Mahasiswa Asal Malang Tewas Tenggelam di Danau Trebgaster Jerman - Kompas.com

Mahasiswa Asal Malang Tewas Tenggelam di Danau Trebgaster Jerman

Kompas.com - 14/08/2018, 19:07 WIB
Umi Salamah saat menunjukkan foto anaknya, Shinta Putri Dina Pertiwi yang tewas tenggelam di Jerman, Selasa (14/8/2018).KOMPAS.com/Andi Hartik Umi Salamah saat menunjukkan foto anaknya, Shinta Putri Dina Pertiwi yang tewas tenggelam di Jerman, Selasa (14/8/2018).

MALANG, KOMPAS.com - Shinta Putri Dina Pertiwi, mahasiswa Universitas Bayreuth Jerman asal Kota Malang, Jawa Timur tewas tenggelam di Danau Trebgaster, Jerman, Rabu (8/8/2018).

Saat ini, jenazah korban masih disemayamkan di Jerman dan dalam proses pemulangan.

Awalnya, korban dilaporkan hilang setelah tidak terlihat lagi pasca-berenang di danau yang ada di dalam kompleks kampus.

Pihak kepolisian setempat melalui tim pencarian dan pertolongan setempat lantas melakukan pencarian di danau dengan panjang 680 meter dan lebar 220 meter tersebut.

Pada Jumat (10/8/2018) pagi waktu setempat, korban ditemukan dalam kondisi tewas dan mengambang.

Baca juga: Risma Berencana Sekolahkan Supriadi, Gelandang Timnas U-16, ke Liverpool

Umi Salamah, ibunda korban mengatakan, pada Rabu petang waktu Indonesia atau Rabu siang waktu Jerman, korban masih sempat menelpon dirinya. Saat itu, korban menanyakan gempa di Lombok.

"Waktu itu telponnya tidak lama. Karena waktu Maghrib sudah mau habis, saya shalat dulu," kata Umi Salamah saat ditemui di kediamannya di Jalan Bandulan Gang 12, Kecamatan Sukun, kota Malang, Selasa (14/8/2018).

Setelah selesai shalat, Umi mencoba menghubungi anaknya. Namun tidak ada respons.

"Setelah saya shalat Maghrib, saya telepon lagi sudah tidak ngangkat. WA (whatsapp) tidak balas," katanya.

Karena dihubungi tidak ada respons, sang ibu langsung memosting foto anaknya di akun facebooknya dengan caption berupa puisi berjudul bidadari kecil. Harapannya, korban melihat postingan itu dan meresponnya.

Baca juga: Khofifah: Saya dari Awal Berseiring dengan Pak Jokowi

"Karena telpon tidak direspon, saya gelisah. Karena gelisah itu saya cari foto Shinta di facebook dan saya upload dengan puisi bidadari kecil. Itu supaya ada balasan dari Shinta. Kenapa tidak balas, WA tidak dibalas, telpon tidak direspon," jelasnya.

Sayang, respons yang ditunggu tidak kunjung datang hingga tiba kabar pada Jumat (10/8/2018) bahwa anaknya sudah meninggal.

"Saya sangat kehilangan. Tapi kembali lagi kepada yang kuasa. Selaku manusia biasa, air mata saya tidak berhenti mengalir," ungkap perempuan yang merupakan dosen di IKIP Budi Utomo dan Universitas Brawijaya, Kota Malang itu.

Saat itu, Umi terus mencari kabar tentang anaknya yang meninggal. Termasuk upaya untuk memulangkannya.

Sempat ada penggalangan dana untuk pemulangan jenazah perempuan kelahiran 1 November 1993 itu.

Sampai akhirnya Kementerian Luar Negeri RI mengaku siap untuk menanggung seluruh biaya pemulangannya.

"Pemulangan dari Jerman oleh Kemenlu," pungkasnya.


Komentar
Close Ads X