Aktivitas Merapi Dapat Menyebabkan Pergerakan Satwa di Taman Nasional

Kompas.com - 23/05/2018, 17:00 WIB
Pendaki berjalan menuju area pasar bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (21/9). Libur tahun baru Islam satu Muharram dimanfaatkan sejumlah wisatawan untuk mendaki menikmati panorama alam dari ketinggian 2.968 meter di atas permukaan air laut (mdpl). ANTARA FOTO/Hendra NurdiyansyahPendaki berjalan menuju area pasar bubrah di bawah puncak Taman Nasional Gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (21/9). Libur tahun baru Islam satu Muharram dimanfaatkan sejumlah wisatawan untuk mendaki menikmati panorama alam dari ketinggian 2.968 meter di atas permukaan air laut (mdpl).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas Gunung Merapi beberapa hari terakhir dimungkinkan dapat menyebabkan pergerakan satwa dari wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menuju lokasi yang dianggap aman.

Oleh sebab itu, pihak Taman Nasional Gunung Merapi mengimbau kepada masyarakat agar bersikap bijaksana menyikapi pergerakan satwa yang dimungkinkan melewati sawah, perkebunan maupun pemukiman.

Imbauan kepada masyarakat ini disampaikan melalui surat edaran resmi yang dikeluarkan oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada 22 Mei 2018.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Ammy Nurwati saat dikonfirmasi membenarkan edaran tersebut. Dia menyampaikan bahwa TNGM merupakan tempat hidup atau habitat bagi satwa dan tumbuhan yang dilindungi.

Baca juga: Pantau Merapi, BPPTKG Berharap Ada Tanda-tanda Migrasi Magma

"Berkenaan dengan hal tersebut, kami menghimbau kepada masyarakat sekitar kawasan TNGM, apabila menjumpai pergerakan satwa yang diduga dari kawasan taman nasional, agar dapat menyikapi dengan bijaksana," kata dia, Rabu (23/5/2018). 

Sementara itu, Koordinator Search and Rescue (SAR) Linmas Kaliurang Kiswanta mengungkapkan, sampai dengan saat ini belum terpantau adanya laporan dari warga di sekitar Kaliurang maupun lereng Merapi wilayah lain yang melihat satwa turun.

"Warga belum ada laporan dari warga mengenai pergerakan satwa," bebernya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Gunung Merapi kembali meletus pada Rabu (23/053/2018) pukul 13.49 WIB. Letusan Merapi kali ini juga merupakan letusan freatik dengan durasi 2 menit. 

Informasi ini disampaikan BPPTKG melalui akun Twitter @BPPTKG pada pukul 13.59 WIB. 

Letusan freatik Merapi terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGN) Babadan. Namun kolom letusan tidak teramati dari semua Pos PGN.

Baca juga: Pukul 13.49 WIB, Gunung Merapi Kembali Meletus Selama 2 Menit

 

Letusan freatik pada pukul 13.49 WIB ini menjadi letusan kedua Merapi yang terjadi pada Rabu ini.

Sebelumnya Gunung Merapi meletus freatik pada pukul 03.31 WIB dengan durasi 4 menit dan tinggi Kolom 2.000 meter. 

Sebagai informasi, letusan jenis freatik terjadi karena adanya pemanasan air yang terjebak di dalam gunung hingga menjadi uap panas.

Akumulasi uap panas yang terus meningkat itu menekan dan menyebabkan letusan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Gubernur Edy Rahmayadi Cegah Peredaran Virus Corona

Cara Gubernur Edy Rahmayadi Cegah Peredaran Virus Corona

Regional
Kerangka Manusia Korban Likuefaksi Palu Ditemukan, Dimakamkan di Pemakaman Massal

Kerangka Manusia Korban Likuefaksi Palu Ditemukan, Dimakamkan di Pemakaman Massal

Regional
Viral Video Mantan Bupati Nias Selatan Dilempar Kotoran Babi

Viral Video Mantan Bupati Nias Selatan Dilempar Kotoran Babi

Regional
Foto Editan Lutfi Alfiandi Pegang Bendera Nasdem Diiklankan Cawalkot Makassar

Foto Editan Lutfi Alfiandi Pegang Bendera Nasdem Diiklankan Cawalkot Makassar

Regional
Istri Musthofa Kamal Pasha Deklarasi Maju di Pilkada Mojokerto

Istri Musthofa Kamal Pasha Deklarasi Maju di Pilkada Mojokerto

Regional
Paus 15 Meter yang Terdampar di Rote Ndao Dikubur Pakai Alat Berat

Paus 15 Meter yang Terdampar di Rote Ndao Dikubur Pakai Alat Berat

Regional
Walhi Tolak Pembangunan Kereta Gantung di Gunung Rinjani, Ini Alasannya

Walhi Tolak Pembangunan Kereta Gantung di Gunung Rinjani, Ini Alasannya

Regional
Kasus Akun Medsos yang Diduga Menghina Risma Naik ke Tingkat Penyidikan

Kasus Akun Medsos yang Diduga Menghina Risma Naik ke Tingkat Penyidikan

Regional
Fakta Pawang Ular di Kalbar Tewas Digigit King Kobra Saat Atraksi, Dikenal Sebagai Dukun

Fakta Pawang Ular di Kalbar Tewas Digigit King Kobra Saat Atraksi, Dikenal Sebagai Dukun

Regional
Kepada DPRD Jember, Para Rekanan Proyek Buka-bukaan soal Kasus Korupsi

Kepada DPRD Jember, Para Rekanan Proyek Buka-bukaan soal Kasus Korupsi

Regional
RSUD Kendal Siapkan Dua Kamar untuk Pasien Penderita Virus Corona

RSUD Kendal Siapkan Dua Kamar untuk Pasien Penderita Virus Corona

Regional
Tim SAR Hentikan Pencarian Kapal Panji Saputra yang Hilang di Maluku

Tim SAR Hentikan Pencarian Kapal Panji Saputra yang Hilang di Maluku

Regional
Mayat Perempuan Berseragam Pramuka di Tasikmalaya Diduga Korban Bullying

Mayat Perempuan Berseragam Pramuka di Tasikmalaya Diduga Korban Bullying

Regional
Virus Corona, Masyarakat Minta Penerbangan China ke Manado Ditutup Sementara

Virus Corona, Masyarakat Minta Penerbangan China ke Manado Ditutup Sementara

Regional
45 Mahasiswa yang Pulang ke Papua Pasca Kerusuhan, Kini Kembali ke Kota Tempat Studi

45 Mahasiswa yang Pulang ke Papua Pasca Kerusuhan, Kini Kembali ke Kota Tempat Studi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X