Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lombok Masuk Zona Kuning, PVMBG Minta Pemda di NTB Revisi RTRW

Kompas.com - 31/07/2018, 17:03 WIB
Agie Permadi,
Reni Susanti

Tim Redaksi

Kompas TV Adapun, pendaki tersebut terdiri dari 358 orang pendaki asal luar negeri dan sisanya pendaki asal Indonesia.

Selain itu, pihaknya mengukur mikrotremor guna mengidentifikasi sumber gempa dan mengetahui karakteristik tanah setempat.

Pihaknya juga sosialisasi kepada masyarakat setempat agar tetap tenang pascagempa. Pasalnya gempa tidak berpengaruh terhadap aktivitas magma Gunung Rinjani.

"Kita lakukan juga sosialisasi langsung ke masyarakat sehingga mereka paham dan kita juga melakukan pengukuran dan diskusi dengan masyarakat," jelasnya.

Baca juga: Jenazah Turis Korban Gempa Lombok Asal Malaysia Segera Dipulangkan

Menurut Arifin, kerusakan bangunan yang terjadi di Lombok Timur dan Utara diakibatkan beberapa faktor, yakni jarak yang dekat dengan sumber gempa bumi.

Kondisi bangunan yang tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, terletak pada batuan rombakan gunung api muda yang telah mengalami pelapukan.

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan dampak gempa, kejadian gempa tersebut diakibatkan sesar/patahan aktif jenis sesar naik pada zona sesar busur belakang Flores. Kejadian gempa tersebut diikuti serangkaian gempa susulan.

Arifin menjelaskan, daerah Lombok Timur dan Utara merupakan daerah yang letaknya berdekatan dengan lokasi pusat gempa. Daerah itu merupakan dataran hingga perbukitan terjal.

"Berdasarkan peta geologi, Pulau Lombok yang disusun Pusat Survei Geologi, Badan Geologi dan pengamatan lapangan, dataran tersusun oleh endapan kuarter berupa dominan bantuan rombakan gunung api muda yang mengalami pelapukan," jelasnya.

Batuan rombakan gunung api muda, sambung Arifin, mengalami pelapukan dan pada umumnya bersifat urai, lepas, memperkuat efek goncangan, sehingga rawan goncangan gempa bumi.

Hasil sementara tim di lapangan, pihaknya memberikan rekomendasi teknis kepada pemerintah setempat.

Salah satunya, melakukan upaya mitigasi gempa bumi secara struktural dan non struktural untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gempa bumi sehingga dapat mengurangi risiko bencana gempa.

"Bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang agar dibangun mengikuti kaidah-kaidah bangunan tahan gempa," tuturnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com