Sumringahnya Mbah Amini dapat Bantuan 10 Kg Beras dari Pemerintah

Kompas.com - 21/05/2018, 18:01 WIB
Mbah Amini, salah salah penerima bantuan pangan nontunai saat mengambil beras di Kantor Desa Kembiritan, Genteng, Banyuwangi, Senin (21/5/2018) KOMPAS.COM/Ira RachmawatiMbah Amini, salah salah penerima bantuan pangan nontunai saat mengambil beras di Kantor Desa Kembiritan, Genteng, Banyuwangi, Senin (21/5/2018)

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Mbah Amini, nenek 26 cucu warga Desa Kembiritan Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, terlihat sumringah saat antre mendapatkan bantuan pangan nontunai berupa beras 10 kilogram (kg) dan telur setengah kg di balai desa Kembiritan, Senin (21/5/2018).

Nenek yang mengaku berusia 100 tahun ini mengaku sengaja datang lebih pagi agar todak perlu antre lama. Walaupun sudah datang pagi, dia mendapatkan nomor antrean di atas 200. 

"Tadi kesini naik becak bayar Rp 5.000. Senang dapat beras sama telur bisa buat "sangu" (bekal) puasa sebulan," kata Mbah Amini. 

Tentu saja Mbah Amini senang mendapatkan bantuan tersebut, sebab saat ini dia harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari semenjak ditinggal suainya yang meninggal 3 tahun lalu. 

Baca juga: Pemerintah Gelontorkan Rp 1,7 Triliun untuk Bantuan Pangan Nontunai

Delapan anak Mbah Amini sudah menikah dan tinggal di rumah yang berbeda. 

"Setiap pagi sampai sore kerja bersihkan bawang merah. Istirahat pas waktu shalat. Seminggu kadang dapat Rp 70.000 - Rp 100.000. Dibuat cukup ya cukup. Ini kan sudah dapat tambahan beras," katanya sambil tersenyum.  

Mbah Amini adalah salah satu penerima bantuan pangan nontunai di Kabupaten Banyuwangi. Total ada 101.626 orang yang mendapatkan bantuan pangan non tunai. Mereka akan mendapatkan bantuan bahan makanan setiap bulan senilai Rp 110.000.

"Ini sebagai pengganti beras sejahtera yang sebelumnya namanya raskin atau beras miskin. Banyuwangi sebagai salah satu kabupaten percontohan untuk bantuan ini," jelas Peni Handayani, Kepala Dinas Sosial kabupaten Banyuwangi, kepada Kompas.com Senin (21/5/2018).

Setiap peserta setiap bulannya akan mendapatkan beras 10 kg dan telur untuk menambah gizi. Namun, menurut Peni, para penerima bisa memilih jenis beras yaitu beras premium dan beras biasa.

Baca juga: BI Kediri Siapkan Rp 7,2 Triliun untuk Kebutuhan Tukar Uang Baru Selama Ramadhan

"Standardnya adalah beras premium 10 kilogram tapi jika penerima mau beras yang biasa ya disediakan. Banyaknya disesuaikan dengan nominalnya yaitu Rp 110.000. Tentu dapatnya lebih dari 10 kilogram. Termasuk telur mau telur ayam atau telur bebek," jelas Peni.

Di Banyuwangi, pendistribusian beras dan telur melalui BUMdes. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, penerima tidak perlu mengeluarkan uang untuk menebusnya seperti saat mendapatkan raskin.

"Kalau raskin kan harus ditebus Rp 1.600 per kg. Kalau ini sama sekali tidak. Setiap bulan mereka akan mendapatkan ini. Semuanya menggunakan dana dari APBN Kementerian Sosial," jelas Peni. 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Viral, Video Pria di Lombok Nikahi Kekasihnya dengan Maskawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Viral, Video Pria di Lombok Nikahi Kekasihnya dengan Maskawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Regional
Perjalanan Pengusaha Warteg Kalahkan Covid-19, Naik Travel dari Depok, Sembuh Diiringi Tabuhan Rebana

Perjalanan Pengusaha Warteg Kalahkan Covid-19, Naik Travel dari Depok, Sembuh Diiringi Tabuhan Rebana

Regional
Cerita Syarif, Tersesat di Hutan Papua, Makan Buah Biji Anggrek untuk Bertahan

Cerita Syarif, Tersesat di Hutan Papua, Makan Buah Biji Anggrek untuk Bertahan

Regional
Belajar Toleransi dari Suku Wajor, Pantang Bertengkar Hanya karena Berbeda

Belajar Toleransi dari Suku Wajor, Pantang Bertengkar Hanya karena Berbeda

Regional
Tak Ingin Bebankan Suami, Model Ini Minta Mas Kawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Tak Ingin Bebankan Suami, Model Ini Minta Mas Kawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Regional
Seorang Kakek Ditangkap karena Jual Ganja, Polisi: Berdiri Saja Tersangka Ini Sudah Tidak Kuat

Seorang Kakek Ditangkap karena Jual Ganja, Polisi: Berdiri Saja Tersangka Ini Sudah Tidak Kuat

Regional
'Ada Ibu-ibu Bikin TikTok di Suramadu, Akhirnya Kami Spontan Langsung Meniru'

"Ada Ibu-ibu Bikin TikTok di Suramadu, Akhirnya Kami Spontan Langsung Meniru"

Regional
Melacak Sederet Nama di Dinding Rumah Tersangka Pencabulan 19 Bocah di Sukabumi...

Melacak Sederet Nama di Dinding Rumah Tersangka Pencabulan 19 Bocah di Sukabumi...

Regional
Sudah Janjian, 2 Pasien Covid-19 Kabur Hampir Bersamaan dari Lokasi yang Berbeda

Sudah Janjian, 2 Pasien Covid-19 Kabur Hampir Bersamaan dari Lokasi yang Berbeda

Regional
[POPULER NUSANTARA] Sengketa TNI dan Pemkot Magelang | Ada Apa dengan Suroto?

[POPULER NUSANTARA] Sengketa TNI dan Pemkot Magelang | Ada Apa dengan Suroto?

Regional
Sebelum Tiduran 10 Tahun hingga Rambutnya Gimbal dan Jadi Bantal, Begini Sosok Suroto...

Sebelum Tiduran 10 Tahun hingga Rambutnya Gimbal dan Jadi Bantal, Begini Sosok Suroto...

Regional
'Sebelumnya Ada Video TikTok di Suramadu, Kok Kelihatan Bagus, Akhirnya Kami Ikut-ikutan'

"Sebelumnya Ada Video TikTok di Suramadu, Kok Kelihatan Bagus, Akhirnya Kami Ikut-ikutan"

Regional
'Saya Melihat Darah Begitu Banyak tapi Tak Merasa Sakit'

"Saya Melihat Darah Begitu Banyak tapi Tak Merasa Sakit"

Regional
3 Wanita yang Main TikTok di Jembatan Suramadu Minta Maaf, Didenda Rp 500.000

3 Wanita yang Main TikTok di Jembatan Suramadu Minta Maaf, Didenda Rp 500.000

Regional
Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Blitar, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Blitar, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X