Siswa SMP Kerja Serabutan demi Hidupi Nenek dan Ayahnya yang Gangguan Jiwa

Kompas.com - 11/04/2018, 09:23 WIB
Idris (15) pelajar SMP asal Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan hidupi nenek dan bapaknya yang gangguan jiwa, Rabu (11/4/2018). KOMPAS.com/ABDUL HAQIdris (15) pelajar SMP asal Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan hidupi nenek dan bapaknya yang gangguan jiwa, Rabu (11/4/2018).

TAKALAR, KOMPAS.com — Seorang pelajar SMP di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, harus bekerja serabutan demi merawat dan menghidupi neneknya yang sudah uzur dan bapaknya yang mengalami gangguan jiwa.

Ia pun nyaris tak pernah bermain bersama teman sebayanya. Ia lebih memilih bekerja agar asap dapur gubuknya tetap mengepul.

Idris (15), remaja yang baru duduk di bangku kelas 2 SMP asal Dusun Batu Lanteang, Desa Pattopakang, Kecamatan Mangngarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, ini biasanya bekerja sepulang sekolah. 

"Kalau pulang sekolah, saya kerja sembarangan. Kadang disuruh sama orang atau ada warga di sini yang butuh bantuan, saya bantu. Di situ saya dapat uang, kadang juga cuma dikasih (diberi) makan," ujar Idris, Rabu (11/4/2018).

"Kalau dapat uang, saya belanja kebutuhan dapur, kalau ada sisanya, saya simpan untuk biaya sekolah," tambahnya.

(Baca juga: Kisah Mantan Teroris Hidupi Keluarga dari Balik Penjara)

Idris tinggal di sebuah rumah panggung bersama neneknya, Se'do (78), dan bapaknya, Mallu (43). Sang nenek kini sudah tua renta sehingga tak sanggup lagi menggarap sawah milik orang lain.

Idris (15) pelajar SMP di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan tengah kerja serabutan demi merawat dan menghidupi nenek dan bapaknya yang gangguan jiwa, Rabu (11/4/2018).KOMPAS.com/ABDUL HAQ Idris (15) pelajar SMP di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan tengah kerja serabutan demi merawat dan menghidupi nenek dan bapaknya yang gangguan jiwa, Rabu (11/4/2018).
Sementara bapaknya mengalami gangguan jiwa setelah kecelakaan kerja yang dialaminya 2011 silam.

Sebenarnya Idris memiliki dua saudara. Namun, kedua saudaranya dibawa pergi ibunya yang nekat meninggalkannya lantaran kondisi kejiwaan bapaknya yang tak kunjung sembuh.

Hal ini membuat Idris harus banting tulang mencari nafkah meski usianya masih terbilang sangat belia untuk mencari nafkah.

Kondisi ini pula yang membuat Idris nyaris tak pernah memiliki waktu untuk bermain bersama rekan sebayanya. Waktunya dihabiskan untuk belajar serta merawat dan menghidupi nenek dan orangtuanya.

(Baca juga: Memprihatinkan, Nenek 80 Tahun Bertahan Hidupi Dua Anaknya yang Gangguan Jiwa)

"Cuma dia saja bisa kerja karena neneknya sudah tidak bisa jalan dan bapaknya begitu saja cuma duduk termenung setiap hari karena gangguan jiwa. Jadi, kalau pulang sekolah, dia kerja sembarang kadang disuruh sama orang," kata Jumadin Daeng Tarra, salah seorang warga.

Baca tentang
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota: Hingga Hari Ini, Tidak Ada Warga Sukabumi Positif Covid-19

Wali Kota: Hingga Hari Ini, Tidak Ada Warga Sukabumi Positif Covid-19

Regional
Surabaya Segera Karantina Wilayah, 19 Pintu Masuk Dijaga, Pengendara Discreening

Surabaya Segera Karantina Wilayah, 19 Pintu Masuk Dijaga, Pengendara Discreening

Regional
Cerita Wabup soal Profesor Terjangkit Corona hingga Pemakaman Ditolak Warga

Cerita Wabup soal Profesor Terjangkit Corona hingga Pemakaman Ditolak Warga

Regional
Hari Pertama Penerapan Jam Malam, Banda Aceh Sepi

Hari Pertama Penerapan Jam Malam, Banda Aceh Sepi

Regional
[POPULER NUSANTARA] Surabaya Siap Karantina Wilayah | Polisi Bubarkan Arisan Guru di Jember

[POPULER NUSANTARA] Surabaya Siap Karantina Wilayah | Polisi Bubarkan Arisan Guru di Jember

Regional
Kronologi Ditemukannya Mayat ABG yang Hendak Jadi Pagar Ayu di Acara Pernikahan

Kronologi Ditemukannya Mayat ABG yang Hendak Jadi Pagar Ayu di Acara Pernikahan

Regional
Pria Ini Cabuli Calon Anak Tirinya, Modus Ajak Nonton YouTube

Pria Ini Cabuli Calon Anak Tirinya, Modus Ajak Nonton YouTube

Regional
Pasien Positif Corona di Banyuwangi Membaik, Sudah Copot Alat Bantu Pernafasan

Pasien Positif Corona di Banyuwangi Membaik, Sudah Copot Alat Bantu Pernafasan

Regional
Pasien Sembuh dari Corona di Solo Curhat ke Ganjar, Berharap Tak Dikucilkan Masyarakat

Pasien Sembuh dari Corona di Solo Curhat ke Ganjar, Berharap Tak Dikucilkan Masyarakat

Regional
Dicabuli Guru di Hutan, Gadis Difabel Cari Keadilan

Dicabuli Guru di Hutan, Gadis Difabel Cari Keadilan

Regional
Fakta Sembuhnya Pasien Corona di Solo, Gejala Selalu Kehausan dan Rutin Konsumsi Empon-empon

Fakta Sembuhnya Pasien Corona di Solo, Gejala Selalu Kehausan dan Rutin Konsumsi Empon-empon

Regional
Kepala Daerah Potong Gaji Bantu Warga Korban Wabah Corona, Siapa Saja?

Kepala Daerah Potong Gaji Bantu Warga Korban Wabah Corona, Siapa Saja?

Regional
Seorang Polisi di Medan Tembak Rekannya hingga Tewas, Motifnya Bercanda

Seorang Polisi di Medan Tembak Rekannya hingga Tewas, Motifnya Bercanda

Regional
Fakta Pasien Corona Pertama di Pamekasan, Usia 11 Tahun dan Hasil Tes Keluar Setelah 10 Hari Meninggal

Fakta Pasien Corona Pertama di Pamekasan, Usia 11 Tahun dan Hasil Tes Keluar Setelah 10 Hari Meninggal

Regional
'Kalian Pahlawan, Rela Bertaruh Nyawa Demi Selamatkan kami'

"Kalian Pahlawan, Rela Bertaruh Nyawa Demi Selamatkan kami"

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X