Tradisi Unik Dusun Sade, Melulur Lantai dengan Kotoran Ternak

Kompas.com - 07/05/2018, 11:15 WIB
Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, menjadi objek wisata favorit karena di sana, wisatawan bisa menyaksikan langsung rumah adat Suku Sasak dan tradisi-tradisi khas seperti melulur lantai rumah dengan kotoran ternak. KOMPAS.com/Lalu Syamsul Arifin Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, menjadi objek wisata favorit karena di sana, wisatawan bisa menyaksikan langsung rumah adat Suku Sasak dan tradisi-tradisi khas seperti melulur lantai rumah dengan kotoran ternak.

LOMBOK TENGAH, KOMPAS.com - Siang itu, Kamis (3/5/2018) sekitar pukul 10.00 Wita, Senem (30), warga Dusun Sade meminta Inaq Lip (60), ibunya mengambil kotoran sapi untuk melulur fondasi rumahnya.  

Senem, pemuda pemandu wisata ini, menyayangkan kedatangan Kompas.com yang terlambat, karena tidak bisa menyaksikan tradisi melulur lantai dengan kotoran ternak di waktu yang tepat.

"Sayang, Side (Anda) terlambat, Mas. Lain kali, kalau mau lihta tradisi melulut (melulur) lantai dengan kotoran kerbau, Side datang pagi-pagi aja. Kira-kira jam enam atau setengah tujuh aja," ujar Senem, Kamis.

Selang beberapa waktu, Inak Lip telah kembali dengan membawa kotoran kerbau. Kemudian  ia langsung melulur dinding fondasi depan rumahnya dengan kotoran kerbau.

Dusun Sade,  Desa Rembitan,  Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, merupakan salah satu objek wisata yang menjadi tujuan favorit wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara kala mengunjungi Lombok.

Umumnya, wisatawan berkunjung ke Dusun Sade karena ingin menyaksikan langsung rumah adat Suku Sasak dan tradisi-tradisi khas lainnya yang masih bertahan hingga kini.  

Salah satu dari sekian tradisi unik yang dimaksud ialah kebiasaan masyarakat Sade melulur lantai rumah dengan kotoran ternak.

Sedang bagi masyarakat Dusun Sade,  kebiasaan melulur lantai rumah dengan kotoran ternak merupakan tradisi lama yang masih dipelihara dengan baik hingga saat ini.  

Baca juga : Pelestarian Budaya, Tradisi Mohungguli di Gorontalo Akan Dilombakan

Manfaat kotoran lemak

Menurut pengakuan Inak Lip,  ia merasa lebih nyaman mendiami rumahnya jika lantainya sudah dilulur dengan kotoran ternak. 

"Jika rumah sudah dilulut (dilulur) kotoran sapi.  Rumah rasanya nyaman, tidak banyak debu," kata Inaq Lip.

Lebih lanjut, perempuan yang kesehariannya berprofesi sebagai penenun sekaligus penjual kain tenun khas Sasak ini mengungkapkan, melulur lantai rumah dengan kotoran ternak bermanfaat untuk mengatasi keretakan lantai rumahnya yang material dasarnya dari tanah.

"Saya sudah melulur lantai rumah sejak kecil. Ya, di sini kan bale tani (rumah tani) semua.  Rumah kami dari awal lantainya dari tanah saja. Dan, dulu kan jarang ada semen. Jadi, untuk mengatasi keretakan lantai, ya kami pakai kotoran sapi," tutur Inaq Lip.

Inaq Lip dan masyarakat sade meyakini bahwa kotoran ternak seperti sapi dan kerbau mengandung zat yang punya daya rekat untuk mengikat lantai rumah mereka.  

Umumnya, masyarakat Sade melulur lantai rumah dengan kotoran ternak setiap 4 atau 5 hari sekali. Alasannya, menempati rumah dengan lantai dari tanah akan retak dan berdebu dengan sendirinya dalam periode 4 atau 5 hari.

Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, menjadi objek wisata favorit karena di sana, wisatawan bisa menyaksikan langsung rumah adat Suku Sasak dan tradisi-tradisi khas seperti melulur lantai rumah dengan kotoran ternak. KOMPAS.com/Lalu Syamsul Arifin Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, menjadi objek wisata favorit karena di sana, wisatawan bisa menyaksikan langsung rumah adat Suku Sasak dan tradisi-tradisi khas seperti melulur lantai rumah dengan kotoran ternak.

Adapun kotoran ternak yang digunakan sebagai bahan pelulur lantai adalah kotoran yang tidak asal kotoran ternak. Kotoran ternak yang dipilih adalah kotoran kerbau atau sapi. Dan, kotoran ternak tersebut haruslah kotoran pertama ternak, di pagi hari.

Alasannya, kotoran ternak di pagi hari masih segar, tidak menguarkan aroma menyengat dan belum dikerubuti lalat.

"Yang dipilih itu kotoran sapi atau kerbau. Tapi diutamakan kotoran kerbau. Dan, harus diambil pagi-pagi. Harus dipilih kotoran yang pertama, yang masih segar dan yang masih hijau. Kalau yang sudah lama itukan baunya tidak enak dan ada lalatnya," terang Inak Lip.

Tradisi unik

Meski bahan utama yang dipergunakan melulur lantai rumah adat di Sade adalah kotoran ternak, tetapi baik warga Sade maupun wisatawan yang berkunjung tidak menganggapnya sebagai hal yang menggangu.

Baca juga : Merawat Kerukunan Melalui Tradisi Sadranan

Sebaliknya tidak jarang pengunjung menilai, melulur lantai dengan kotoran ternak sebagai suatu tradisi yang unik, yang bisa menimbulkan rasa penasaran.

Seperti yang diungkapkan oleh Suparlan (26), wisatawan asal Surabaya.  

"Ya, saya sudah tahu itu dari TV dan internet. Unik mas. Jadi penasaran aja, makanya saya datang ke sini. Saya tadi masuki dua rumah warga, bentuk bangunannya hampir sama semua.  Berbilik pagar, pintunya pake kuri, atap ilalang, dan lantainya dari tanah. Lantai-lantainya tidak menjijikan. Saya malah sempat foto-fotoan di dalam," kata Suparlan.

Lebih suci dari kotoran sapi

Bagi masyarakat Dusun Sade, tradisi melulur lantai tidak hanya sebatas keperluan untuk merawat lantai rumah mereka agar terhindar dari keretakan atau untuk menangkal debu saja.

Menurut penuturan Senem, melulur lantai dengan kotoran ternak merupakan bagian dari ritual yang harus dilaksanakan masyarakat Sade, terlebih dahulu sebelum menjalankan beberapa tradisi keagamaan seperti ziarah makam wali dan zikiran di siang hari.

"Misalnya, seperti sebelum berziarah ke Makam Wali Nyatok, sebelum berziarah ke Makam Gunung Kiangan, sebelum berziarah ke Makam Batu Denden dan sebelum mengadakan roah kelemak (zikiran siang hari), masyarakat yang bersangkutan sudah harus melulur rumah mereka dengan kotoran kerbau terlebih dahulu,"  tutur Senem.

Meskipun peraktik ini tidak biasa, masyarakat Sade cenderung tidak mempertanyakan warisan tradisi yang sudah mengakar di tempat mereka. Bagi mereka, apapun ajaran peninggalan yang dianggap suci dan sakral oleh nenek moyangnya, semuanya akan tetap dilanjutkan.

"Apapun yang dianggap sakral dan suci oleh orang tua atau pendahulu kami, ya kami harus laksanakan," kata Senem.

Menurut Senem, belumlah dianggap sempurna ziarah atau zikiran mereka jika belum melulur lantai rumah mereka dengan kotoran ternak.

Baca juga : Tradisi Manten Tebu di Awal Musim Giling Pabrik Gula

Sama halnya dengan memilih kotoran kerbau atau kotoran sapi sebagai bahan melulur lantai rumah.

Menurut Hariadi (31), pemandu wisata Dusun Sade, melulur lantai rumah dengan kotoran kerbau lebih suci daripada dengan kotoran sapi.

"Rumah warga belum dianggap suci jika melulur lantainya dengan kotoran sapi,  tapi baru dianggap suci jika lantainya telah dilulur dengan kotoran kerbau," kata Hariadi.



Close Ads X