Kamis Sore, Tim Observatorium Bosscha Lakukan Pengamatan Hilal di Lembang - Kompas.com

Kamis Sore, Tim Observatorium Bosscha Lakukan Pengamatan Hilal di Lembang

Kompas.com - 14/06/2018, 15:51 WIB
salah satu pengunjung tengah mencoba melihat langit melalui teleskop zeiss, yang merupakan salah satu teleskop di observatorium bosscha.KOMPAS.com/AGIEPERMADI salah satu pengunjung tengah mencoba melihat langit melalui teleskop zeiss, yang merupakan salah satu teleskop di observatorium bosscha.

BANDUNG, KOMPAS.com - Hari ini, Kamis (14/6/2018), Tim Observatorium Bosscha akan melaksanakan pengamatan hilal di Lembang, Jawa Barat.

Pengamatan akan dilakukan menjelang sore hari hingga Bulan terbenam guna memverifikasi interpretasi data astronomis posisi Bulan.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Bulan akan diamati terbenam 36 menit 43 detik setelah (menyusul) Matahari.

Baca juga: Lika-liku Para Perukyat Menyingkap Hilal

Berdasarkan kondisi tersebut, dikombinasikan dengan posisi projektif Bulan yang dekat dengan Matahari (elongasi sekitar 9,24°), dan iluminasi rendah (0,66%), maka Bulan sulit diamati dengan mata telanjang.

"Observatorium Bosscha akan menggunakan bantuan teleskop optik dalam pengamatan ini," kata Kepala Observatorium Boscha Premana Wardayanti Premadi, Kamis (14/6/2018).?

Di Indonesia, pihak yang berwenang menentukan awal Ramadhan dan Syawal adalah pemerintah Republik Indonesia melalui proses sidang itsbat.

Baca juga: Hilal dalam Masa Depan Bumi dan Bulan

"Tugas Observatorium Bosscha adalah menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian tentang hilal kepada unit pemerintah yang berwenang jika diperlukan sebagai masukan untuk sidang itsbat. Masyarakat dapat mengakses data dan hasil pengamatan hilal di website Observatorium Bosscha," kata wanita yang akrab dipanggil Nana ini.

Pengamatan Bulan sabit muda yang dilakukan Observatorium Bosccha dilakukan hampir setiap bulan. Namun Bulan sabit yang ingin diamati pada tanggal 14 Juni 2018 ini adalah Bulan sabit penanda beralihnya bulan Ramadhan ke bulan Syawal dalam kalender Hijriyah 1439 H.

Menurutnya, Kalender Hijriyah merupakan sistem penanggalan yang mengacu kepada siklus periodik fase Bulan.

Baca juga: Hilal Di Bawah Ufuk, Apa Artinya dalam Penentuan Awal Bulan Puasa?

Urutan kemunculan fase Bulan digunakan sebagai penanda waktu dan periode dalam kalender lunar (Bulan sabit sebagai penanda awal atau akhir bulan dan Bulan purnama menandakan pertengahan).

"Satu bulan pada kalender lunar ditetapkan sebagai panjang waktu atau periode satu siklus Bulan mengeliling Bumi, yakni selama rata-rata 29,53 hari (disebut periode Sinodis)," jelasnya.

Penghitungan hari dalam kalender Hijriyah sendiri dimulai saat Matahari terbenam dan penetapan awal bulan pada kalender Hijriyah dimulai setelah terjadi konjungsi.

Baca juga: Karena 3 Faktor, Hilal Gagal Terpantau di Kudus

"Konjungsi adalah saat posisi Bulan dan Matahari berada pada posisi garis bujur ekliptika yang sama," jelasnya.

Konjungsi ditetapkan sebagai batas astronomis antara bulan yang sedang berlangsung dengan bulan berikutnya dalam sistem kalender lunar.

Pada saat konjungsi, Matahari, Bulan, dan Bumi dalam konfigurasi segaris sehingga Bulan berada pada fase Bulan mati diamati dari permukaan Bumi.

Baca juga: Tentukan Awal Ramadhan, Kemenag Pantau 59 Titik Hilal di 34 Provinsi

"Peralihan bulan dalam kalender Hijriyah menjadi menantang ketika kita masukkan faktor “melihat” atau “sighting” bulan sabit setelah konjungsi terjadi sebagai kriteria," katanya.

Menurutnya, teramatinya bulan sabit muda yang tipis secara astronomis merupakan kombinasi dari banyak faktor penentu, antara lain, posisi relatif Bulan terhadap matahari dari posisi tertentu permukaan Bumi, usia Bulan, porsi kecerahan Bulan (iluminasi), dan tentu saja kondisi langit dan cuaca di sekitar horison.

Kompas TV Pemerintah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1439 Hijriah jatuh pada Kamis (17/5/2018).


Komentar
Close Ads X