Anis Matta: Kita Mengalami Krisis Kepemimpinan

Kompas.com - 12/04/2018, 05:58 WIB
Mantan Presiden PKS Anis Matta dalam Mukernas KAKAMMI di Jakarta, Sabtu (3/2/2018). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIAMantan Presiden PKS Anis Matta dalam Mukernas KAKAMMI di Jakarta, Sabtu (3/2/2018).

CIAMIS, KOMPAS.com - Mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera ( PKS), Anis Matta melakukan safari politik ke Pondok Pesantren Miftahul Huda II yang berada di Kecamatan Jatinagara, Kabupaten Ciamis, Selasa (10/4/2018).

Dalam kunjungannya pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini memberikan wawasan politik Islam ke sejumlah santri yang bertajuk "Langit kita terlalu tinggi, masalahnya kita terbang terlalu rendah #ArahbaruIndonesia".

Di hadapan para santri, satu dari sembilan capres dari PKS ini, mengajak para santri kembali membaca ulang kisah nabi dan rasul, mengambil analogi bentuk dari negara riwayat Nabi Sulaiman yang menjadi negara utopis bagi negara saat ini.

Anis menjelaskan, ada empat kekuatan yang menjadi sumber kekuatan sejahteranya negara Nabi Sulaiman saat itu. "Di antaranya ilmu pengetahuan teknologi, agama, kekuatan militer, dan kekuatan ekonomi," jelasnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (12/4/2018).


(Baca juga : Anis Matta Lebih Pilih #Arahbaruindonesia Dibanding #2019gantipresiden)

Sebenarnya, sambung Anis, Indonesia bisa menjadi kekuatan kelima di dunia. "Ini momentum yang harus kita raih di gelombang ketiga sejarah Indonesia, yang mana Indonesia sudah mengalami dua gelombang sejarah sebelumnya," sebutnya.

Gelombang pertama ialah menjadi Indonesia yang puncaknya jatuh pada hari sumpah pemuda 1928 dan hari kemerdekaan 1945.

Pasca-1945 Indonesia memasuki masa Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi, bisa disebut gelombang kedua, yaitu menjadi bangsa modern.

"Artinya membangun konstitusi dan institusi negara yang masyarakatnya maju, kita membangun sistem kolektif yang
bernama demokrasi yang harusnya output-nya kesajahteraan," jelasnya.

Dia menilai, demokrasi dan kesejahteraan memang tercapai, namun sayangnya ada tendensi di periode ini untuk mengedepankan sekuriti yang berlebihan.

(Baca juga : Politisi PKS Bantah Ada Pemecatan Loyalis Anis Matta)

"Apa yang kita capai terlalu sedikit padahal yang kita punya banyak itulah paradoks besarnya. Karena selama ini bangsa tidak punya arah dan leadership atau kata lain karena kita mengalami krisis kepemimpinan," ujarnya.

Ketua yayasan Ponpes Miftahul Huda 2, KH Nonof Hanafi mengatakan, empat landasan dan menganalogikan kerajaan Sulaiman sebagai contoh negara yang ideal ialah benar adanya.

"Saat ini negeri yang kuat apalah apa yang tadi telah disampaikan beliau, yakni ilmu, agama, kekuatan militer, serta kekuatan ekonomi. Kami butuh pemimpin laiknya Nabi Sulaiman agar negeri ini sejahtera," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sambut Pelantikan, Foto Jokowi dan Ma'ruf Amin Diarak dengan Gerobak Sapi Lewat Malioboro

Sambut Pelantikan, Foto Jokowi dan Ma'ruf Amin Diarak dengan Gerobak Sapi Lewat Malioboro

Regional
Kecelakaan Tol Lampung, Vanessa Tarik Adiknya Agar Tak Ikut Terbakar

Kecelakaan Tol Lampung, Vanessa Tarik Adiknya Agar Tak Ikut Terbakar

Regional
Katupkan Kedua Tangan, Agus Piranhamas Motivator yang Tempeleng 10 Siswa Minta Maaf

Katupkan Kedua Tangan, Agus Piranhamas Motivator yang Tempeleng 10 Siswa Minta Maaf

Regional
Polda Maluku: Pemberhentian Sementara Kombes AW Terkait Pelanggaran Prosedur

Polda Maluku: Pemberhentian Sementara Kombes AW Terkait Pelanggaran Prosedur

Regional
Sabtu Dini Hari, LBH Medan Dilempari Bom Molotov

Sabtu Dini Hari, LBH Medan Dilempari Bom Molotov

Regional
Minggu, Gibran Rencana Hadiri Pelantikan Jokowi Tanpa Selvi dan Jan Ethes

Minggu, Gibran Rencana Hadiri Pelantikan Jokowi Tanpa Selvi dan Jan Ethes

Regional
Skandal Pembobolan BNI Ambon, Perwira Polda Maluku Diberhentikan

Skandal Pembobolan BNI Ambon, Perwira Polda Maluku Diberhentikan

Regional
Maju Pilkada Solo, Gibran Akui Telah Konsultasi Politik dengan Senior PDI-P Pusat

Maju Pilkada Solo, Gibran Akui Telah Konsultasi Politik dengan Senior PDI-P Pusat

Regional
Soal Pilkada Solo, Gibran: Saya Akan Berjuang Tetap Maju Lewat PDI-P

Soal Pilkada Solo, Gibran: Saya Akan Berjuang Tetap Maju Lewat PDI-P

Regional
Gubernur Nurdin Paparkan 5 Program Unggulan Sulawesi Selatan

Gubernur Nurdin Paparkan 5 Program Unggulan Sulawesi Selatan

Regional
Ajudan yang Nekat Curi Uang Kapolres Hadapi Hukuman Ganda

Ajudan yang Nekat Curi Uang Kapolres Hadapi Hukuman Ganda

Regional
Pengakuan Motivator yang Tempeleng 10 Siswa, Khilaf Memukul karena Murid Tertawa

Pengakuan Motivator yang Tempeleng 10 Siswa, Khilaf Memukul karena Murid Tertawa

Regional
WJIS 2019, Investor Sepakat Kucurkan Rp 53,8 Triliun untuk Jawa Barat

WJIS 2019, Investor Sepakat Kucurkan Rp 53,8 Triliun untuk Jawa Barat

Regional
PKS Jabar Targetkan Kuasai 4 Wilayah di Pilkada 2020

PKS Jabar Targetkan Kuasai 4 Wilayah di Pilkada 2020

Regional
Satu Keluarga Penumpang Sedan Terbakar di Jalan Tol Sumatera Baru Pulang Kondangan

Satu Keluarga Penumpang Sedan Terbakar di Jalan Tol Sumatera Baru Pulang Kondangan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X