Dedi Mulyadi: Saya Sudah Terbiasa Menghadapi "Black Campaign"

Kompas.com - 20/06/2018, 21:29 WIB
Cawagub Dedi Mulyadi, menerima curhatan Mak Ernah (62), seorang pemulung asal Kota Bekasi, Selasa (22/5/2018). KOMPAS.com/IRWAN NUGRAHACawagub Dedi Mulyadi, menerima curhatan Mak Ernah (62), seorang pemulung asal Kota Bekasi, Selasa (22/5/2018).

BANDUNG, KOMPAS.com - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengakui di akhir-akhir masa kampanye selama ini banyak mendapatkan serangan kampanye hitam dari tim rivalnya di Pilgub Jabar.

Namun, serangan tersebut dianggapnya sebagai ujian untuk calon pemimpin. Ia pun membuka pintu maaf bagi para pembuatnya.

"Saya sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang seperti ini. Bukan hanya hari ini, sejak zaman wakil bupati, saya terbiasa dengan isu serangan-serangan yang selalu diarahkan pada tujuan politik. Ini namanya black campaign. Tapi, dengan izin Allah SWT semuanya bisa terbongkar siapa dan apa tujuannya dengan perjalanan waktu," jelas Dedi kepada wartawan di Kabupaten Bandung Barat, Rabu (20/6/2018).

Dedi menambahkan, serangan kampanye hitam bukan kali pertama saat munculnya video dukun dadakan yang mendukung dirinya belum lama ini. Ia juga mengaku mendapat kampanye hitam lainnya seperti isu gizi buruk pada anak balita di Purwakarta.

Kemudian isu mengenai pembangunan masjid yang mangkrak hingga penghasilan tetap perangkat desa di Purwakarta. Dedi menilai, isu itu dihembuskan sebagai kampanye hitam untuk menyerangnya.

"Kemudian saya berutang Rp 35 miliar. Saya bilang aneh. Pemda ini mempunyai kontrak dengan 11 rumah sakit. Tujuannya kan mengobati masyarakat. Memang di Purwakarta setiap orang yang berobat di rumah sakit itu gratis, asal mau di kelas 3. Proses pembayarannya itu bertahap, sesuai kontrak," ucap dia.

Baca juga: Kondisi Sebenarnya Hasanudin yang Disebut Derita Busung Lapar dan Ditengok Ridwan Kamil

Selama ini, tambah Dedi, isu-isu tersebut sengaja disebarkan secara masif melalui jejaring media sosial oleh tim pesaingnya di Pilgub Jabar.

"Saya pikir untuk para calon pemimpin saat ini, marilah kita beradu program. Marilah kita beradu gagasan saja. Tidak ada gunanya sebetulnya upaya fitnah tersebur. Toh, kalau sudah terbongkar kebohongan seperti ini, publik lah yang akan menilai," tambah dia.

Terkait video dukun palsu yang mendukung pasangan Deddy-Dedi atau 2DM, Dedi menilai, kasus itu sebenarnya sudah bisa masuk ke ranah hukum.

Namun ia tidak akan mengambil jalur hukum karena mempertimbangkan kehidupan pelakunya yang merupakan seorang kakek dan memiliki keluarga. Kakek ini, kata Dedi, sejatinya tak tahu apa-apa dan hanya diperalat oleh tim pesaingnya.

Baca juga: Kakek Ini Mengaku Dibayar Jadi Dukun Dadakan untuk Kampanye Hitam di Pilgub Jabar

Diberitakan sebelumnya, Endang (75), seorang kakek mengakui telah dibayar menjadi dukun dadakan oleh sekelompok orang untuk direkam video yang diduga kampanye hitam kepada pasangan nomor urut empat di Pilgub Jabar Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

"Saya disuruh beberapa orang warga Kota Bandung untuk jadi dukun dadakan dan dibayar Rp 200 ribu. Mereka mengaku tim sukses pasangan lain, tapi saya disuruh menyebut mendukung pasangan Deddy-Dedi di gua yang sudah banyak sesajen sambil direkam," jelas Endang saat ditemui di kediamannya, Minggu (17/6/2018).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cabuli 15 Anak, Pembina Pramuka Divonis Kebiri Kimia dan 12 Tahun Penjara

Cabuli 15 Anak, Pembina Pramuka Divonis Kebiri Kimia dan 12 Tahun Penjara

Regional
Sempat Ada Penolakan, Jenazah Pelaku Bom Bunuh Diri Polresta Medan Dimakamkan Malam Hari

Sempat Ada Penolakan, Jenazah Pelaku Bom Bunuh Diri Polresta Medan Dimakamkan Malam Hari

Regional
Merokok di Dalam Pesawat Wings Air, Seorang Pria Diamankan

Merokok di Dalam Pesawat Wings Air, Seorang Pria Diamankan

Regional
Mahasiswi di Bone Tewas Usai Melahirkan, Bayinya Selamat

Mahasiswi di Bone Tewas Usai Melahirkan, Bayinya Selamat

Regional
Polisi Temukan Luka Lebam pada Mayat Perempuan Terbungkus Seprai di Makassar

Polisi Temukan Luka Lebam pada Mayat Perempuan Terbungkus Seprai di Makassar

Regional
Polemik Pembubaran Upacara Piodalan Berawal dari Kesalahpahaman

Polemik Pembubaran Upacara Piodalan Berawal dari Kesalahpahaman

Regional
Edarkan Uang Palsu Senilai Rp 20,8 Juta, Pria Lansia Ditangkap

Edarkan Uang Palsu Senilai Rp 20,8 Juta, Pria Lansia Ditangkap

Regional
Tersangka Teroris di Medan Tak Hafal Indonesia Raya dan Pancasila

Tersangka Teroris di Medan Tak Hafal Indonesia Raya dan Pancasila

Regional
Ini Cerita Pria yang Kabur Telanjang Bulat Sejauh 2 Kilometer Setelah Gagal Memperkosa Korbannya

Ini Cerita Pria yang Kabur Telanjang Bulat Sejauh 2 Kilometer Setelah Gagal Memperkosa Korbannya

Regional
Paksa Penumpang Oral Seks, Seorang Sopir Travel Ditangkap

Paksa Penumpang Oral Seks, Seorang Sopir Travel Ditangkap

Regional
Tersambar Petir, 1 Warga Ampek Nagari Tewas, 2 Orang Terluka

Tersambar Petir, 1 Warga Ampek Nagari Tewas, 2 Orang Terluka

Regional
Anak Keduanya Langsung Dapat Akta Kelahiran, Gibran Puji Layanan Publik di Solo

Anak Keduanya Langsung Dapat Akta Kelahiran, Gibran Puji Layanan Publik di Solo

Regional
Dedi Mulyadi: Pilkada Langsung Rawan Politik Uang, Memang Pilkada oleh DPRD Tidak?

Dedi Mulyadi: Pilkada Langsung Rawan Politik Uang, Memang Pilkada oleh DPRD Tidak?

Regional
Kekeringan, Warga Berjuang Mengais Air dari Lubang Tanah

Kekeringan, Warga Berjuang Mengais Air dari Lubang Tanah

Regional
Polisi Bekuk Bendahara dan 2 Perakit Bom Kelompok Teroris di Medan

Polisi Bekuk Bendahara dan 2 Perakit Bom Kelompok Teroris di Medan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X