Syahdunya Idul Adha di Lokasi Pengungsi Gempa Lombok...

Kompas.com - 22/08/2018, 14:48 WIB
Lombok Barat, suasana Sholat Idul Adha  di Desa Kekait Lombok Barat, berlangsung hikmad Kompas.com/fitriLombok Barat, suasana Sholat Idul Adha di Desa Kekait Lombok Barat, berlangsung hikmad

LOMBOK BARAT, KOMPAS.com - Di tengah rasa khawatir dan trauma akibat guncangan gempa yang bertubi-tubi, warga yang berada di lokasi pengungsian di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ( NTB), tetap merayakan Hari Raya Idul Adha dengan khidmat, Rabu (22/8/2018).

Ada sekitar 1.600 kepala keluarga yang mengikutinya.

Baca juga: TGB: Kami Mohon Doa agar Gempa Lombok Ini Segera Berakhir...

Khatib Shalat Idul Adha, Hafazal Makrib, di lokasi ini menuturkan bahwa pelaksanaan Hari Raya Kurban kali ini memang tidak seperti biasanya karena dilaksanakan di lokasi tenda pengungsian korban gempa.


“Kita harus mengambil hikmah atas apa yang kita alami di dunia ini. Allah memberi cobaan agar kita selalu sabar dan bisa mencari jalan keluarnya,” katanya dalam khotbahnya.

"Kita diingatkan untuk kembali memperbaiki kehidupan kita. Kita mulai dari nol, yang rumah-rumahnya hancur. Kita telah bersama-sama mencari solusi dengan membuat tenda sementara di mana bahan bahannya mudah didapat dan bisa aman dari hujan dan angin. Ini ujian dan kita harus kuat menghadapinya,” tambahnya lagi.

Baca juga: Bapak Jangan Tinggalkan Saya, Saya Sakit, Temani Saya, Pak...

Warga mengaku mendapat pelajaran berharga dalam hidup mereka akibat gempa yang mulai mereka hadapi sejak 29 Juli 2018. Meski sepanjang hari rangkaian gempa terus meneror mereka, warga tetap tabah menghadapinya dan mencoba menjalaninya dengan ikhlas.

“Kami mendapat pelajaran yang sangat berharga dari musibah ini bahwa gempa yang menguji kami warga Lombok tak akan membuat iman dan keteguhan serta kepercayaan kami kendor pada kekuatan Allah SWT. Tak kami pungkiri kami berduka atas musibah ini, tetapi inilah makna Hari Raya Kurban yang sebenarnya,” tutur Busairi, salah satu pengungsi di Desa Kekait.

bersambung ke halaman dua: tetap saling mengunjungi dan berbagi

 

Di tengah rasa khawatir dan trauma akibat guncangan gempa yang bertubi-tubi, warga yang berada di lokasi pengungsian di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tetap merayakan Hari Raya Idul Adha dengan khidmat, Rabu (22/8/2018).KOMPAS.com/Fitri Rachmawati Di tengah rasa khawatir dan trauma akibat guncangan gempa yang bertubi-tubi, warga yang berada di lokasi pengungsian di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tetap merayakan Hari Raya Idul Adha dengan khidmat, Rabu (22/8/2018).
Tetap saling kunjung dan berbagi

Setelah ibadah shalat Id, yang menarik perhatian adalah walau berada di pengungsian, warga tetap menjalankan tradisi saling berkunjung dan bersalaman untuk saling memaafkan.

“Pada Lebaran Kurban tahun ini tentu rasanya berbeda. Biasanya kami berada di rumah bersama keluarga. Sekarang kami berada di tenda pengungsian. Sedih rasanya, tapi ini harus kami jalani,” kata Busairi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh korban gempa bernama Fitriah. Kaki kirinya masih bengkak lantaran tertimpa tetuntuhan tembok rumahnya. Jalannya pun masih tertatih.

Baca juga: JK Ungkap Alasan Utama Pemerintah Tak Tetapkan Gempa Lombok Jadi Bencana Nasional

Namun, dia melawan rasa sakit demi mengunjungi keluarga dan kerabatnya di tenda pengungsian lain. Tradisi saling mengunjungi dan bersalaman untuk bermaaf-maafan itu, lanjut dia, tetap harus dijaga.

“Ini sudah biasa kami lakukan, mengunjungi para orangtua, saudara yang lebih tua untuk minta maaf. Tiap Lebaran, kami menjalani ini,“ ungkapnya.

Sementara itu, Hj Nurul mengaku terharu pada Lebaran kali ini.

Suaranya bergetar saat mencurahkan isi hatinya. Dia mengaku tak pernah menyangka akan berada di tenda pengungsian, apalagi saat Lebaran. Orangtuanya yang berasal dari Lombok Tengah menjenguknya di pengungsian.

“Sedih saya. Bagaimana kondisi kita seperti ini semua. Jauh dari rasa bahagia, tapi kita juga tidak mau larut dalam kesedihan,” tuturnya.

Di pengungsian ini, warga menyembelih 46 hewan kurban, di antaranya 29 ekor sapi dan 17 ekor kambing. Dagingnya akan dibagikan ke sejumlah tenda pengungsian di desa tetangga di Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat.

Baca tentang
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X