Berkat Mie Kering Rumput Laut, Ibu-ibu di Sarawondori Papua Mampu Kuliahkan Anak

Kompas.com - 27/08/2018, 12:07 WIB
Rosmina Karobaba dan Isak Karobaba mengolah mie kering rumput laut di tepi teluk Sarawondori Kepulauan Yapen Papua, Minggu (26/8/2018) KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI Rosmina Karobaba dan Isak Karobaba mengolah mie kering rumput laut di tepi teluk Sarawondori Kepulauan Yapen Papua, Minggu (26/8/2018)

“Tidak ada kepastian akan dijual kemana rumput laut kering tersebut. Hanya panen, jemur lalu ditumpuk saja. Stoknya sangat banyak sekali. Jadi walaupun banyak tetap saja tidak menghasilakan uang. Akhir bapak-bapak sudah jarang menanam rumput laut. Mereka kembali melaut mencari ikan,” kata Ros.

Baca juga: Cuaca Buruk, Petani Rumput Laut Rugi Jutaan Rupiah

Hal senada juga diceritakan oleh Isak Karobaba (42). Lelaki yang berbadan gempal tersebut awalnya tinggal di Nabire, namun saat mendengar bisnis rumput laut, Isak mengajak keluarganya kembali ke Sarawondori untuk bisnis rumput laut sekitar 10 tahun yang lalu.

Awalnya, sekali panen Isak bisa mendapatkan 20 ton rumput laut berukuran besar. Namun semakin lama produksi rumput laut mereka menurun karena Isak dan para petani rumput laut kesulitan untuk menjual rumput laut.

“Kalaupun ada yang beli kesini, waktu kedatangannya tidak jelas. Akhirnya rumput laut kami keringkan lalu ditumpuk di gudang. Saya juga mencari ikan dan teripang,” jelas Isak.

Menurutnya, satu kilo rumput laut basah jika dikeringkan bobotnya menjadi 6-7 ons. Sementara satu tali rumput laut bisa menghasilkan hingga 10 kilogram rumput laut basah.

“Tapi sampai saat ini saya masih punya beberapa tali rumput laut. Ukurannya bisa capai 3 atau 5 meter. Perairan ini sangat cocok untuk rumput laut,” katanya

Pada tahun 2007, Ros dan beberapa ibu rumah tangga di sekitar Sarawondori mendapat pelatihan pembuatan pengolahan makanan dengan bahan utama rumput laut dan mendapatkan uang bantuan sebesar Rp 750.000.

Ros lalu membuat kelompok namun tidak berjalan maksimal. Akhirnya, Ros memutuskan untuk membuat cendol dan puding dengan memanfaatkan rumput laut kering yang jumlahnya berlimpah di kampungnya seorang diri.

Baca juga: Baterai Masa Depan Diklaim Akan Terbuat dari Rumput Laut

Salah satu nelayan yang menyiapkan stok rumput laut adalah Isak Karobaba. Ros sempat berencana membuat permen, namun bahan-bahan yang digunakan tidak bisa didapatkan di Kota Serui.

“Karena kelompok, saya sempat minta anggota kelompok iuran Rp 25.000 untuk beli blender. Tapi tidak ada yang mau. Akhirnya saya gunakan uang sendiri untuk beli blender dan pinjam genset karena disini saat itu tidak ada listrik," cerita Ros. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Divonis 3 Tahun Penjara, Penyuap Bupati Nonaktif Muara Enim: Saya Jalani dengan Ikhlas

Divonis 3 Tahun Penjara, Penyuap Bupati Nonaktif Muara Enim: Saya Jalani dengan Ikhlas

Regional
Penyuap Bupati Muara Enim Divonis 3 Tahun Penjara

Penyuap Bupati Muara Enim Divonis 3 Tahun Penjara

Regional
Menambang Pasir Ilegal di Sungai Progo Yogya dengan Mesin Sedot, Pria Ini Ditangkap

Menambang Pasir Ilegal di Sungai Progo Yogya dengan Mesin Sedot, Pria Ini Ditangkap

Regional
Antisipasi Virus Corona, Gubernur Olly Tunda Penerbangan dari China ke Manado

Antisipasi Virus Corona, Gubernur Olly Tunda Penerbangan dari China ke Manado

Regional
Polisi: Klaim yang Dilontarkan Petinggi Sunda Empire Tak Berdasar

Polisi: Klaim yang Dilontarkan Petinggi Sunda Empire Tak Berdasar

Regional
Kepala BNN Sebut Heroin dan Kokain Hanya Ada di Bali, Ini Kata Gubernur

Kepala BNN Sebut Heroin dan Kokain Hanya Ada di Bali, Ini Kata Gubernur

Regional
Penyebab Ratusan Ekor Kerbau Moa Mati Sepanjang 2019

Penyebab Ratusan Ekor Kerbau Moa Mati Sepanjang 2019

Regional
Virus Corona Merebak, Warga Tetap Gemar Makan Olahan Daging Kelelawar

Virus Corona Merebak, Warga Tetap Gemar Makan Olahan Daging Kelelawar

Regional
Mobil Patroli Digembok Dishub karena Parkir di Jalan, Polisi Minta Maaf

Mobil Patroli Digembok Dishub karena Parkir di Jalan, Polisi Minta Maaf

Regional
Gali Parit di Ladang Jagung, Warga Sragen Temukan Fosil Gading Gajah Purba Sepanjang 4 Meter

Gali Parit di Ladang Jagung, Warga Sragen Temukan Fosil Gading Gajah Purba Sepanjang 4 Meter

Regional
Istri Gubernur Akui Angka Stunting di Maluku Tinggi, Ini Penyebabnya

Istri Gubernur Akui Angka Stunting di Maluku Tinggi, Ini Penyebabnya

Regional
Risma Diduga Dihina di Facebook, Polisi Periksa 9 Orang

Risma Diduga Dihina di Facebook, Polisi Periksa 9 Orang

Regional
Polisi Kesulitan Ungkap Penyebab Tewasnya Siswi SMP di Tasikmalaya

Polisi Kesulitan Ungkap Penyebab Tewasnya Siswi SMP di Tasikmalaya

Regional
4 Begal Sadis di Timika Diringkus Polisi, Salah Satunya Perempuan

4 Begal Sadis di Timika Diringkus Polisi, Salah Satunya Perempuan

Regional
Selundupkan 6 Warga China Via Laut, Dua Warga Indonesia Diperiksa Polisi

Selundupkan 6 Warga China Via Laut, Dua Warga Indonesia Diperiksa Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X