Hias Jalan Kampung Jelang Lebaran, Tradisi Unik Warga Trenggalek - Kompas.com

Hias Jalan Kampung Jelang Lebaran, Tradisi Unik Warga Trenggalek

Kompas.com - 13/06/2018, 23:09 WIB
Suasana jalan lingkungan di Dusun Krajan desa Melis Kecamatan Gandusari Trenggalek, dengan hiasan kain aneka warna, Rabu (13/06/2018).KOMPAS.com/Slamet Widodo Suasana jalan lingkungan di Dusun Krajan desa Melis Kecamatan Gandusari Trenggalek, dengan hiasan kain aneka warna, Rabu (13/06/2018).

TRENGGALEK, KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 H warga masyarakat Trenggalek di Jawa Timur menghias kampungnya masing-masing sehingga terlihat semarak.

Pantauan Kompas.com pada Rabu (13/6/2018), hampir seluruh jalanan kampung di Kabupaten Trenggalek dihias dengan kain aneka warna serta lampion.

Menghias jalanan kampung jelang Lebaran memang sudah menjadi tradisi tahunan bagi warga masyarakat Trenggalek. Dengan hiasan tersebut, diharapkan suasana Lebaran jadi lebih semarak.

Tradisi menghias jalanan kampung ini juga menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Bahan kain yang digunakan untuk mengjias jalanan juga semakin modern.

Misal dengan menggunakan kain warna-warni yang dibentuk sedemikian rupa serta ditambah pernik-pernik sesua kreativitas masing-masing kampung.

Baca juga: 5 Tradisi Unik Ramadhan di Nusantara

Salah satu kampung yang dikunjungi Kompas.com adalah Dusun Krajan di Desa Melis, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Di dusun ini, jalan kampung sepanjang 200 meter menjadi cantik oleh hiasan. 

Muhammad Umar, Kepala Dusun Krajan, mengatakan bahwa alasan menghias jalanan kampungnya dengan penjor (hiasan) berbahan kain warna-warni adalah agar kampungnya terlihat lebih meriah dan semarak.

Untuk menambah keindahan, lampion beragam bentuk serta lampu hias juga dipasang. Tujuannya agar penjor terlihat lebih indah apabila dilihat pada malam hari.

”Setiap tahun pernik yang kami tambahkan selalu berbeda, terkadang lampion berbentuk bola maupu bentuk kotak. Tahun ini kami tambahkan lampu hias,” ujar Muhammad Umar.

Dia mengaku, anggaran yang dihabiskan untuk membuat penjor sekitar Rp 10 juta - Rp 15 juta. Dana tersebut hasil iuran dari warga setiap dusun. Untuk pengerjaan pembuatan dan pemasangan hiasan, dikerjakan oleh warga secara gotong royong.

“Untuk jalan sepanjang 200 meter, kami menghabiskan bahan kain sekitar 100 meter lebih per warna kain. Kami tambah aksen anyaman di bagian atas yang melintang jalan,” imbuh Muhammad Umar.

Baca juga: Jelang Lebaran, Warga di Pamekasan Cat Kuburan dengan Warna-warni

Khusus tahun ini, rangka penjor menggunakan besi yang lebih kokoh ketimbang menggunakan bambu pada tahun lalu. Lagipula, menurut Muhammad Umar, bambu saat ini sulit didapat. 

Menurut dia, proses pembuatan dan pemasangan penjor ini sudah disiapkan sejak awal bulan puasa. Targetnya, pada saat malam takbir sudah terpasang semua penjor. Penjor warna-warni yang indah diharapkan membawa kesan bagi pemudik maupun warga ketika merayakan Lebaran.

Tradisi menghias jalanan kampung di Dusun Krajan sudah berlangsung lama. Awal mulanya, hiasan penjor hanya menggunakan kertas warna. Kemudian, sempat menggunakan janur kuning dan terakhir menggunakan kain aneka warna. 

“Sekitar lima tahun lalu kami mulai menggunakan bahan kain untuk penjor sampai sekarang. Sebelumya, kami hanya menggunakan kertas warna maupun janur kuning dari plastik,” terang Muhammad Umar.

Kompas TV Memasuki liburan panjang Idul Fitri, sejumlah tempat wisata menjadi tujuan bagi wisatawan. Salah satunya di Bukit Karang Sentono Gentong di Jawa Timur.


Komentar
Close Ads X