Gunung Merapi di Era Media Sosial - Kompas.com

Gunung Merapi di Era Media Sosial

Kompas.com - 01/06/2018, 11:39 WIB
Petugas memantau aktivitas kondisi Gunung Merapi pasca kenaikan status dari normal menjadi waspada dengan radio komunikasi di kawasan Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (22/5). Akibat meningkatnya status Gunung Merapi, BPPTKG mengimbau masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana III untuk meningkatkan kewasapadaan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ama/18.ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko Petugas memantau aktivitas kondisi Gunung Merapi pasca kenaikan status dari normal menjadi waspada dengan radio komunikasi di kawasan Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (22/5). Akibat meningkatnya status Gunung Merapi, BPPTKG mengimbau masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana III untuk meningkatkan kewasapadaan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ama/18.

GUNUNG Merapi tidak pernah kehilangan keelokan dan keanggunannya. Ia sangat indah dan menawan untuk dipandang, gagah sekaligus memesona siapa saja.

Gemericik air sungai, segarnya mata air, hutan yang lebat, tanah yang subur, dan alam yang indah telah menghidupi ratusan ribu masyarakat yang tinggal di kaki-kakinya. Namun, Gunung Merapi juga kadang kala garang menantang dan terkesan menjadi ancaman bagi hidup dan kehidupan masyarakat.

Sisi inilah yang saat ini diperlihatkan oleh Merapi kepada masyarakat sejak kenaikan status dari “Aktif” menjadi "Waspada" pada 22 Mei 2018. Siklus aktivitas Merapi meliputi Aktif Normal, Waspada, Siaga, dan Awas.

Upaya untuk mempersiapkan lokasi evakuasi warga sudah dilakukan dengan sigap oleh masyarakat ataupun pemerintah setempat. Penampungan sementara pun sudah dipersiapkan berikut logistiknya.

 

Bahkan, pemerintah pusat sudah mengirimkan Menteri Sosial untuk berkunjung ke Sleman beberapa waktu yang lalu dan menjanjikan dana bantuan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani juga menegaskan kesiapan pemerintah menghadapi berbagai skenario Merapi.

Baca juga: Merapi Kembali Meletus dengan Tinggi Kolom 6.000 Meter

 

Sampai saat ini warga tetap bertahan di rumah masing-masing, dengan berbagai alasan, yakni untuk menjaga aset kehidupannya, baik ternak, harta benda, dan sebagainya. Maupun keyakinan bahwa belum ada tanda-tanda dari alam dari perilaku Merapi maupun instruksi dari pimpinan daerah dan bahwa warga perlu mengungsi.

Pemerintah pun tidak lagi memaksakan kehendaknya dengan meminta warga untuk mengungsi. Di era media sosial saat ini, segala perkembangan atas aktivitas Merapi dapat diakses di berbagai kanal khususnya yang dikelola oleh BPPTK.

Pada tahun-tahun sebelumnya terutama sebelum letusan dahsyat pada 2010, terlihat ada gap dan perbedaan antara sikap dan keyakinan masyarakat dengan pemerintah.

Pemerintah menganggap tanda-tanda yang ditangkap dengan teknologi modern oleh BPPTK (Balai Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kegunungapian) adalah yang paling benar dan otoritatif sehingga masyarakat harus segera dievakuasi ketika ada gejala kenaikan aktivitas Merapi.

Di sisi lainnya, masyarakat berpegang pada pengalaman, kearifan masyarakat, dan tanda-tanda alam tentang perlu tidaknya mengungsi, walaupun data pengamatan dari BPPTK pun tetap mereka perhatikan.

 

Dulunya, pemerintah secara kaku berpegang pada data pengamatan dari BPPTK dan sangat kurang mengakomodasi kearifan lokal, kultur, dan keyakinan masyarakat setempat.

Akan tetapi kondisi saat ini sudah berbeda, ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat, khususnya melalui media sosial yang memungkinkan warga dan pemerintah saling berbagi informasi.

Menengok ke belakang, dalam peristiwa letusan Gunung Merapi 22 November 1994, masyarakat memang mengandalkan tanda-tanda dari alam untuk mengungsi dan menyelamatkan diri karena waktu itu bisa dikatakan peralatan peringatan dini milik BPPTK kurang optimal. Misalnya, sirine yang seharusnya berbunyi sebagai tanda peringatan bagi warga tapi tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Demikian pula pada letusan Februari 2001, inisiatif wargalah yang membuat warga waspada. Pun dengan letusan pada 2006, warga masih memegang kuat "tanda-tanda" alam untuk menentukan waktu untuk mengungsi.

Kondisi berbeda terjadi pada letusan dahsyat pada 2010 yang menelan banyak korban jiwa – termasuk Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Marijan - serta berdampak masif dan luas, karena adanya peningkatan status yang sangat cepat dan adanya keyakinan dari sebagian orang bahwa wilayahnya aman dari erupsi.

Baca juga: Letusan Merapi Mengarah ke Utara dan Selatan, Waspadai Hujan Abu

 

Padahal, waktu itu, otoritas pemerintah setempat sudah menggerakkan warga agar segera mengungsi. Kejadian 2010 harus dijadikan pelajaran agar tidak kembali terulang. Di era modern, ketika ilmu pengetahuan sudah lebih baik dalam memprediksi dan mempelajari perilaku Merapi, instruksi pemerintah dalam konteks mitigasi bencana tak boleh diabaikan. 


Hubungan manusia dan Merapi

Dalam kosmologi Jawa, Gunung Merapi dipandang sebagai mikrokosmos dan manusia adalah makrokosmos. Gunung Merapi hanya terdiri atas unsur api, yang tidak bisa dipisahkan dengan unsur air (Pantai Selatan), dan unsur udara (Keraton Yogyakarta), dikenal sebagai poros Merapi-Keraton-Laut Selatan.

Unsur air, api, dan udara ada pada diri manusia, sehingga dalam hal ini manusia lebih sempurna daripada Gunung Merapi. Namun, dalam hal hubungan antara masyarakat setempat dan Gunung Merapi, terlihat dari pola kehidupan masyarakat bahwa manusia "tunduk" pada Gunung Merapi.

Hal ini terlihat pada sikap dan tindakan masyarakat yang tidak merumput di wilayah yang angker, tidak memindahkan batu atau material sembarangan, tidak berburu binatang tertentu, pantang untuk membakar hutan, pantang untuk berbicara sembarangan di Merapi, maupun tidak membangun rumah menghadap ke Merapi.

 

Walaupun terkesan sebagai mitos, namun pola tersebut memiliki manfaat dalam mitigasi bencana secara natural. Misalnya, tidak merumput di wilayah angker karena biasanya daerah tersebut rawan terhadap bencana Merapi maupun sebagai wilayah lindung yang memang khusus untuk tanaman keras atau konservasi.

Sejumlah warga berdoa bersama dan menghidangkan 12 macam nasi tumpeng dan tujuh obor saat Tradisi Ngetoke di Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (24/5). Tradisi yang telah dilakukan turun temurun oleh warga setempat yang bertempat tinggal sekitar 3.5 km dari puncak Gunung Merapi itu bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa jika terjadi erupsi Gunung Merapi. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/kye/18. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho Sejumlah warga berdoa bersama dan menghidangkan 12 macam nasi tumpeng dan tujuh obor saat Tradisi Ngetoke di Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (24/5). Tradisi yang telah dilakukan turun temurun oleh warga setempat yang bertempat tinggal sekitar 3.5 km dari puncak Gunung Merapi itu bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa jika terjadi erupsi Gunung Merapi. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/kye/18.
Kebiasaan tidak berburu binatang karena binatang bisa dipakai sebagai tanda-tanda akan aktivitas Gunung Merapi. Rumah tidak menghadap Merapi supaya ketika Merapi meletus penghuni bisa langsung evakuasi secara cepat ke arah selatan, misalnya untuk masyarakat di wilayah Sleman. Akan tetapi, mitos-mitos itu saat ini mulai luntur.

Kultur maupun kearifan tradisional masyarakat, ditopang oleh kesadaran untuk "mendengarkan" dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan modern, adalah sebuah aset yang berharga karena terbukti mampu untuk memitigasi bencana gunung api.

Berkat kearifan tradisional, maka lingkungan alam Merapi tetap lestari dan terhindar dari perusakan serta overeksploitasi sumber daya alam oleh sebagian pihak. Berangsur-angsur, pemerintah memandangnya secara positif dan menganggap kultur dan kearifan tersebut sebagai kekuatan bagi upaya-upaya penyelamatan dini dan pengurangan risiko bencana.


Menghormati siklus Merapi

Siklus letusan Merapi harus disadari dan diterima dengan legawa oleh masyarakat sebagai bagian evolusi alam Gunung Merapi yang dinamis. Manfaat keberadaan Merapi sudah dirasakan masyarakat, baik yang hidup dari sektor kehutanan, pertanian, peternakan, pertambangan, wisata dan sebagainya.

Baca juga: Sebaran Abu Merapi Selimuti Tiga Kecamatan di Wilayah Magelang

Seorang penyiar melakukan siaran di studio radio Merapi Merbabu Community (MMC), Samiran, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (9/5). Radio komunitas Merapi Merbabu yang dibangun pada tahun 2000 dengan swadaya masyarakat setempat itu bertujuan untuk memberikan informasi tentang kebencanaan yang terjadi di wilayah gunung Merapi dan Merbabu agar dapat mengurangi resiko bencana. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc/18.ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho Seorang penyiar melakukan siaran di studio radio Merapi Merbabu Community (MMC), Samiran, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (9/5). Radio komunitas Merapi Merbabu yang dibangun pada tahun 2000 dengan swadaya masyarakat setempat itu bertujuan untuk memberikan informasi tentang kebencanaan yang terjadi di wilayah gunung Merapi dan Merbabu agar dapat mengurangi resiko bencana. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc/18.
Maka, yang harus dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah dan masyarakat, adalah mengakomodasi dan menghormati siklus dan aktivitas Merapi yang sedang “mempunyai hajat” agar bisa melaksanakan aktivitasnya secara lancar tanpa menimbulkan korban.

Jangan sampai terjadi sikap permisif yang menganggap bahwa siklus erupsi Merapi sebagai fenomena yang biasa sehingga mengabaikan kewaspadaan dini.

Hal tersebut harus dibarengi dengan upaya komunikasi dan membangun kesepahaman tentang makna dari aktivitas Merapi yang dimengerti semua pihak, khususnya masyarakat dan pemerintah, agar aktivitas vulkanis Merapi tidak berubah menjadi bencana.

Manajemen kebencanaan harus dipandang sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, bahkan dalam keadaan aman sekalipun. Letusan Merapi adalah fenomena alam di luar kehendak dan kemampuan manusia, sehingga harus disikapi dengan wajar, namun penuh kewaspadaan.

Literasi dan edukasi kepada masyarakat pun harus terus ditingkatkan dengan memakai berbagai cara, di antaranya media sosial dan jejaring radio komunitas.

Dalam menyikapi kondisi Merapi saat ini, mari kita berpegang pada filosofi Jawa: sak begja-begjane wong lali, isih begja wong kang eling lan waspada (seberuntung-beruntungnya masyarakat yang lupa, lebih beruntung masyarakat yang ingat dan waspada). (Mimin Dwi Hartono, Staf Senior Komnas HAM, warga asli lereng Gunung Merapi) 


Komentar
Close Ads X