Kebakaran Kosambi, Kebakaran Terbesar Dalam 4 Tahun Terakhir

Kompas.com - 04/05/2018, 09:21 WIB
Petugas Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung saat melakukan pendinginan dalam insiden kebakaran di Kampung Karees Kulon RT 03 RW 06, Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Kamis (3/5/2018). KOMPAS.com/DENDI RAMDHANIPetugas Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung saat melakukan pendinginan dalam insiden kebakaran di Kampung Karees Kulon RT 03 RW 06, Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Kamis (3/5/2018).

BANDUNG, KOMPAS.com - Kebakaran besar yang menghanguskan 26 rumah di kawasan Kosambi, Kampung Karees Kulon RT 03 RW 06 Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Kamis (3/5/2018) siang merupakan yang terbesar dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Akibat kejadian itu, satu orang balita tewas dan beberapa warga mengalami luka bakar. Sementara 38 kepala keluarga harus mengungsi.

"Dalam kurun waktu empat tahun, ini yang paling besar untuk kebakaran permukiman. Paling besar itu Kings (pusat perbelanjaan), saat itu saya belum di Damkar," ucap Kepala Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung, Ferdi Ligaswara saat dihubungi Kompas.com, Jumat (4/5/2018) pagi.

Pada Oktober 2014 lalu, kebakaran besar juga pernah terjadi di kawasan Sadakeling, Gang Wiradisastra, Kelurahan Burangrang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. Dalam insiden itu, 25 rumah ludes dilalap si Jago Merah.

Tak ada korban dalam kejadian itu. Penyebab utama kebakaran Sadakeling adalah konsleting listrik. Sementara kasus Kosambi, kebakaran dipicu kebocoran tabung gas 3 kilogram.

Baca juga : Kebakaran Kosambi Bandung, 26 Rumah Terbakar dan Satu Balita Tewas

Ferdi menjelaskan, level kebakaran di Kosambi sangat tinggi. Titik kebakaran yang berada di dalam gang membuat unit pancar tak bisa menjangkau lokasi kejadian.

Dalam kasus kebakaran Kosambi, petugas menggunakan metode urai selang untuk menjangkau pusat kebakaran. Akibatnya, proses pemadaman hingga pendinginan memakan waktu sekitar tiga jam.

"Pertama karena memang letaknya dipermukiman padat penduduk yang tak bisa dilalui unit pemadam. Jadi aksesnya sangat sulit. Suhu sangat panas dan angin cukup kencang. Sadakeling hampir sama tapi ini lebih besar," tutur Ferdi.

Selain itu, lanjut Ferdi, karakter bangunan yang semi permanen membuat api cepat merambat. Kondisi itu juga diperparah dengan sistem instalasi listrik rumah warga yang tak memenuhi standar.

Baca juga : Kebakaran di Kosambi Bandung, Bocah 5 Tahun Ditemukan Tewas di Kamar Mandi

"Kami melihat secara umum, maping setelah kejadian. Banyak instalasi listrik yang sudah tidak layak dan tidak memenuhi standar. Karena permukiman semi permanen, dari struktur bangunan berdiri juga kurang layak," paparnya.

Tiga petugas Damkar pun mengalami luka akibat tersambar aliran listrik saat proses pemadaman. Beruntung ketiganya tak mengalami luka serius.

"Kondisi mereka alhamdulilah sudah pulih. Bahkan, saat saya perintahkan untuk istirahat, mereka gak mau. Mereka tetap ingin membantu rekannya memadamkan api," tutur Ferdi. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X