Kompas.com - 19/05/2018, 16:13 WIB
Ketua Umum PP Muhamadiyah Haedar Nashir saat memberikan keterangan kepada waratwan di Ambon, Jumat (24/2/2017) Kontributor Ambon, Rahmat Rahman PattyKetua Umum PP Muhamadiyah Haedar Nashir saat memberikan keterangan kepada waratwan di Ambon, Jumat (24/2/2017)

MALANG, KOMPAS.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta kepada elite politik untuk tidak memobilisasi emosi agama, golongan, suku dan ras.

Sebab, menurut dia, radikalisme juga ada di dalam politik.

"Jangan mobilisasi emosi-emosi agama, golongan, suku, ras yang membuat para pemilih ini kemudian jadi radikal," kata Haedar saat menghadiri Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (19/5/2018).

"Ingat, radikalisme itu juga ada di politik, yakni pilihan-pilihan politik yang serba berseteru keras. Bahkan, tokoh-tokoh politiknya menggunakan berbagai macam ujaran yang kemudian rakyatnya juga ikut, atau pendukungnya ikut. Nah, ini supaya politik tidak menjadi radikal," terangnya.

Haedar lantas menekankan pentingnya politik nilai. Menurut dia, politik nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia mulai luruh meski belum sampai pada tahap destruktif.

Luruhnya nilai-nilai politik dalam berbangsa dan bernegara itu bisa dilihat dari tiga hal, yakni nilai keagamaan, nilai Pancasila sebagai dasar negara dan jiwa kenegarawanan.

"Satu, nilai-nilai agama yang hidup dalam kehidupan bangsa kita. Apapun, Indonesia itu tidak bisa lepas dari umat beragama dan agama. Apapun agamanya. Nah, kita berharap kehidupan kebangsaan itu meletakkan agama sebagai sumber nilai. Nilai jujur, nilai baik," katanya.

Berikutnya adalah nilai Pancasila, seperti nilai musyawarah. Ia lantas menyinggung revisi UU Antiterorisme yang terbengkalai lantaran tidak menemui titik temu di antara elite politik dan pemerintah.

"Yang kedua nilai Pancasila. Ini dasar yang resmi dalam kita berbangsa. Misalkan, nilai musyawarah. Biarkan kita sekarang sudah sistem politik yang bikameral liberal. Maka nilai musyawarah perwakilan itu harus tetap melekat," katanya.

Selanjutnya adalah runtuhnya nilai kenegarawanan. Haedar melihat, sekarang mulai terjadi keretakan orientasi politik yang melebihi rasa kebersamaan.

Hal ini jauh berbeda dari nilai kebangsaan dan kenegarawanan yang diletakkan oleh para pendiri bangsa.

Ia mengatakan, meski terjadi beda pendapat di antara para pendiri bangsa, mereka tidak terbelah dan tetap bersama-sama menjadi tokoh bangsa.

"Ketiga tentu nilai-nilai dasar kebangsaan yang telah diletakkan oleh para pendiri. Dalam hal ini nilai kenegarawanan. Misalkan gini, para tokoh dulu Soekarno, Moh Hatta, Agus Salim, Ki Bagoes (Hadikoesoemo) itu kalau berdebat luar biasa. Tapi begitu selesai perdebatan mereka tetap sebagai tokoh yang bisa bersama," katanya.

"(Mohammad) Natsir itu sering berbeda dengan (DN) Aidit. Tapi begitu keluar dari forum, diantar lah Aidit itu ke rumahnya pakai mobil dia. Tidak ada ini kan dalam sejarah sekarang. Tokoh politik saya harap belajar untuk lebih mengedepankan jiwa kenegarawanannya," terangnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Regional
Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X