Psikolog Sebut Konsep Diri Rendah Picu Sinta Aniaya Bayi Calista

Kompas.com - 29/03/2018, 16:09 WIB
Tangis Sinta pecah, ia memeluk jenazah putrinya, Calista. Sinta ditetapkan sebagai tersangka penganiaya terhadap Calista pada Kamis (22/3/2018) lalu. Sinta diketahui kerap menangis saat ditahan di Mapolres Karawang. KOMPAS.com/Farida FarhanTangis Sinta pecah, ia memeluk jenazah putrinya, Calista. Sinta ditetapkan sebagai tersangka penganiaya terhadap Calista pada Kamis (22/3/2018) lalu. Sinta diketahui kerap menangis saat ditahan di Mapolres Karawang.

KARAWANG, KOMPAS.com - Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Karawang, Cempaka Putri Dimala mengatakan, faktor penyebab Sinta melakukan kekerasan terhadap putri kandungnya, Calista, lantaran kurang matangnya konsep diri.

Hal tersebut merupakan hasil observasi terhadap tersangka penganiaya bayi Calista, Sinta, Senin (26/3/2018) lalu. Observasi tersebut dilakukan selama dua jam.

"Hasilnya, kami tidak menemukan adanya postpartum sistress syndrome atau baby blues syndrome," kata Cempaka ditemui di Kantor P2TP2A Kabupaten Karawang Jalan Ahmad Yani, Karawang, Kamis (29/3/2018).

Ia menyebut, kekerasan yang dilakukan Sinta lantaran konsep diri yang rendah, ketidakmatangan emosional, dan tidak siap mendidik anak.


"Sinta dilahirkan di keluarga yang mempunyai banyak anak. Saudaranya ada 11 dan dititipkan ke sepupu ibunya. Ia juga mengalami putus sekolah," tambahnya.

(Baca juga : Yang Terjadi pada Calista, Kesalahan Orang Dewasa dan Lingkungannya)

Sinta yang sejak lahir diasuh saudara ibunya kemudian neneknya, sambung dia, menyebabkan hubungan relasi dengan keluarganya kurang. "Kelekatan (hubungan) kurang," ujarnya.

Menurutnya, hal ini menyebabkan Sinta haus akan afeksi. Penyebabnya karena pola asuh antara orangtua kandung dan ibu asuh berbeda. Ditambah dengan latar belakang pernikahannya yang dua kali kandas.

"Dia haus akan afeksi," tandasnya.

Cempaka menyebut, Sinta menyesali perbuatannya dan tidak berniat menghilangkan nyawa Calista.

"Ia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu menyebabkan Calista meninggal. Jadi bukan suatu kesengajaan," tambahnya.

(Baca juga : KPA Dukung Proses Hukum Penganiayaan Bayi Calista Dilanjutkan)

Menurutnya, kekerasan tersebut justru terjadi lantaran Sinta tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sehingga, ia meluapkan emosionalnya kepada sang anak.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X