Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sedang Tren, Bisnis Jual Barang Kuno yang Hasilnya Menggiurkan

Kompas.com - 28/07/2018, 18:30 WIB
Kontributor Magelang, Ika Fitriana,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

MAGELANG, KOMPAS.com - Barang-barang yang sudah kuno tidak selamanya menjadi sampah. Barang-barang jenis tertentu justru bernilai tinggi jika semakin kuno atau lawas. Pemintanya pun tidak sedikit.

Ada komunitas atau orang-orang yang memiliki minat khusus dengan barang tempo dulu. Mereka rela membeli meski harganya fantastis.

Ini menjadi peluang bisnis menggiurkan bagi sebagian orang. Salah satunya, Muhammd Sani Lais, warga Desa Rejosari, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Sani, barang-barang lawas tidak pernah kehilangan pasar, dan selalu menjadi buruan penggila barang lawas. Sekedar untuk koleksi atau dijual kembali dengan harga yang bisa lebih tinggi.

Baca juga: Jam Bencet, Penentu Waktu Shalat Kuno yang Masih Bertahan di Bandungan

"Barang lawas semakin hari malah menjadi trend. Peminatnya semakin banyak, tidak hanya untuk koleksi pribadi, bisnis, juga untuk dekorasi rumah, restosan dan sebagainya," ujar Sani, Sabtu (28/7/2018).

Sani berujar, mengoleksi barang kuno memiliki kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan rupiah. Sebagian ada yang membeli karena bentuknya antik, usia barang, tapi ada juga yang karena memiliki kenangan tertentu.

"Orang tidak melulu mencari barang yang lawas atau tua, tetapi barang yang mempunyai kenangan pada masa lalu orang tersebut," ujar Sani.

"Pernah ada pembeli yang saya tawari mesin ketik tua dan klasik, malah memilih mesin ketik yang lebih muda, karena pada masa remajanya mempunyai kenangan dengan mesin ketik jenis itu. Dan bisa dikatakan orang tersebut membeli kenangan,” sambung Sani.

Baca juga: Kisah Sigit Bangun Kafe Baca Unik, Sediakan Ribuan Buku Biasa hingga Buku Kuno Gratis

Sani sendiri mengaku gemar mengoleksi barang kono sejak 2003 silam. Ketika itu dirinya barumemulai dengan mengkoleksi sepeda tua. Sampai kemudian didapuk menjadi Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Koordinator Wilayah Magelang.

Kecintaannya pada sepeda kuno berkembang ke barang antik lainnya, seperti televisi, kamera tua, mesin ketik, jam dinding dan barang-barang lainnya yang identik dengan classic, vintage dan retro.

"Dari situ saya mulai berfikir untuk menjual atau bisnis dari koleksi barang-barang kuno," ucapnya.

Tidak sekedar menjual, Sani membekali diri dengan pengetahuan yang mendalam tentang setiap koleksi miliknya. Pria itu selalu mencari informasi tambahan di internet, guna sebagai refrensi sejarah barang lawasan tersebut.

"Saya ada helm tentara perang dunia pertama, terbuat dari baja, hingga magnet tidak mau nempel, dan saya carikan referensi di internet barangnya sama. Dengan demikian pembeli tidak hanya membeli barang, tetapi juga sejarahnya, karena setiap barang antik selalu punya cerita,” kisahnya.

Baca juga: Uang Kuno Bergambar Soekarno Paling Diburu Para Kolektor

Sani memaparkan, harga barang bisa terdongkrak jika barang tersebut memiliki kisah sejarah tersendiri.

Kolektor dan pedagang lainnya, Fendi, warga Dusun Brojonalan Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur, menjadikan barang kuno sebagai kesempatan bisnis cineratama bagi wisatan di Candi Borobudur.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Terkini Lainnya

Pj Gubri Ajak Pemkab Bengkalis Kolaborasi Bangun Jembatan Sungai Pakning-Bengkalis

Pj Gubri Ajak Pemkab Bengkalis Kolaborasi Bangun Jembatan Sungai Pakning-Bengkalis

Regional
Diskominfo Kota Tangerang Raih Penghargaan Perangkat Daerah Paling Inovatif se-Provinsi Banten

Diskominfo Kota Tangerang Raih Penghargaan Perangkat Daerah Paling Inovatif se-Provinsi Banten

Regional
Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com