Kegigihan Eko demi Akses Jalan ke Rumah, Sewa Pengacara hingga Mengadu ke Wakil Gubernur (3)

Kompas.com - 12/09/2018, 09:40 WIB
Eko Purnomo (37) tengah memperlihatkan surat sertikat rumah saat ditemui di rumah kontrakannya.KOMPAS.com/AGIEPERMADI Eko Purnomo (37) tengah memperlihatkan surat sertikat rumah saat ditemui di rumah kontrakannya.

BANDUNG, KOMPAS.com - Sejak tahun 2016, Eko berjuang mencari keadilan terkait akses jalan menuju rumahnya yang tertutup bangunan rumah tetangganya di Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung.

Eko berharap akses jalan menuju rumah yang menjadi haknya bisa kembali. Eko bahkan sempat menyewa tiga pengacara untuk mencari solusi lainnya.

Pengacara itu bahkan mengundang pemerintah desa setempat mulai dari RT, RW, lurah hingga camat beserta pihak terkait untuk merundingkan kembali jalan yang menjadi haknya. Namun tidak ada satupun yang merespons undangan tersebut.

Eko kemudian mencari cara lain untuk mencari keadilan dengan pendekatan ke warga sekitar, RT/RW, lurah, camat, bahkan hingga dinas terkait seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Tata Kota, Distarcip, anggota dewan, pengurus partai politik hingga wakil wali kota dan wakil gubernur serta beberapa media. Namun semua usaha itu nihil.


“Pengalaman selama tiga tahun ini bukan hal mudah capek banget justru, cari keadilan susah,” keluh Eko dengan mata merah dan berkaca-kaca, Selasa (11/9/2018).

Baca juga: Akses Jalan Tertutup Tetangga, Eko Panjat Dinding Tembok demi Keluar Rumah (2)

Kompas.com kemudian mencoba melihat kondisi lingkungan rumah Eko di Kampung Sukagalih, RT 05/06, Desa Pasir Jati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung.

Rumah Eko memang sudah tidak terlihat lantaran terhalang bangunan rumah milik tetangganya yang sudah menutup dan mengepungnya.

Rumah-rumah itu sebagian besar bertingkat. Kompas.com kemudian mengecek jalan gang yang seharusnya merupakan akses jalan berdasarkan perhitungan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang ada dalam denah surat yang diperlihatkan Eko. Namun jalan itu sudah hilang tertutup bangunan rumah di sekitarnya.

Eko Purnomo terpaksa meninggalkan rumahnya sendiri di Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, karena tak punya akses jalan akibat terhalang tembok rumah tetangga. Ia sudah meninggalkan rumahnya sejak tahun 2016 lalu.

Saat ditemui Kompas.com di rumah kontrakannya di Cikoret, Pasangrahan, Ujungberung, Kota Bandung, Selasa (11/9/2018), Eko menceritakan, saat itu ketika rumah tetangganya masih dalam proses pembangunan, ia dan keluarganya masih bertahan di rumah.

Selama 1,5 bulan, Eko dan keluarganya harus memanjat dinding tembok rumah tetangganya yang membenteng akses keluar masuk ke rumah.

Baca juga: 2 Tahun Eko Terusir dari Rumahnya gara-gara Akses Jalan Tertutup Tetangga (1)

Setelah rumah tetangganya diberi atap, Eko dan keluarganya pun tak bisa memanjat dinding tembok. Ia pun terpaksa angkat kaki dan menyewa rumah kontrakan untuk sekadar berlindung ataupun istirahat. Padahal, Eko sudah sekitar 8 tahun tinggal di rumah itu, namun kini harus terusir.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

[POPULER DI KOMPASIANA] Insiden Asrama Papua | Anak (Baru) Ibu Kota | Spider-Man Lepas dari MCU

[POPULER DI KOMPASIANA] Insiden Asrama Papua | Anak (Baru) Ibu Kota | Spider-Man Lepas dari MCU

Regional
Hukuman Kebiri Kimia Belum Ada Juknis, Kejati Jatim Tunggu Petunjuk Jaksa Agung

Hukuman Kebiri Kimia Belum Ada Juknis, Kejati Jatim Tunggu Petunjuk Jaksa Agung

Regional
Sirkulasi 'Eddy' Picu Gelombang Setinggi 4 Meter di Sejumlah Wilayah

Sirkulasi "Eddy" Picu Gelombang Setinggi 4 Meter di Sejumlah Wilayah

Regional
50 Warga Dievakuasi Akibat Guguran Lava Gunung Karangetang

50 Warga Dievakuasi Akibat Guguran Lava Gunung Karangetang

Regional
Leprid Apresiasi Keberhasilan Hendi dalam Membina Ribuan UMKM

Leprid Apresiasi Keberhasilan Hendi dalam Membina Ribuan UMKM

Regional
Di Lhokseumawe, setiap Jumat Wajib Pakai Bahasa Aceh

Di Lhokseumawe, setiap Jumat Wajib Pakai Bahasa Aceh

Regional
Gubernur Bali Minta Pelindo III Stop Reklamasi di Pelabuhan Benoa

Gubernur Bali Minta Pelindo III Stop Reklamasi di Pelabuhan Benoa

Regional
Pemerkosa 9 Anak Dapat Hukuman Kebiri Kimia dan Baru Pertama di Mojokerto

Pemerkosa 9 Anak Dapat Hukuman Kebiri Kimia dan Baru Pertama di Mojokerto

Regional
Pemilik Kapal Ungkap Penyebab KM Mina Sejati Karam Pasca-pembantaian ABK

Pemilik Kapal Ungkap Penyebab KM Mina Sejati Karam Pasca-pembantaian ABK

Regional
Kasus di Asrama Mahasiswa Papua, 5 TNI Diskors dan Diseret ke Pengadilan Militer

Kasus di Asrama Mahasiswa Papua, 5 TNI Diskors dan Diseret ke Pengadilan Militer

Regional
Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Cilacap dan Kebumen, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Cilacap dan Kebumen, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Kebiri Kimia di Mojokerto, Kejaksaan Masih Mencari Rumah Sakit untuk Eksekusi Hukuman

Kebiri Kimia di Mojokerto, Kejaksaan Masih Mencari Rumah Sakit untuk Eksekusi Hukuman

Regional
2 Jenazah Ditemukan pada Mobil Terbakar, Diduga Korban Pembunuhan

2 Jenazah Ditemukan pada Mobil Terbakar, Diduga Korban Pembunuhan

Regional
Perusahaan Datangkan Kapal Cari Korban Pembantaian KM Mina Sejati

Perusahaan Datangkan Kapal Cari Korban Pembantaian KM Mina Sejati

Regional
Cuaca Buruk, Pencarian Kapal Kargo yang Hilang di Perairan Pulau Buru Dihentikan

Cuaca Buruk, Pencarian Kapal Kargo yang Hilang di Perairan Pulau Buru Dihentikan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X