Kisah Pramoedya Ananta Toer Sempat Lupa pada Adik Sendiri setelah 13 Tahun Dipenjara (4)

Kompas.com - 06/06/2018, 08:24 WIB
Soesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore. KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTOSoesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore.

BLORA, KOMPAS.comSoesilo Toer (81), pria sepuh yang sehari-hari memulung di sudut perkotaan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tepekur. Pandangannya jauh melampaui tembok rumah warisan orangtuanya yang ditempatinya saat ini.

Di rumah itu, kenangan bersama kedelapan saudaranya berkelebat setiap hari.

Soes adalah anak ketujuh dari sembilan Toer bersaudara, putra-putri pasangan Mastoer dan Siti ‎Saidah. Kakak sulungnya adalah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan dan penulis tersohor Indonesia yang kiprahnya diakui dunia.

Baca juga: Kisah Soesilo Toer, Adik Pramoedya Ananta Toer yang Bergelar Doktor dan Kini Jadi Pemulung (1)

Pramoedya lalu beradikkan Prawito Toer, Koenmarjatoen Toer, Oemi Sjafaatoen Toer, Koesaisah Toer, Koesalah Soesbagyo Toer, Soesilo Toer, Soesetyo Toer, dan Soesanti Toer.
Saat ini, tinggal Soes dan kakaknya, Koesaisah, yang menetap di Jakarta.

Soes yang merupakan lulusan doktor bidang politik dan ekonomi di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov Uni Soviet (sekarang Rusia) mengenang Pram sebagai ‎sosok yang idealis dan pemberani.

Pramoedya, keras tetapi lembut

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pramoedya Ananta Toer.KOMPAS/JOHNNY TG Pramoedya Ananta Toer.
Pram, baginya, adalah sosok pejuang Indonesia yang bercita-cita tinggi untuk kejayaan nusa dan bangsanya.

"Apa yang dilakukan Pram ‎membuktikan betapa besar cintanya kepada Tanah Air dan bangsanya, betapa tinggi rasa solidaritasnya kepada sesama umat yang tertindas. Hati nuraninya terpanggil demi kebenaran, keadilan, dan kemerdekaan," kata Soes saat ditemui di kediamannya, Kamis (31/5/2018).

"Kondisi Indonesia saat itu bagi Pram merupakan kenyataan hidup yang pahit dan menyakitkan.‎ Bangsa besar yang kacau dengan kekayaan alam yang besar, namun (kerap melakukan) impor," tambah dia.

Baca juga: Kisah Soesilo Toer Dituding PKI, Jadi Pemulung Lalu Bangun Perpustakaan untuk Sang Kakak (2)

Melalui tulisan, lanjut Soes, Pram bertarung melawan pusaran sejarah karena Pram tidak mau dilindas sejarah. Pram terus berjuang melawan ketidakadilan.

"‎Pram tidak mau menjadi gabus yang dipermainkan ombak di tengah samudera sejarah dan setelah itu takluk terhempas menjadi sampah di pantai. P‎ram adalah sejarah yang selalu bertabrakan muka dengan sejarah resmi yang dibuat negara," ungkapnya.‎

Sebagai saudara tertua, bagi Soes, ‎Pram merupakan orangtua yang berjasa‎ besar bagi perjalanan hidupnya. Soes ditinggal sang ibu sejak berumur 4 tahun. Kemudian sang ayah juga berpulang.

Sejak SMP, Soes ikut Pram ke Jakarta. Dari situlah banyak kenangan yang sulit terlupakan bagi Soes.

Pram, lanjut dia, berwatak keras seperti ayahnya yang seorang guru. Berkali-kali Soes mendapat perlakuan kasar dari Pram karena ulahnya yang bandel. Meski demikian, Pram sangat mencintai Soes.

"Saya waktu kecil pernah naik sepeda di gang sempit. Saat itu saya tak sengaja menabrak anak kecil‎ hingga ia jatuh ke parit. Kejadian itu sampai ke telinga Pram hingga Pram mengajak saya bertemu orangtua anak kecil itu. Pram memukul saya berkali-kali di‎ hadapan orangtua anak itu. Saat itu saya terpaksa meminta maaf padahal saya tidak salah," kata Soes.

Baca juga: Kisah Soesilo Toer Mengenang Pramoedya Ananta Toer, Cinta Tanah Air dan Islam Tulen (3)

Sesampai di rumah, Soes diinterogasi oleh Pram. Karena melihat Soes yang berkali-kali tak mengaku bersalah, Pram pun luluh.‎

Meski demikian‎, lanjut Soes, Pram tidak meminta maaf. Namun, dia mempunyai cara lain untuk menghibur adik kesayangannya itu.

"Mengetahui saya tak bersalah, Pram kemudian memeluk saya berkali-kali. Ia mengajak saya jajan, nonton bioskop dan mengelus-ngelus kepala saya di atas becak," kata Soes.

 

BERSAMBUNG: Sempat lupa adik sendiri setelah 13 tahun dipenjara...

 

Soesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore. KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO Soesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore.
Gara-gara dituding PKI

Sepulang dari Rusia, Soes mengaku kangen dengan Pram. Sudah belasan tahun mereka tak bertemu. Saat itu, Pram dijebloskan dalam penjara karena dituding antek komunis.

Ternyata, Soes yang baru saja menginjakkan kaki di bandara di Jakarta juga langsung diseret ke jeruji besi. Tuduhannya sama. Soes dituding sebagai antek komunis hanya karena belajar ekonomi dan politik dari Rusia.‎ Plus, dia juga adik Pramoedya. Enam tahun lamanya dia dipenjara.

"13 tahun kami tak bertemu. S‎aya keluar penjara dan Mas Pram belum. Begitu Mas Pram keluar penjara, banyak warga yang ingin mengucapkan selamat. Banyak sekali yang mengantre saat itu, termasuk saya," kata Soes.‎

"Namun, saat nyaris giliran saya bersalaman dengan Pram, saya langsung berlari tinggalkan antrean. Saya kan cengeng. Waktu itu saya melihat Pram seperti tak mengenaliku. Pram yang akhirnya ‎diberitahu jika aku adalah adiknya langsung berlari mengejarku. Ia memelukku dan menangis. Dalam pelukan saya berbisik, 'Kamu bilang aku adalah adik kesayanganmu, tapi kenapa kau tak mengenaliku'. Pram semakin erat memelukku," lanjut dia.

Baca juga: Kisah Perjalanan Politik Bupati Purbalingga, dari Sopir Truk hingga Ditangkap KPK

‎Meski paling nakal di antara saudara yang lain, Soes mengaku, dia dinilai sebagai adik Pram yang paling dibanggakan. Sebab, Soes mengantongi gelar paling tinggi dibanding saudaranya yang lain.

Kebanggaan Pram itu dituangkan dalam buku berjudul Nyanyian Sunyi Seorang Bisu. Buku itu ditulis Pram di Pulau Buru.‎

Soes mengakui bahwa Pram begitu sangat berarti baginya. Pram menempa kepribadiannya yang cengeng menjadi berkarakter kuat untuk melawan kerasnya kehidupan.‎

Saking sayangnya Pram kepada Soes, bahkan secara diam-diam‎ Pram titip kepada salah seorang temannya supaya membantu Soes di Rusia apabila tertimpa kesusahan.

"Pram berpesan kepada temannya, Benedict Anderson, salah satu tokoh yang mengemukakan konsep nasionalisme untuk membantu saya. Saat di Rusia, meski saya makmur,‎ terkadang Benedict Anderson menyelipkan uang ketika mengirim data dari Indonesia ke Rusia. Benedict Anderson itulah yang membantu menyelesaikan disertasi. Dia yang mengirim data-data dari Indonesia. Saya menghargai jasanya dan memberi nama anak saya Benee. Saya kemudian sisipkan nama Jawa, Santoso. Jadilah Benee Santoso nama anak saya," ‎pungkasnya.

Pram juga sangat menyayangi keluarga besarnya. Pram sempat pernah berkeinginan memperbaiki rumah keluarganya di Blora dan mempercantik pusara orangtuanya.

"Sayang keinginan itu tidak kesampaian karena perbedaan pendapat di keluarga. Pram mudah marah," pungkas Soes.‎

 

BERSAMBUNG: Kisah Rumah Masa Kecil Pramoedya Ananta Toer yang Rusak dan Bocor di Mana-mana (5)



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringati WCD, Dompet Dhuafa Bersama Tabur BankSa Tanam 1.000 Pohon Bakau

Peringati WCD, Dompet Dhuafa Bersama Tabur BankSa Tanam 1.000 Pohon Bakau

Regional
Jelang PON XX Papua, Kodam Cenderawasih Gencar 'Jemput Bola' Vaksinasi Warga

Jelang PON XX Papua, Kodam Cenderawasih Gencar "Jemput Bola" Vaksinasi Warga

Regional
Tangsel Raih Anugerah Parahita Ekapraya, Walkot Benyamin: Ini Bentuk Komitmen Wujudkan Kesetaraan Gender

Tangsel Raih Anugerah Parahita Ekapraya, Walkot Benyamin: Ini Bentuk Komitmen Wujudkan Kesetaraan Gender

Regional
Lewat '1000 Baju Baru', Dompet Dhuafa Penuhi Kebutuhan Pakaian Muslim Yatim Piatu

Lewat "1000 Baju Baru", Dompet Dhuafa Penuhi Kebutuhan Pakaian Muslim Yatim Piatu

Regional
Dukung Penanggulangan Covid-19, YPMAK Serahkan Bantuan kepada PMI Pusat

Dukung Penanggulangan Covid-19, YPMAK Serahkan Bantuan kepada PMI Pusat

Regional
Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Regional
Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Regional
Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Regional
Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Regional
Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Regional
Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Regional
Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Regional
Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Regional
Vaksinasi di Madiun Capai 77 Persen, Wali Kota Maidi: Akhir September Bisa 80 Persen

Vaksinasi di Madiun Capai 77 Persen, Wali Kota Maidi: Akhir September Bisa 80 Persen

Regional
Soal APBD Rp 1,6 Triliun di Bank, Bobby: Segera Dimaksimalkan untuk Gerakkan Ekonomi Medan

Soal APBD Rp 1,6 Triliun di Bank, Bobby: Segera Dimaksimalkan untuk Gerakkan Ekonomi Medan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.