Sambut Waisak, Umat Buddha Semayamkan Api Dharma dan Air Berkah di Candi Mendut

Kompas.com - 28/05/2018, 20:38 WIB
Umat dan tokoh Buddha melakukan ritual pradaksian sebelum menyemayamkan air berkah di dalam Candi Mendut Magelan, Jawa Tengah, Senin (28/5/2018). Ritual ini merupakan bagian kegiatan memperingati Tri Suci Waisak 2572BE/2018. KOMPAS.com/IKA FITRIANA Umat dan tokoh Buddha melakukan ritual pradaksian sebelum menyemayamkan air berkah di dalam Candi Mendut Magelan, Jawa Tengah, Senin (28/5/2018). Ritual ini merupakan bagian kegiatan memperingati Tri Suci Waisak 2572BE/2018.

MAGELANG, KOMPAS.com - Umat Buddha dari berbagai sangha melakukan ritual penyemayaman air berkah di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/5/2018).

Ritual ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2562BE/2018 yang akan dipusatkan di Candi Borobudur, Selasa (29/5/2018).

Sehari sebelumnya, umat Buddha telah menyemayamkan api dharma di candi tersebut. Dua sarana puja bakti tersebut kini bersanding.

Biksu Wong Sin Labhiko Mahathera, Rohaniawan Buddha yang juga Ketua Widyakasaba Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), menjelaskan, air yang disemayamankan diambil dari sumber mata air Umbul Jumprit, pegunungan Sumbing, Kabupaten Temanggung.


Air merupakan sarana puja bakti umat yang memilik makna keberkahan. Air menghilangkan haus, membersihkan batin menjadi bersih, dan menghilangkan hal-hal yang buruk pada manusia.

"Air disemayamkan di Mendut selanjutnya akan dipercikan di kepala atau tubuh umat sehingga mereka dapat sinar cinta kasih Sang Buddha," jelas Wong Sin, di sela-sela ritual.

Baca juga: Jelang Waisak, Ratusan Biksu Pindapata di Sepanjang Jalan Pecinan Magelang

Sebelum air berkah disemayamkan di dalam candi, umat bersama para biksu melakukan doa bersama di pelataran Candi Mendut. Selanjutnya mereka melakukan pradaksina atau mengelilingi candi sebanyak 3 kali. Sejumlah biksu membawa periuk berisi air berkah.

Sedangkan api dharma yang sudah disemayamkan sebelumnya memiliki makna sinar terang, yang memberikan kehangatan, sama dengan ajaran Buddha yang memberikan kebijaksanaan dan terang dalam pemikiran.

"Sang Buddha mengajarkan cinta kasih, kedamaian, kebersihan. Barang siapa yang melakukan ajaran Buddha akan membawa kedamaian mereka sendiri dan lingkungan," tuturnya.

Wong Sin menyebutkan, prosesi penyemayaman ini diikuti oleh ratusan umat Buddha dan tokoh Buddha dari berbagai daerah di Indonesia, dan luar negeri seperti Thailand, Vietnam, Nepal, Singapura dan lainnya.

Pada kesempatan ini, Wongsin menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia yang belakangan ini diterpa persoalan intoleransi dan radikalisme.

Wongsin berujar, setiap manusia hendaknya memberikan cinta kasih kepada semua makhluk sehingga tidak ada lagi persoalan yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

"Senantiasa kita memberikan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa pamrih, kita semua bersaudara. Momentum Waisak ini kita berdoa melenyapkan kondisi buruk menjadi lebih baik," imbuhnya.

Baca juga: Umat Buddha Bagi-bagi Takjil usai Ritual Waisak di Candi Mendut

Api dharma dan air berkah selanjutnya akan diarak bersama sarana puja bakti lainnya oleh umat Buddha dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, Selasa (29/5/2018). Rangkaian Waisak akan ditutup dengan seremonial di pelataran Candi Borobudur dan pelepasan ribuan lampion Waisak.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X