Habitat Terganggu, Penyebab Buaya Mangsa Manusia di Banyuasin - Kompas.com

Habitat Terganggu, Penyebab Buaya Mangsa Manusia di Banyuasin

Kompas.com - 11/07/2018, 23:42 WIB
Evakuasi jenazah Alif, pemancing yang tewas dimakan buaya di kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.KOMPAS.com/ Aji YK Putra Evakuasi jenazah Alif, pemancing yang tewas dimakan buaya di kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

PALEMBANG, KOMPAS.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan ( BKSDA Sumsel) mencatat, kejadian manusia dimangsa buaya di Kabupaten Banyuasin, telah tiga kali terulang.

Terakhir, Alif (18) yang diketahui sebagai warga Desa Serong Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin, tewas dimangsa buaya saat sedang memancing di areal perkebunan sawit PT KAM Blok C, pada Minggu (8/7/2018) kemarin.

Kepala BKSDA Sumatera Selatan Genman Hasibuan mengatakan, timbulnya konflik antara manusia dan satwa liar di Banyuasin disebabkan karena habitat mereka terganggu.

Dimana sebelumnya areal perkebunan sawit itu merupakan habitat asli buaya muara, namun saat ini tempat mereka berkurang dikarenakan adanya pembangunan di kawasan sungai Rengit.

Baca juga: Cuci Tangan di Sungai, Udik Diserang Buaya Sepanjang 2 Meter 

“Wilayah Banyuasin, tidak jauh dari sungai Musi dan memang tempat habitat buaya muara. Kalau dugaan kami adanya konflik antara buaya dan manusia karena habitat mereka terganggu oleh pembangunan. Kejadian seperti ini sudah tiga kali,” kata Hasibuan, saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (11/7/2018).

Hasibuan melanjutkan, perairan sungai yang memiliki banyak ikan memang merupakan tempat habitat hidup buaya.

Namun, para pemancing sering datang untuk memancing di daerah tersebut meskipun telah mengetahui lokasi itu menjadi tempat wilayah buaya tinggal.

Sehingga, habitat buaya yang semakin minim akibat banyaknya areal perkebunan sawit sering keluar dari kawasan mereka sehingga terjadinya konflik antara buaya dan manusia.

Baca juga: Jenazah Pemancing yang Diterkam Buaya Ditemukan Tidak Utuh 

“Sebenarnya warga Sumsel sudah tahu, kalau dirawa-rawa itu memang sering ada buaya. Mestinya jangan didekati. Ditambah lagi habitat buaya disana juga semakin sempit. Misalkan, dulu 1.000 hektar, sekarang hanya tinggal berapa ratus hektar,” ujarnya.

Dari kejadian tersebut, BKSDA Sumsel akan memasang papan imbauan kepada masyarakat diberbagai tempat lokasi yang diduga menjadi habitat buaya sehingga untuk mencegah kejadian buaya memangsa manusia terulang kembali.

“Kami akan kerja sama dengan Pemkab Banyuasin dengan memasang plang imbuan. Saran saya, semestinya antara warga dan buaya berbagi ruang saja, misalkan sudah tahu itu habitat buaya jangan diganggu,” jelasnya.

Baca juga: Pawang Buaya Ikut Evakuasi Jenazah Pemancing yang Tewas 

Saat ini tim dari BKSDA Sumsel pun masih berada di lokasi kejadian untuk mencari buaya yang telah memangsa Alif. 

"Dugaan kami buaya yang memangsa manusia kemarin ukurannya sekitar 3-4 meter. Tim masih di lapangan untuk mencari buaya itu, untuk dievakuasi,” jelasnya.

Kompas TV Buaya berukuran lebih dari 2 meter awalnya ditemukan di daerah Tanjung Priok, Jakarta.


Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X