Warga Kudus Sambut Ramadhan dengan Tradisi Dandangan - Kompas.com

Warga Kudus Sambut Ramadhan dengan Tradisi Dandangan

Kompas TV Umat Muslim Mesir Sambut Ramadhan dengan Pasang Lampu Fanoos

KUDUS, KOMPAS.com - Visualiasasi tradisi dandangan digelar di Alun-alun Kudus, Jawa Tengah, Rabu (16/5/2018) sore. Ribuan warga berkerumun di Alun-alun Kudus sejak sore untuk menyaksikan kegiatan tersebut. 

Kegiatan yang berlangsung hingga malam hari tersebut diramaikan dengan persembahan tarian kolosal dan beberapa hiburan lain.

Penampilan tarian kolosal oleh puluhan penari itu menggambarkan sejarah industri pengolahan tembakau di Kudus. Sampai pada sejarah Sunan Kudus.

Sebelum resmi dibuka dengan ditandai pemukulan beduk, masyarakat yang hadir diminta sejenak untuk mengheningkan cipta mendoakan Indonesia. Berharap semua dalam lindungan Sang Khalik dari segala macam insiden buruk.

Aksi teror yang melanda wilayah Jawa Timur dan juga wilayah lain di belahan Nusantara menjadi keprihatinan semua pihak. Mereka mengutuk keras aksi bom bunuh diri yang menewaskan dan melukai para korban tak bersalah itu.

Baca juga: Mabbaca-baca, Tradisi Unik Sambut Ramadhan Masyarakat Polewali Mandar

Sekilas Tradisi Dandangan

Dandangan adalah tradisi peninggalan Sunan Kudus sejak 450 tahun lalu, yang dilakukan untuk menyambut datangnya awal Ramadhan

Dandangan bermula dari masyarakat yang menanti pengumuman awal dimulainya waktu puasa. Masyarakat pun berkumpul menunggu datangnya bulan suci Ramadhan.

Adalah Jakfar Shodiq selaku pemimpin Kudus sekaligus ulama di waktu itu. Konon beliaulah yang mengumumkan datangnya awal Ramadhan di Masjid dan Menara Kudus yang ditandai dengan suara tabuhan beduk.

Nah, bunyi beduk yang menggema"dang dang dang" itulah yang kemudian akrab disebut dandangan.

Baca juga: Makan Telur Ikan Mimi, Tradisi Warga Kendal Sambut Ramadhan

Seiring berjalannya waktu, keramaian ini menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menggelar lapaknya.

Hingga saat ini menjelang Ramadhan, Jalan Sunan Kudus selalu saja dipenuhi oleh pedagang kaki lima (PKL) dengan kemeriahan pasar malam.

Beraneka ragam dagangan dijajakan di kawasan perkotaan itu. Mulai dari pernah-pernak aksesoris, hiasan miniatur, perabot dapur hingga ?oleh-oleh khas Kudus.

Pemukulan Beduk

Bupati Kudus Musthofa memberi penghormatan khusus kepada PT Djarum untuk memukul beduk, dengan diwakili oleh Direktur Produksi PT Djarum Thomas Budi Santoso.

Pemukulan beduk oleh Budi Santoso didampingi oleh Forkopimda Kudus. Selanjutnya diikuti oleh tokoh agama dan Forkoimda yang juga memukul beduk sebagai pertanda masuknya bulan Ramadhan.

Baca juga: Karena 3 Faktor, Hilal Gagal Terpantau di Kudus

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus Yuli Kasiyanto menyampaikan, tradisi dandangan adalah rutinitas di Kabupaten Kudus yang berlangsung sejak lama. Langkah ini merupakan bentuk Nguri-Nguri budaya.

"Dandangan adalah tradisi Kudus. Kami akan selalu menjaga sebagai pengingat datangnya bulan suci Ramadhan," kata Yuli.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, sambutan ini adalah yang terakhir selama dia menjabat sebagai orang nomor satu di Kudus.

Di penghujung sambutannya, Musthofa berharap, Kudus yang nantinya tak lagi dia pimpin tetap menjaga keramahan bagi investor. Dan memberi kenyamanan bagi para pemilik modal.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Komentar

Close Ads X