Survei Pilkada Kota Bandung, Oded-Yana 45 Persen, Nurul-Rully 19 Persen

Kompas.com - 02/04/2018, 22:25 WIB
Empat pasangan calon Pilkada Kota Bandung saat hadir dalam debat publik perdana di BnB Hotel, Metro Indah Mall, Jalan Sukarno Hatta, Minggu (25/3/2018) malam.  KOMPAS.com/DENDI RAMDHANIEmpat pasangan calon Pilkada Kota Bandung saat hadir dalam debat publik perdana di BnB Hotel, Metro Indah Mall, Jalan Sukarno Hatta, Minggu (25/3/2018) malam.

BANDUNG, KOMPAS.com - Rectoverso Institute merilis hasil survei popularitas dan elektabilitas tiga pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota kontestan Pilkada Kota Bandung 2018, Senin (2/4/2018).

Survei yang dilakukan 17-25 Maret 2018 itu menggunakan metode Multi Stage Random Sampling dengan margin error 5 persen. Survei itu melibatkan 400 responden yang tersebar di 30 kecamatan di Bandung.

Hasil survei menunjukan, elektabilitas pasangan nomor urut 3 Oded M Danial dan Yana Mulyana menempati urutan teratas dengan 45 persen. Disusul pasangan nomor urut 2, Yossi Irianto dan Aries Supriatna dengan angka 31,50 persen.

Sementara pasangan nomor urut 1, Nurul Arifin dan Chairul Yaqin Hidayat berada di posisi terendah dengan perolehan 19 persen.

(Baca juga : Pilkada Sumut, JR Saragih Dukung Djarot-Sihar)

Sedangkan hasil popularitas menunjukan, Oded M Danial selaku petahana menduduki peringkat pertama dengan perolehan 80 persen.

Politisi Partai Golkar Nurul Arifin menempati peringkat kedua dengan 72,75 persen, serta mantan Sekda Kota Bandung Yossi Irianto mengantongi nilai 66,25 persen.

Direktur Rectoverso Institute, Romdin Azhar mengatakan, salah satu temuan paling mencolok yakni angka popularitas Nurul Arifin berbanding terbalik dengan nilai elektabilitasnya.

Sementara nilai popularitas para pendamping relatif sama rendah berkisar di angka 30 persen.
Menurut dia, situasi itu terjadi lantaran faktor kesukaan responden. Artinya, lanjut Romdin, popularitas tinggi tak menjamin warga akan memilih.

"Bedanya kesukaan. Memang kenal ke Nurul tapi pas ditanya suka atau enggak, nah (tingkat kesukaan) warga masih rendah. Jadi populer saja tidak cukup, tapi harus disukai," kata Romdin.

"Nah soal margin error 5 persen, kalau perbedaan selisih angka elektabilitasnya dari yang tertinggi ke yang kedua kurang dari 5 persen berarti tidak terlalu jauh perubahannya," tambah Romdin.

 

(Baca juga : Survei Kompas: Pilkada Jabar, Sosok yang Diusung Pengaruhi Dukungan Partai)

Kondisi tersebut berbanding lurus dengan hasil survei terkait kriteria pemimpin untuk Kota Bandung. Hasilnya, 47 persen warga Bandung memilih pemimpin yang berpengalaman, 24,75 persen memiliki visi dan misi program yang jelas, serta 16,50 persen cerdas.

Namun, para pemilih di Bandung relatif tak loyal dan kemungkinan mengubah pilihan sangat tinggi. Romdin mengungkapkan, ada tiga hal yang mampu mengubah pilihan warga Bandung.

"53 persen warga Bandung masih mungkin mengubah pilihannya. Alasannya tiga hal, karena ada kandidat yang kasih uang (money politic), isu negatif, dan faktor interaksi langsung dari paslon dengan masyarakat," tuturnya.

Dengan sisa waktu kampanye yang relatif masih panjang, kata Romdin, besar kemungkinan arah pilihan warga Bandung berubah. Salah satu kiatnya, memperluas interaksi dengan masyarakat serta merawat kantong suara.

"Justru perubahan pilihan Kota Bandung itu masih tinggi sekitar 53 persen. Ini masih layak diperjuangkan. Poinnya, kandidat harus memperluas kontak dengan masyarakat dan harus di maintenance lokasi yang dianggap sebagai kantong suara," jelasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X