Korban Terus Berjatuhan, Kabupaten Bandung KLB Miras Oplosan

Kompas.com - 11/04/2018, 07:36 WIB
Dua wanita menangis setelah menerima kabar seorang anggota keluarganya meninggal akibat meminum minuman keras (miras) jenis oplosan, di sebuah rumah sakit di Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4/2018). Korban miras jenis oplosan di daerah tersebut terus bertambah, dari data terakhir sebanyak 23 orang dilaporkan tewas dengan indikasi keracunan. AFP PHOTO/TIMUR MATAHARIDua wanita menangis setelah menerima kabar seorang anggota keluarganya meninggal akibat meminum minuman keras (miras) jenis oplosan, di sebuah rumah sakit di Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4/2018). Korban miras jenis oplosan di daerah tersebut terus bertambah, dari data terakhir sebanyak 23 orang dilaporkan tewas dengan indikasi keracunan.

BANDUNG, KOMPAS.com — Korban miras oplosan terus bertambah. Data hingga Selasa (10/4/2018), jumlah korban meninggal akibat miras oplosan di Jabar mencapai 45 orang.

Tingginya korban membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menetapkan status kejadian luar biasa ( KLB).

"Statusnya KLB terkait kasus miras oplosan di Kabupaten Bandung tersebut sudah disetujui Kementerian Kesehatan. Dinas Kesehatan diminta untuk siaga menangani korban," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Ahmad Kustiaji, Selasa (10/4/2018).

Berdasarkan data dari Humas RSUD Cicalengka, rumah sakit ini menerima kunjungan 103 pasien keracunan alkohol dari 6-10 April 2018.

(Baca juga: Polisi Sukabumi Ringkus 4 Tersangka Pengedar Miras Oplosan)

Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Barat merilis korban tewas setelah menenggak miras oplosan mencapai 45 orang dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan mengatakan, korban tewas diduga akibat keracunan alkohol tersebut mendapatkan perawatan medis di tiga rumah sakit, yakni RSUD Cicalengka, RS AMC Cileunyi, dan RSUD Majalaya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan prihatin terhadap kasus miras oplosan yang merenggut 23 orang dari 58 pasien yang dirawat di dua rumah sakit di Cicalengka, Kabupaten Bandung.

"Yang pertama kami sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Kami berharap ke depan tidak ada kejadian seperti itu lagi. Yang kedua, kami mengajak semua pihak untuk peduli terhadap urusan seperti ini. Kepada kepolisian dan pihak terkait mari kita petakan kecenderungan kejadian seperti ini terjadi," ujarnya.

(Baca juga: Kapolda Jabar: Korban Tewas Miras Oplosan Jadi 45 Orang)

Ia merasa heran karena kasus miras oplosan menelan korban jiwa biasanya sering ditemui di kawasan utara Jawa Barat, tetapi sekarang malah terjadi di bagian selatan Jawa Barat di Sumedang, Garut, dan kini Kabupaten Bandung.

"Ini seperti merunut kejadiannya. Tentu ke depan harus segera dicegah. Yang sudah ada dilokalisasi, yang belum ada kasus harus dicegah dan mari kita jaga bersama-sama," katanya.

"Kami ingin semua lembaga terlibat, keluarga juga harus menjadi garda terdepan dalam menjaga, mendidik, dan merawat anak-anaknya," kata Aher seraya mengajak sekolah-sekolah di Jawa Barat menyosialisasikan bahaya miras oplosan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ditetapkan Tersangka, Oknum Polisi yang Cabuli Gadis ABG Pelanggar Lalu Lintas Mengakui Perbuatannya

Ditetapkan Tersangka, Oknum Polisi yang Cabuli Gadis ABG Pelanggar Lalu Lintas Mengakui Perbuatannya

Regional
Dianggap Sebarkan Berita Bohong, Tiga Petinggi Sunda Empire Dituntut 4 Tahun Penjara

Dianggap Sebarkan Berita Bohong, Tiga Petinggi Sunda Empire Dituntut 4 Tahun Penjara

Regional
Satu Korban Banjir Bandang Cicurug Sukabumi Masih dalam Pencarian

Satu Korban Banjir Bandang Cicurug Sukabumi Masih dalam Pencarian

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 22 September 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 22 September 2020

Regional
Sadis, Istri Dianiaya Suami dengan Golok hingga Jarinya Putus karena Cemburu, Ini Kronologinya

Sadis, Istri Dianiaya Suami dengan Golok hingga Jarinya Putus karena Cemburu, Ini Kronologinya

Regional
Panitia Balap Lari di Solo Urus Izin ke Satgas Covid-19: Biar Tak Dikejar-kejar

Panitia Balap Lari di Solo Urus Izin ke Satgas Covid-19: Biar Tak Dikejar-kejar

Regional
Korupsi Rp 2,1 M Pegawai BRI Terbongkar, Berawal dari Kecurigaan Debitur Uang di Tabungan Raib

Korupsi Rp 2,1 M Pegawai BRI Terbongkar, Berawal dari Kecurigaan Debitur Uang di Tabungan Raib

Regional
Pilkada di Tengah Pandemi, Gubernur Kalbar Tak Yakin Paslon Patuh Protokol Kesehatan

Pilkada di Tengah Pandemi, Gubernur Kalbar Tak Yakin Paslon Patuh Protokol Kesehatan

Regional
Pakai Alat Berat, Ratusan Lapak di Pasar Mardika Ambon Digusur

Pakai Alat Berat, Ratusan Lapak di Pasar Mardika Ambon Digusur

Regional
Peti Jenazah Pasien Covid-19 di Cilacap Dibuka Keluarga, Ganjar: Ikuti Prosedur Dokter

Peti Jenazah Pasien Covid-19 di Cilacap Dibuka Keluarga, Ganjar: Ikuti Prosedur Dokter

Regional
Pegawai BRI Korupsi Rp 2,1 M untuk Judi Bola Online, Ambil Uang 11 Nasabah Sedikit demi Sedikit

Pegawai BRI Korupsi Rp 2,1 M untuk Judi Bola Online, Ambil Uang 11 Nasabah Sedikit demi Sedikit

Regional
Kronologi Penangkapan Anggota DPRD yang Jadi Bandar Narkoba

Kronologi Penangkapan Anggota DPRD yang Jadi Bandar Narkoba

Regional
Oknum Polisi Cabuli Gadis ABG Pelanggar Lalu Lintas, Kapolres: Hasil Visum Ditemukan Bukti Telah Terjadi Persetubuhan

Oknum Polisi Cabuli Gadis ABG Pelanggar Lalu Lintas, Kapolres: Hasil Visum Ditemukan Bukti Telah Terjadi Persetubuhan

Regional
Ibu dan 2 Anaknya Tewas dalam Kebakaran Toko di Bireuen, Aceh

Ibu dan 2 Anaknya Tewas dalam Kebakaran Toko di Bireuen, Aceh

Regional
Guru Besar Ahli Epidemologi di Bali Meninggal karena Covid-19

Guru Besar Ahli Epidemologi di Bali Meninggal karena Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X