Berkat Mie Kering Rumput Laut, Ibu-ibu di Sarawondori Papua Mampu Kuliahkan Anak

Kompas.com - 27/08/2018, 12:07 WIB
Rosmina Karobaba dan Isak Karobaba mengolah mie kering rumput laut di tepi teluk Sarawondori Kepulauan Yapen Papua, Minggu (26/8/2018) KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Rosmina Karobaba dan Isak Karobaba mengolah mie kering rumput laut di tepi teluk Sarawondori Kepulauan Yapen Papua, Minggu (26/8/2018)

"Saya kerjakan sendiri semua. Waktu itu hanya buat puding dan cendol. Satu cetakan ada 15 potong, dan per potong saya jual Rp 1.000. Per hari saya bisa bawa puding tiga cetakan. Sementara ongkos naik kendaraan umum PP habis Rp 10.000. Masih ada untung walaupun sedikit,” jelasnya.

Saat itu, puding dan cendol buatan Ros sangat terkenal di Kota Serui hingga akhirnya pada tahun 2010, dia kembali diajak untuk mengikuti pengolahan rumput laut menjadi mie basah dan bakso.

Ros memilih berjualan karena pasca-bercerai dengan suaminya, Ros secara otomatis harus menjadi kepala rumah tangga untuk menghidupi anak semata wayangnya.

Selain itu dia juga mengajak ibu rumah tangga disekitarnya agar mereka mendapatkan uang tambahan untuk mencukupi kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Baca juga: Dokter Amalia dan Kisahnya Tentang Distrik Ninati, Boven Digoel, Papua

“Jika anggota kelompok, kebanyakan uangnya digunakan untuk sekolah anaknya, sedangkan kebutuhan sehari-hari bisa dari penghasilan para suami. Beda dengan saya yang harus mandiri seorang diri,” jelasnya.

Setelah kelompok pertama bentukannya gagal, Ros kemudian kembali membuat kelompok yang terdiri dari 10 ibu rumah tangga di Sarawondori setelah mendapatkan pelatihan baru pengolahan rumput laut.

Lalu, dari hasil pelatihan tersebut, setiap hari minggu, para ibu rumahtangga anggota kelompok menjual mie basah dan bakso rumput laut di tempat wisata Teluk Sarawondori. Namun mereka terkendala dengan cuaca.

Nona, salah satu anggota kelompok pernah bercerita jika suatu hari minggu hujan turun deras selama seharian, sehingga mie dan bakso mereka tidak laku sama sekali, padahal mereka sudah membuat makanan sebanyak 50 porsi.

Akhirnya Nona dan beberapa anggota kelompoknya menjajajakan mie dan bakso rumput laut mereka menggunakan perahu ke rumah-rumah untuk menutupi modal yang telah mereka keluarkan.

“Per porsi kami jual Rp 10.000. Hujan-hujan kami tawarkan ke rumah-rumah dengan menggunakan perahu. Ada yang langsung bayar ada juga yang hutang. Perjuangan sekali ,” kata Nona ambil menghela nafas berat. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X