Survei LSI untuk Pilkada Sumut, Angka "Swing Voters" Tinggi hingga 33,5 Persen

Kompas.com - 27/06/2018, 07:47 WIB
Direktur CP-LSI Ade Mulyana menyampaikan hasil survei Clash of The Titans Pilkada Sumut 2018, Kamis (26/4/2018)KOMPAS.com / Mei Leandha Direktur CP-LSI Ade Mulyana menyampaikan hasil survei Clash of The Titans Pilkada Sumut 2018, Kamis (26/4/2018)

MEDAN, KOMPAS.com — Paparan Lingkaran Survei Indonesia ( LSI) Denny JA untuk Pilkada Sumatera Utara (Sumut) menyatakan bahwa pasangan calon gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah (Eramas) lebih diuntungkan pada pilkada tahun ini. 

Menurut survei LSI, suku Jawa, Melayu, dan umat Islam adalah basis massa dan kantong-kantong suara unggulan pasangan calon Eramas.

Di suku Jawa, base-nya 33,5 persen, pasangan ini pecah rekor 64,2 persen, sementara pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) hanya 17,9 persen.

Di pemilih Melayu dengan base 4,8 persen, Eramas unggul 79,3 persen dan Djoss 3,4 persen. Paling telak, di basis umat Islam, base 64,7 persen, Eramas meraih 65,2 dukungan. Apalagi, pasangan nomor urut satu ini menguasai delapan daerah pemilihan (dapil) dari 12 dapil yang ada di Sumatera Utara.


Baca juga: Faktor Jokowi atau Restu SBY-Cak Imin, Siapa Kuat di Pilkada Sumut?

"Eramas konsisten unggul di delapan dapil, sedangkan Djoss hanya di empat dapil. Pilgubsu ini berlangsung sengit, head to head, dan menjadi perhatian masyarakat Sumut," kata peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar, Selasa (26/6/2018).

Soal kemenangan Eramas di suku Jawa, Melayu, dan Islam itu, kata Rully, berdasarkan hasil survei opini publik Pilkada Gubernur Sumut 2018 yang dilakukan lembaganya pada 8 sampai 12 Juni 2018. Survei dengan metode tatap muka dan wawancara terhadap 1.000 responden ini menggunakan metode multistage random sampling.

"Margin of error sekitar 3,16 persen, hasilnya memang Eramas unggul," ucapnya.

Dijelaskannya, untuk simulasi dukungan terhadap calon gubernur, Edy top skor. Begitu pula saat pertanyaan terbuka, Edy mendapat dukungan 39,8 persen sedang Djarot berada 24,3 persen. Di simulasi tertutup, Edy juara 45,7 persen, Djarot harus puas dengan jumlah pendukung 33,8 persen.

"Pada simulasi dukungan terhadap calon wakil gubernur, Musa pun mengungguli Sihar," katanya lagi.

Baca juga: Pemprov Sumut Gelontorkan Rp 1,2 Triliun untuk Pilkada Sumut

Di sesi pertanyaan terbuka, Musa mendapat dukungan 34,2 persen, sedangkan Sihar 26,7 persen. Di simulasi tertutup, Musa unggul dengan perolehan dukungan sebesar 40,3 persen, Sihar 30,5 persen. Kalau disimulasikan secara berpasangan, Eramas ranking satu dengan 45,5 persen dukungan dan Djoss 34,7 persen.

Hasil tracking survei juga menunjukkan konsistensi kenaikan Eramas dari April 2018 sebanyak 43,3 persen menjadi 45,5 persen di Juni 2018. Sedangkan Djoss juga naik dari 33,3 persen menjadi 34,7 persen di bulan yang sama.

Dari simulasi breakdown berdasarkan gender dan usia, rata-rata mereka yang berumur, 40 persen memilih Eramas. Berdasarkan latar belakang pendidikan dan pendapatan, pun sama.

"Hanya pemilih berlatar belakang pendapatan di bawah Rp 999.000, base 20,3 persen, pemilih Eramas bersaing dengan Djoss," ucap Rully.

Baca juga: Disindir sebagai Barang Impor di Pilkada Sumut, Djarot Senyum

Ditanya kenapa Djoss begitu ketinggalan, Rully bilang, tingkat keterkenalan Djoss paling tinggi, tapi kurang disukai. Persentasenya, Djarot 91,3 persen, Edy 89,5 persen.

Sedangkan untuk calon wakil, Sihar lebih terkenal 74,0 persen ketimbang Musa 70,7 persen. Untuk tingkat kesukaan, Edy memperoleh angka 78,7 persen, Musa 74,2 persen. Sedangkan Djarot berada di angka 67,8 persen dan Sihar 63,4 persen.

"Hasil survei ini sangat kecil peluangnya untuk berubah. Kami menyimpulkan bahwa Eramas bisa menang. Meski angka swing voters tinggi yaitu 33,5 persen, tapi tidak mayoritas dikuasai Djoss," pungkas Rully.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X