggung, Edy langsung mengusir perempuan yang diperkirakan berumur 50-an tahun itu.

"Ibu berdiri, jalan keluar. Saya tak senang, kalau saya sedang ngomong, orang ngomong," kata Edy sambil menunjuk ke arah belakangnya.

Perempuan yang tidak diketahui identitasnya itu sempat menolak perintah Edy, namun beberapa petugas menggiringnya. Akhirnya dia menurut dan keluar dari kerumunan massa.

Edy sebelumnya sudah meminta massa membubarkan diri, alasannya Permen Nomor 71 masih akan dipelajarinya.

"Nanti kita lihat dan pelajari. Sebenarnya kalau tidak ada yang mengadu domba, tidak akan ada bentrok para nelayan. Tapi, sepertinya sudah begitu namanya mencari makan, makanya saya perlu ketemu sama bos-bosnya ini," ujar Edy sambil turun dari podium.

Massa langsung berebut menyalami dan meminta berfoto dengannya, begitu juga dengan para ibu.


Terkini Lainnya

Perampok Sopir Taksi Online di Palembang Sempat Bidik 5 Korban Lain Sebelum Sofyan

Perampok Sopir Taksi Online di Palembang Sempat Bidik 5 Korban Lain Sebelum Sofyan

Regional
Fakta Perburuan Pelaku Pembunuhan Sofyan, Takut Ditembak Polisi hingga Satu Masih Buron

Fakta Perburuan Pelaku Pembunuhan Sofyan, Takut Ditembak Polisi hingga Satu Masih Buron

Regional
Pakai Uang Ibunya, Gadis di China Habis Rp 220 Juta untuk 'Video Game'

Pakai Uang Ibunya, Gadis di China Habis Rp 220 Juta untuk "Video Game"

Internasional
Bea Cukai Sita 4 Juta Batang Rokok di Jepara Senilai Rp 2,9 Miliar

Bea Cukai Sita 4 Juta Batang Rokok di Jepara Senilai Rp 2,9 Miliar

Regional
Kubu Prabowo-Sandiaga Luncurkan Buku 'Paradoks Indonesia' Versi Braile

Kubu Prabowo-Sandiaga Luncurkan Buku "Paradoks Indonesia" Versi Braile

Nasional
'Ngamuk' dan Coba Rebut Kemudi Bus, Perempuan Ini Ditangkap

"Ngamuk" dan Coba Rebut Kemudi Bus, Perempuan Ini Ditangkap

Internasional
Minta Program Kirim Buku Gratis Dilanjutkan, Pemerintah Belum Beri Kepastian Anggaran

Minta Program Kirim Buku Gratis Dilanjutkan, Pemerintah Belum Beri Kepastian Anggaran

Nasional
Fokus kepada Rusia dan China, AS Kurangi Pasukan di Afrika

Fokus kepada Rusia dan China, AS Kurangi Pasukan di Afrika

Internasional
Tempuh Jalur Hukum, PPP Kubu Romy Akan Laporkan PPP Versi Muktamar Jakarta

Tempuh Jalur Hukum, PPP Kubu Romy Akan Laporkan PPP Versi Muktamar Jakarta

Nasional
Suami Istri yang Tewas Dibunuh di Bekasi Dikenal Jago Berbisnis

Suami Istri yang Tewas Dibunuh di Bekasi Dikenal Jago Berbisnis

Megapolitan
PPP Kubu Romy Masih Buka Opsi Berdamai, Asal...

PPP Kubu Romy Masih Buka Opsi Berdamai, Asal...

Nasional
Mogok Kerja, Staf Kamar Mayat Minta Warga Tunda Kematian

Mogok Kerja, Staf Kamar Mayat Minta Warga Tunda Kematian

Internasional
Akun Instagram Ahmad Dhani Disita Polisi untuk Barang Bukti Kasus 'Vlog Idiot'

Akun Instagram Ahmad Dhani Disita Polisi untuk Barang Bukti Kasus "Vlog Idiot"

Regional
Pembunuh Sopir Taksi 'Online' di Tangerang adalah Kakak Beradik

Pembunuh Sopir Taksi "Online" di Tangerang adalah Kakak Beradik

Megapolitan
Sekjen PSI: Laporan terhadap Grace Natalie Tak Masuk Akal

Sekjen PSI: Laporan terhadap Grace Natalie Tak Masuk Akal

Nasional

Close Ads X