Dedi Mulyadi: Pendidikan Itu Tidak Mengenal Kaya dan Miskin

Kompas.com - 11/07/2018, 10:07 WIB
Aditya Maulana Sidik dipeluk Dedi Mulyadi dalam acara Sapa Ramadan di Kabupaten Bandung, Minggu (3/6/2018) malam. KOMPAS.com/ IRWAN NUGRAHAAditya Maulana Sidik dipeluk Dedi Mulyadi dalam acara Sapa Ramadan di Kabupaten Bandung, Minggu (3/6/2018) malam.

KOMPAS.com - Tokoh masyarakat Jawa Barat yang peduli pendidikan, Dedi Mulyadi menilai, kebijakan surat keterangan tidak mampu ( SKTM) sebagai salah satu syarat masuk sekolah negeri dan sekolah favorit adalah salah kaprah.

Akibatnya, kata Dedi, malah banyak warga membuat SKTM palsu demi anaknya bisa masuk ke sekolah negeri atau favorit. Seperti yang terjadi di Jawa Tengah.

Dedi mengatakan bahwa pendidikan itu adalah hak seluruh rakyat. Dengan demikian, pendidikan itu tidak mengenal kaya dan miskin.

"Pendidikan itu tidak mengenal kaya dan miskin. Istilah surat tidak mampu itu penyesatan. Istilah miskin dan kaya kan sudah jelas itu urusan di dinas kependudukan, bukan buat SKTM. SKTM itu kan jadul, zaman order baru," jelas Dedi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (11/7/2018).


Menurutnya, semua warga Indonesia wajib mengenyam pendidikan 12 tahun. Jika sudah disebutkan wajib, maka pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas pendidikan dan tidak mengotak-otakan antara kaya dan miskin atau berprestasi dan tidak berprestasi.

Mantan bupati Purwakarta dua periode itu menceritakan pengalamannya soal kebijakan pendidikan di daerahnya.

Baca juga: Mendusta dengan SKTM Palsu demi Sekolah Anak (1)

Dedi menjelaskan, saat sekolah SD hingga SMA masih ditangani pemerintah kota dan kabupaten, pihaknya mewajibkan semua sekolah untuk menerima siswa di sekitarnya tanpa pandang bulu. Semua siswa harus diterima baik di sekolah negeri favorit atau tidak berdasarkan asas domisili.

"Sekolah-sekolah favorit seperti SMA Negeri 1, SMA 2 dan SMA 3 dengan standardisasi nilai tertinggi, ketika sekolah masih kewenangan daerah, saya minta sekolah favorit jangan ada yang menolak siswa di kelurahan tempat sekolah tersebut," jelas Dedi.

Lalu jika sekolah tersebut tidak mampu menampung siswa, maka dibangunkan ruang kelas baru. Adapun biayanya selain dari bantuan pemerintah juga ada swadaya dari masyarakat. Sumbangan tersebut tidak ditentukan oleh sekolah, melainkan atas inisiatif masyarakat mampu melalui jalur musyawarah.

Bentuk sumbangan pun, kata Dedi, bukan dalam bentuk uang, melainkan barang dan tenaga. Ada yang menyumbang semen, besi dan bahan bangunan lainnya.

"Untuk orang tua anak-anak yang tidak mampu bisa menyumbang tenaga. Misalnya, tukang tembok tak mampu bayar, maka bisa jadi tukang tembok gratis," jelas Dedi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Mereka Menuduh Kami Lebih Kafir dari Polisi', Kata Adik Trio Bom Bali I Soal Perangnya Melawan Radikalisasi

'Mereka Menuduh Kami Lebih Kafir dari Polisi', Kata Adik Trio Bom Bali I Soal Perangnya Melawan Radikalisasi

Regional
Temui Ortu Korban Susur Sungai, Sultan HB X Sampaikan Pesan

Temui Ortu Korban Susur Sungai, Sultan HB X Sampaikan Pesan

Regional
Empat Siswa SMPN 1 Turi Sleman yang Ikut Susur Sungai Belum Ditemukan

Empat Siswa SMPN 1 Turi Sleman yang Ikut Susur Sungai Belum Ditemukan

Regional
Kesaksian Salma, Siswa SMPN 1 Turi yang Selamat Susur Sungai, Arus Deras Tiba-tiba Datang

Kesaksian Salma, Siswa SMPN 1 Turi yang Selamat Susur Sungai, Arus Deras Tiba-tiba Datang

Regional
Tak Kunjung Ada Kabar, Ibu Siswi SMPN 1 Turi: Saya Mohon Doanya

Tak Kunjung Ada Kabar, Ibu Siswi SMPN 1 Turi: Saya Mohon Doanya

Regional
Pelaku Penusukan Anak Korban Kecelakaan di Musi Rawas Serahkan Diri

Pelaku Penusukan Anak Korban Kecelakaan di Musi Rawas Serahkan Diri

Regional
Kronologi Pria di Riau Banting Sepeda Motor karena Tak Terima Ditilang Polisi

Kronologi Pria di Riau Banting Sepeda Motor karena Tak Terima Ditilang Polisi

Regional
Dilaporkan Hilang, Dokter Muda di Palembang Ini Ternyata Liburan ke Lampung

Dilaporkan Hilang, Dokter Muda di Palembang Ini Ternyata Liburan ke Lampung

Regional
Berkas Perkara Bupati Aceh Barat Duel dengan Penagih Utang Dilimpahkan ke Polda

Berkas Perkara Bupati Aceh Barat Duel dengan Penagih Utang Dilimpahkan ke Polda

Regional
Wagub Kaltim Dukung Satu Calon dalam Pilkada Samarinda 2020, Bawaslu Sebut Tak Etis

Wagub Kaltim Dukung Satu Calon dalam Pilkada Samarinda 2020, Bawaslu Sebut Tak Etis

Regional
Tinjau Proyek Tol Sigli-Banda Aceh, Jokowi: Proses Pembebasan Lahan Berjalan Baik

Tinjau Proyek Tol Sigli-Banda Aceh, Jokowi: Proses Pembebasan Lahan Berjalan Baik

Regional
Siswa SMPN 1 Turi Tewas Saat Susur Sungai, Korban Pertama Ditemukan Tersangkut Batu

Siswa SMPN 1 Turi Tewas Saat Susur Sungai, Korban Pertama Ditemukan Tersangkut Batu

Regional
Sudah Ada Peringatan Akan Turun Hujan Sebelum Siswi SMPN 1 Turi Sleman Susur Sungai

Sudah Ada Peringatan Akan Turun Hujan Sebelum Siswi SMPN 1 Turi Sleman Susur Sungai

Regional
Serahkan SK Perhutanan Sosial, Jokowi: Kalau Sudah Diberi Segera Manfaatkan

Serahkan SK Perhutanan Sosial, Jokowi: Kalau Sudah Diberi Segera Manfaatkan

Regional
Formasi CPNS untuk Dokter Spesialis Banyak yang Kosong, Ini Penyebabnya

Formasi CPNS untuk Dokter Spesialis Banyak yang Kosong, Ini Penyebabnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X