Masjid Gogodalem, Jejak Peninggalan Wali Nitinegoro di Semarang - Kompas.com

Masjid Gogodalem, Jejak Peninggalan Wali Nitinegoro di Semarang

Kompas.com - 14/06/2018, 11:53 WIB
Masjid Attaqwa di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang termasuk masjid tertua di Kabupaten Semarang. Konon masjid yang masih mempertahankan struktur aslinya, yakni kayu jati ini dibuat di zaman Sunan Kalijaga.KOMPAS.com/Syahrul Munir Masjid Attaqwa di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang termasuk masjid tertua di Kabupaten Semarang. Konon masjid yang masih mempertahankan struktur aslinya, yakni kayu jati ini dibuat di zaman Sunan Kalijaga.

UNGARAN, KOMPAS.com - Masjid- masjid tua banyak bertebaran di wilayah Kabupaten Semarang.

Itu menandakan jejak penyebaran agama Islam di Bumi Serasi ini mempunyai akar sejarah yang kuat.

Salah satunya di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten semarang. Masjid di desa yang berbatasan dengan wilayah Grobogan ini, sebagian masih mempertahankan konstruksi aslinya, yakni kayu jati.

Masjid At-Taqwa namanya. Konon merupakan masjid tertua di Kabupaten Semarang.

Baca juga: Bripka Wawan, Polisi yang Fotonya Viral Saat Tertidur Setelah Bertugas di Tol Cipali

 

Meski nampak luar, bangunan masjid sudah mendapatkan sentuhan moderen berupa struktur dinding tembok, namun bangunan inti masjid masih asli.

"Kalau ditanya tahunnya, kami tak bisa menjawab. Tapi bangunan masjid ini masih asli dan sudah lama sekali berdirinya," Kata Ahsin (60), Imam Masjid At-Taqwa, Rabu (13/6/2018).

Seperti halnya bagunan masjid Jawa kuno, Masjid Attaqwa ini berupa joglo dengan empat soko guru. Uniknya, umpak atau alas dari soko guru tersebut adalah balok kayu utuh.

Pada salah satu sisinya, terdapat sebuah tangga kayu menuju puncak Mustaka.

Pada puncak mustaka inilah terdapat jendela pada keempat sisinya yang dulu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan.

Ahsin mengungkapkan, dahulu dinding masjid seluruhnya terbuat dari papan kayu jati. Namun sekarang sudah berganti menjadi tembok.

Sedangkan papan-papan kayu jati digunakan untuk lantai eternit ruangan mustaka masjid.

Wilayah Desa Gogodalem sejak dulu memang dikelilingi hutan jati, sehingga kayu menjadi unsur utama sebuah bangunan.

Seperti halnya masjid Attaqwa, banyak kayu utuh atau lonjoran yang digunakan.

"Seperti blandar masjid ini lonjoran sebatang kayu tanpa sambungan dan uniknya tidak dipaku. Ini masih asli," katanya.

Baca juga: Masjid Menara Kudus, Saksi Hidup Toleransi dari Masa ke Masa (1)

Bedug tua di Masjid Attaqwa di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Masjid ini termasuk masjid  tertua di Kabupaten Semarang. Konon masjid yang masih mempertahankan struktur aslinya, yakni kayu jati ini dibuat di zaman Sunan Kalijaga.KOMPAS.com/Syahrul Munir Bedug tua di Masjid Attaqwa di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Masjid ini termasuk masjid tertua di Kabupaten Semarang. Konon masjid yang masih mempertahankan struktur aslinya, yakni kayu jati ini dibuat di zaman Sunan Kalijaga.
Peninggalan lain yang ada di masjid ini adalah sebuah bedug berukuran besar. Bedug ini konon dibuat dari satu batang kayu jati yang dipotong menjadi tiga bagian.

Bagian bonggolnya menjadi bedug di sebuah masjid di Pringapus, Kabupaten Semarang dan bagian paling ujung menjadi bedug di Masjid Agung Demak.

"Bagian yang tengah, itu yang jadi bedug di Masjid Gogodalem," imbuhnya.

Kepala Dusun Kauman, Samudi mengatakan, keberadaan Masjid Attaqwa ini tidak lepas dari Simbah Wali Nitinegoro, seorang aulia yang menyebarkan agama Islam di Desa Gogodalem dan desa-desa sekitarnya.

Konon, Nitinegoro adalah putera dari Bupati Karewelang–Kaliwungu Kendal yang silsilah keturunannya sampai kepada Sunan Kalijaga.

Dalam menyebarkan agama Islam, Simbah Wali Nitinegoro dibantu beberapa sahabatnya, antara lain Simbah Jamaludin dan Simbah Marto Ngasono.

Kitab Blawong atau Al Quran tulisan tangan Simbah Jamaludin, salah satu peninggalan kuno di Masjid Attaqwa Desa Gogodalem. Kitab suci bersampul kulit ini dibuka dan dibaca setiap tanggal 20 Syaban.KOMPAS.com/Syahrul Munir Kitab Blawong atau Al Quran tulisan tangan Simbah Jamaludin, salah satu peninggalan kuno di Masjid Attaqwa Desa Gogodalem. Kitab suci bersampul kulit ini dibuka dan dibaca setiap tanggal 20 Syaban.
Simbah Jamaludin menulis Al Quran dengan tulisan tangan yang disebut sebagai Kitab Blawong.

Kitab suci Al Quran tulisan tangan ini diberi sampul kulit dan hanya dibuka serta dibaca setahun sekali, setiap 20 Sya'ban bersamaan dengan Haul Waki Nitinegoro.  

"Al Quran Blawong ini lebih tebal, sampulnya dari kulit. Dibacanya setiap tanggal 20 Sya'ban," kata Samudi.

Selain ketiga nama ini, sosok lainnya yang berkitan dengan keberadaan Masjid Attaqwa adalah Raden Bagus Mertowongo.

Konon ia adalah salah satu tokoh yang pernah bersingguhan dengan Sunan Kalijaga.

"Makamnya para aulia ini ada di bukit Sentono," ujarnya.

Baca juga: Selama Ramadhan, Sepatu Mahal di Masjid UEA Jadi Incaran Pencuri

Sayangnya, kisah mengenai sejarah masjid ini hanya mengandalkan cerita turun-temurun, lantaran minimnya literasi sejarah masjid ini.

Meski demikian, masyarakat sangat menghormati tradisi dan peninggalan para wali ini. Salah satunya dengan mempertahankan struktur masjid lama, Kitab Al Quran Blawong, dan kompleks makam kuno di Bukit Sentono.

Kini, baik masjid maupun kompleks makam kuno Bukit Sentono menjadi salah satu bagian dari wisata religi Kabupaten Semarang.

Banyak peziarah, baik dari dalam maupun luar kota yang datang ke Desa Gogodalem untuk napak tilas dan mendapatkan berkah keramat dari para wali dan peninggalannya ini.


Komentar
Close Ads X