Kompas.com - 11/04/2018, 22:18 WIB
Parsin (33), warga RT 001 RW 003 Grumbul Glempang, Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah saat menghubungi ibundanya, Parinah (50), TKI yang diduga menjadi korban tindak pidana perbudakan modern di Inggris melalui panggilan video, Senin (9/4/2018). KOMPAS.com/Iqbal FahmiParsin (33), warga RT 001 RW 003 Grumbul Glempang, Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah saat menghubungi ibundanya, Parinah (50), TKI yang diduga menjadi korban tindak pidana perbudakan modern di Inggris melalui panggilan video, Senin (9/4/2018).

BANYUMAS, KOMPAS.com - Parinah (50), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Banyumas, Jawa Tengah, yang hilang tanpa kabar selama 14 tahun akhirnya tiba di tanah air, Rabu (11/4/2018).

Pesawat yang membawa Parinah dari London mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pukul 18.30 WIB.

Kepala Bidang Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja Penempatan Kerja dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banyumas, Agus Widodo mengatakan, sebelum diantar ke kampung halaman, Parinah akan lebih dulu mengikuti serah terima dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Setelah itu, ujar Agus, Parinah akan dikawal oleh perwakilan dari Badan Pos Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP4TKI) Serang ke rumah salah satu putranya di Desa Nusawungu, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah.

“Jika tidak ada aral melintang, kemungkinan sampai di Nusawungu Kamis (12/4/2018) pagi,” ujarnya.

Baca juga : 14 Tahun Hilang Tanpa Kabar, TKI Parinah Ditemukan di Inggris

Di luar proses hukum, dinas rencananya akan melakukan assesment tersendiri kepada Parinah setibanya di Cilacap. Selain untuk mengetahui kronologi yang dialami, Parinah juga akan difasilitasi penuh jika berkehendak untuk mengikuti pelatihan.

“Kalau proses hukum sudah dikawal oleh Kemenlu dan BNP2TKI, kita hanya akan assesment, karena dulu Ibu Parinah juga pernah jadi wiraswasta sebelum berangkat ke Arab,” katanya.

Agus mengungkapkan, kasus yang terjadi pada sang pahlawan devisa akan menjadi pembelajaran berharga bagi pemerintah. Sebab, pihaknya sebelumnya sama sekali tidak mengetahui keberadaan Parinah di luar negeri.

“Kemungkinan ilegal, karena jika sesuai prosedural kami gampang sekali monitornya, cuma tinggal cek saja di siskotkln.bnp2tki.go.id bakal kelihatan semua,” paparnya.

Untuk itu, Agus berharap masyarakat yang berencana untuk menjadi calon TKI agar mengikuti prosedural yang berlaku dan berangkat melalui perusahaan penyalur yang juga kredibel. Selain itu, dia mengajak masyarakat untuk terlebih dahulu datang ke dinas untuk melapor.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tinjau Pengolahan Sampah Plastik, Kang Emil Imbau Masyarakat Gunakan “Octopus”

Tinjau Pengolahan Sampah Plastik, Kang Emil Imbau Masyarakat Gunakan “Octopus”

Regional
Selama Larangan Mudik, Wagub Uu Optimis Dapat Tekan Mobilitas Warga Jabar

Selama Larangan Mudik, Wagub Uu Optimis Dapat Tekan Mobilitas Warga Jabar

Regional
Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Regional
Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Regional
Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Regional
Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Regional
Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Regional
Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Regional
Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Regional
Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Regional
Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Regional
Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Regional
Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Regional
Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Regional
Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X