Jembatan Penghubung Antar-desa Ambruk, tetapi Warga Malah Enggan Diperbaiki - Kompas.com

Jembatan Penghubung Antar-desa Ambruk, tetapi Warga Malah Enggan Diperbaiki

Kompas.com - 17/04/2018, 22:53 WIB
Inilah jembatan yang ambruk akibat desakan berton-ton rumput yang hanyut di bawah arus sungai lalu tersangkut di tiang jembatan. Jembatan yang ambruk adalah penghubung Desa Cinta Jaya dengan sejumlah desa lainnya di Kecamatan Pedamaran, OKI.KOMPAS.com/Amriza Nursatria Inilah jembatan yang ambruk akibat desakan berton-ton rumput yang hanyut di bawah arus sungai lalu tersangkut di tiang jembatan. Jembatan yang ambruk adalah penghubung Desa Cinta Jaya dengan sejumlah desa lainnya di Kecamatan Pedamaran, OKI.

KAYUAGUNG, KOMPAS.com -  Warga Desa Pedamaran 1, Kecamatan Pedamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang rumahnya dekat dengan jembatan yang ambruk menolak jembatan itu diperbaiki lagi.

Mereka menganggap jembatan itu sebagai penyebab kerusakan rumah di sepanjang bantaran Sungai Pedamaran.

Warga mendesak pemerintah daerah setempat mencabut tiang jembatan itu dan memindahkannya ke tempat lain.

Diketahui bahwa jembatan penghubung antara Desa Pedamaran 1 dan Desa Cinya Jaya Pedamaran Ogan Komering Ilir ambruk pada Jumat (13/4/2018) malam.

Ambruknya jembatan itu akibat dorongan puluhan ton rerumputan yang terlepas dari kelompoknya di sebelah hulu desa, lalu terbawa arus sungai yang deras ke arah jembatan.

Kelompok rerumputan yang luasnya bisa mencapai 50 x 50 meter persegi dan ketebalan 12 meter itu lalu menyangkut di tiang jembatan yang membentang di antara Desa Pedamaran 1 dan Desa Cinta Jaya.

Baca juga: Jembatan Babat-Widang Ambruk, Satu Korban Terjepit Truk di Dalam Sungai

Timbunan rerumputan itu semakin menebal seiring makin banyaknya rerumputan yang lepas dan menumpuk di tiang jembatan.

Derasnya arus sungai membuat tumpukan rerumputan itu mendorong tiang jembatan hingga akhirnya ambruk dengan mengeluarkan suara yang keras.

Ambruknya jembatan itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah, dinding gedung sekolah, kerambah ikan, dan bong atau tempat warga duduk-duduk pada sore hari.

Rusaknya bangunan itulah yang membuat warga kesal, lalu akhirnya menolak jika jembatan itu diperbaiki dan digunakan lagi.

Mereka mendesak pemerintah memindahkan jembatan itu ke tempat lain dan mencabut tiang-tiang jembatan yang ada di sungai.

Sarkon, warga yang rumahnya rusak terkena dampak ambruknya jembatan itu, Selasa (17/4/2017), mengatakan, jembatan itu sudah tiga kali ambruk sejak dibangun pertama kali beberapa tahun lalu.

Sarkon mendesak jembatan tu tidak usah diperbaiki karena, menurut dia, keberadaan jembatan itu malah merusak banyak rumah warga di sisi sungai, termasuk rumahnya.

“Kami minta jembatan ini tidak usah diperbaiki, bahkan kami minta tiang-tiangnya dicabut dan dipindahkan ke tempat lain. Sebab, sejak ada jembatan ini rumah kami banyak yang rusak,” kata Sarkon.

Baca juga: Evakuasi Korban Jembatan Babat-Widang yang Ambruk Masih Dilakukan

Sementara itu, Pejabat Sementara Bupati Ogan Komering Ilir Muhammad Rifai yang dikonfirmasi mengatakan, jembatan yang ambruk secepatnya akan diperbaiki karena keberadaan jembatan itu sangat vital bagi warga.

Sebab, jembatan itu merupakan sarana penyeberangan bagi warga Desa Cinta Jaya dan warga desa lain yang hendak ke Cinta Jaya.

Terkait adanya permintaan warga agar jembatan tidak usah diperbaiki dan dipindahkan ke tempat lain, bupati mengaku belum mengetahui hal itu.

“Saya sudah melihat kondisi jembatan kemarin dan akan segera kita perbaiki. Soal adanya permintaan warga agar jembatan itu tidak diperbaiki, saya belum mendengar dan akan kita koordinasikan dengan kepala desa dan camat setempat,” ucap Rifai.

Dari pantauan, rumput yang ada di bawah jembatan itu masih tebal meski sudah ada upaya pembersihan oleh sejumlah orang. 

Baca juga: Dugaan Awal, Jembatan Babat-Widang Ambruk karena Usia dan Kelebihan Beban

Kompas TV Berikut adalah tiga berita terpopuler versi KompasTV hari ini.

 


Close Ads X