Minggu Pukul 22.14 Wita, Gunung Agung Kembali Meletus - Kompas.com

Minggu Pukul 22.14 Wita, Gunung Agung Kembali Meletus

Kompas.com - 10/06/2018, 22:53 WIB
Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi dengan latar belakang Gunung Agung yang mengeluarkan asap saat Hari Raya Nyepi tahun Caka 1940 di Jalan Tol Bali Mandara, Badung, Bali, Sabtu (17/3/2018). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjamin kelancaran umat Hindu yang menjalani catur brata penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan), dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi dengan latar belakang Gunung Agung yang mengeluarkan asap saat Hari Raya Nyepi tahun Caka 1940 di Jalan Tol Bali Mandara, Badung, Bali, Sabtu (17/3/2018). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjamin kelancaran umat Hindu yang menjalani catur brata penyepian atau tidak menggunakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelanguan), dan tidak bekerja (amati karya) selama 24 jam.

DENPASAR, KOMPAS.com - Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, kembali meletus pada Minggu (10/6/2018) malam.

Berdasarkan laporan resmi pos pantau Gunung Agung letusan terjadi pukul 22.14 Wita. Laporan ini juga menyebutkan tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 1 menit 58 detik.

Dari sinyal seismik yang terekam, kemungkinan erupsi ini berskala rendah. Angin mengarah ke Barat.

Sehingga jika terjadi hujan abu kemungkinan melanda sektor sebelah Barat Gunung Agung.

Saat ini, Gunung Agung berada pada Status Level III (Siaga). Pada status ini, kepada masyarakat di sekitar Gunung Agung, pendaki, pengunjung dan wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual.

Selain itu, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

Ancaman itu dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X