Rupiah Lemah, Produsen Tempe: Kalau Mau Belanja Kedelai Selalu Deg-degan... - Kompas.com

Rupiah Lemah, Produsen Tempe: Kalau Mau Belanja Kedelai Selalu Deg-degan...

Kompas.com - 07/09/2018, 11:00 WIB
Ilustrasi pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe. KOMPAS/PRIYOMBODO Ilustrasi pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe.

MAGELANG, KOMPAS.com - Produsen tempe di Kota Magelang, Jawa Tengah, mulai mengeluhkan pelemahan rupiah terhadap dollar AS beberapa hari terakhir. Mereka semakin tercekik dengan harga bahan baku kedelai impor yang ikut melambung.

Siti Sustinah (34) salah satu produsen tempe di Kampung Pucangsari, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, menyebutkan saat ini harga kedelai impor mencapai Rp 7.500 per kilogram.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai impor terjadi sejak Februari 2018 lalu, dari Rp 6.800 per kilogram.

"Naiknya tidak langsung tapi mulai dari Rp 50 - Rp 100 per kilogram, sampai sekarang menjadi Rp 7.800 per kilogram," jelas Susi - panggilan Siti Sustinah, ditemui di rumah produksinya, Kamis (6/9/2018).

Baca juga: Rupiah Anjlok, Tak Pengaruhi Proyek Besar di Kota Magelang

Susi mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi tersebut. Terlebih, anjloknya nilai tukar rupiah juga berpengaruh pada harga plastik pembungkus tempe yang ikut merangkak naik.

"Dampaknya engga cuma harga kedelai, tapi juga harga plastik juga naik, dari Rp 25.500 naik menjadi Rp 28.500 per kilogram," ucapnya.

Sejak awal didirikan 39 tahun lalu, tempe hasil produksi Susi menggunakan bahan baku kedelai impor. Kedelai yang didatangkan dari Amerika Serikat itu diakui mempunyai kualitas yang baik dibanding kedelai lokal.

"Kelebihan (kedelai) impor hasilnya bisa mengembang baik. Kalau lokal saya sendiri belum pernah pakai, bijinya lebih kecil, bagus untuk bahan membuat tahu," jelas Susi.

Baca juga: Rupiah Melemah, Perajin Tempe di Bekasi Mengeluh

Dirinya memproduksi sekitar 5 kuintal kedelai setiap hari, yang diolah dan dibentuk dalam 4 varian tempe. Harganya berkisar Rp 400 - Rp 5.500 per potong.

Sementara ini Susi belum dapat menaikkan harga jualnya meski terus terdesak dengan harga bahan baku. Ia menaikkan harga tempe terakhir sekitar 5 tahun yang lalu.

"Saya ngga mungkin menaikkan harga, pelanggan pasti protes. Sementara kami mau protes ke siapa? mau ngga mau ya harus beli dengan harga yang ada. Kalau mau belanja kedelai selalu deg-degan dulu," ucapnya.

Tempe yang diproduksi Susi dipasok ke pasar tradisional Rejowinangun dan Gotong Royong Kota Magelang, serta di pasar Tegalrejo, Kabupaten Magelang.

Operasi pasar

Menurut Susi, salah satu solusi mengendalikan kenaikan harga baku kedelai impor adalah dengan operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah. Susi mengaku merasakan betul manfaat dari operasi pasar yang kerap dilakukan beberapa tahun lalu.

"Tapi sekarang jarang, malah ngga ada operasi pasar. Padahal dulu kalau harga naik, kemudian ada operasi pasar harga bisa stabil lagi, walaupun tidak cepat," ungkapnya.

Susi berharap segera ada langkah kebijakan pemerintah agar rupiah kembali menguat dan harga kedelai serta komoditas lainnya stabil.

Baca juga: Rupiah Hampir Sentuh Rp 15.000 Per Dollar AS, Ini Komentar Jokowi

Kepala Seksi Distribusi Perdagangan Barang dan Promosi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Magelang, Budi Imam Hakim menjelaskan kenaikan harga komoditas kedelai impor sudah terjadi sejak awal 2018 lalu.

"Rata-rata per awal tahun 2018 harga kedelai impor Rp 7.000 per kilogram, sedangkan per Jumat (7/9/2018) ini mencapai Rp 7.767 per kilogram," ujar Hakim, Jumat (7/9/2018).

Harga tersebut merupakan hasil pantauan di tiga pasar tradisional, yakni Pasar Rejowinangun, Pasar Kebonpolo dan Pasar Gotong Royong Kota Magelang.

Begitu juga dengan harga kedelai lokal, lanjut Hakim, meski kecil komoditas ini juga mengalami kenaikan dari Rp 8.200 per kilogram menjadi Rp 8.333 per kilogram.

Baca juga: Di Sentra Kripik Tempe Sanan, Gus Ipul Bicara Kedelai Impor

Menurutnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS saat ini mempunyai pengaruh terhadao harga kedelai impor. Tidak sedikit produsen tahu dan tempe di wilayah ini yang memilih menggunakan kedelai impor karena lebih murah.

"Ada pengaruhnya karena impor ya. Banyak pengusaha tahu/tempe yang pakai kedelai impor karena lebih murah, biaya produksinya jadi murah juga," ungkapnya.

Hakim berujar, upaya pengendalian harga dengan operasi pasar merupakan kebijakan pusat sehingga pihaknya tidak bisa serta-merta melakukan kegiatan tersebut. Menurutnya, operasi pasar biasanya dilakukan jika kenaikan harga sangat tinggi.

"(Operasi pasar) kedelai belum pernah. Dulu pernah bawang putih, itu pun harus sesuai instruksi pusat. Setelah kita laporan ke Provinsi, kemudian diteruskan ke pusat. Setiap hari kita laporan," katanya. 



Close Ads X