Berkat Urine Kelinci, Penghasilan Petani di Daerah Ini Tumbuh Pesat - Kompas.com

Berkat Urine Kelinci, Penghasilan Petani di Daerah Ini Tumbuh Pesat

Kompas.com - 17/05/2018, 21:59 WIB
Melalui Program Desa Berdaya, Rumah Zakat menyalurkan zakat umat untuk membentuk suatu desa yang lebih mandiri. Hingga 2023, ditargetkan ada 5.000 Desa Berdaya di Indonesia.KOMPAS.com/Reni Susanti Melalui Program Desa Berdaya, Rumah Zakat menyalurkan zakat umat untuk membentuk suatu desa yang lebih mandiri. Hingga 2023, ditargetkan ada 5.000 Desa Berdaya di Indonesia.

KOMPAS.com - Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat sudah lama terkenal dengan pertaniannya. Mulai dari beras hingga sayuran seperti cabai.

Untuk mengelola sawah dan kebun, mereka mengandalkan pupuk anorganik. Namun sejak tahun 2014, mereka mulai membiasakan diri dengan memproduksi pupuk sendiri.

"Mereka itu kan peternak kelinci juga untuk dijual. Tahun 2014 itu secara perlahan-lahan mereka mengubah kebiasaan mengganti pupuk anorganik dengan organik," ujar CEO Rumah Zakat, Nur Efendi di Bandung, Kamis (17/5/2018).

Pupuk organik yang digunakan bersumber dari urine kelinci yang dihasilkan. Teknologi yang digunakan bersumber dari ITB, sedangkan pembiayaan sendiri bersumber dari uang zakat yang dikelola Rumah Zakat.

"Awalnya tahun 2014, Desa Mekarwangi menjadi bagian dari program desa berdaya kami," tuturnya.

Baca juga: Ketika Risma Tiba-tiba Bersujud di Kaki Anggota Takmir Masjid

Dengan menjadi desa berdaya, pihaknya secara rutin melakukan pendampingan. Selama pendampingan akan dikembangkan potensi-potensi yang ada di desa tersebut.

Untuk mengembangkan potensi ini, Rumah Zakat akan memberikan bantuan. Besarannya, sesuai dengan kebutuhan. Waktu pencairannya pun sesuai kebutuhan.

Di Desa Mekarwangi, pihaknya melihat peternakan kelinci dan perkebunan menjadi salah satu potensi. Hingga akhirnya terciptalah pupuk organik dari urine kelinci.

"Sekarang pupuk dari urine kelinci itu telah dijual, setiap 250 mililiter dijual Rp 35.000," ungkapnya.

Setelah tiga tahun, penggunaan pupuk organik ini memperlihatkan hasil positif. Produksi sayuran meningkat 10 persen. Bahkan pendapatan petani tumbuh signifikan sekitar 58 persen.

Program desa berdaya ini sudah lama dikembangkan. Hingga April 2018, jumlah desa berdaya mencapai 1.118. Jumlah itu tersebar di 191 kota/kabupaten dari Aceh sampai Papua.

Baca juga: Karya Anak Bangsa, ?Drone? Ini Mampu Semprot Pupuk untuk 5 Hektar Padi Per Jam

"Peningkatannya sekitar 300 desa per tahun. Sampai tahun 2023, kami menargetkan 5.000 desa," tuturnya.

Untuk menjadi bagian dari desa berdaya ada dua cara. Pertama, mengajukan langsung ke Rumah Zakat, biasanya dilakukan oleh kelompok pemuda. Kedua, bekerjasama dengan beberapa kementerian untuk merangkul desa di 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

"Ada 6 bantuan yang kerap diberikan di desa berdaya, yakni berbagi buka puasa, kado lebaran yatim, jandi berdaya, bingkisan lebaran keluarga, dan syiar Quran," ucapnya.

Kompas TV Kelompok tani di Desa Rengas merupakan salah satu contoh keberhasilan peningkatan hasil panen dengan teknologi ramah lingkungan.


Komentar

Close Ads X