Kompas.com - 24/03/2018, 10:48 WIB
Budi Utomo, warga Kulon Progo, saat mampir di warung pun bangga mengenakan batik motif Geblek Renteng. KOMPAS.com/Dani JBudi Utomo, warga Kulon Progo, saat mampir di warung pun bangga mengenakan batik motif Geblek Renteng.

Dalam risau kegagalan, Girin akhirnya memutuskan jualan batik bikinan sendiri sebagai jalan terakhir. Semangat itu makin berkobar karena ‘panas’ mendengar Malaysia mengklaim batik pada 2008-2009.

“Saya niat mati opo mukti (mati atau wibawa) di jalan terakhir ini. Kalau uang (pinjaman) ini dipakai ngangsur akan habis, atau kalau dengan batik, mudah-mudahan ada hasil,” kata Girin.

Dia membeli 14 potong kain dengan uang Rp 700.000 dari hasil menggadai satu-satunya telepon selular miliknya.

Dia memutar memori masa lalu. Konsep batik kreatif yang pernah tersimpan di benaknya saat kerja dulu, siap untuk dilahirkan.

Untuk mewujudkan corak itu, dia meminjam cap dan pewarna pada seorang teman. Girin dengan keahlian batik cap membuat 3 corak dengan warna berbeda-beda dalam tiap potong kain.

Dia mengakui, corak itu sebenarnya hanya untuk menutupi keterbatasan diri karena minim modal. Hasilnya justru memunculkan corak Batik Pulo yang tren sekarang.

“Ketika ditanya, itu batik apa. Saya jawab itu Batik Pulo. Kok satu batik ada banyak warna. Saya jawab warna pelangi, warna kontemporer. Memasyarakatlah Batik Pulo ya seperti itu,” kata Girin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

(Baca juga: Transaksi Misterius yang Bikin Uang Nasabah BRI Mendadak Raib)

Sejak saat itu, pesanan demi pesanan mulai mengalir.

“Karena itu saya berpikir, ternyata orang selama ini tidak suka batik karena batik itu monoton,” kata Girin.

Dia bertekad membatik secara massal. Jalannya terbuka ketika ditawari modal Rp 6 juta sekaligus ikut pameran UMKM di Yogyakarta. Uang dipakai untuk memproduksi batik kreatif Rp 48.000-60.000 per kain.

Ketika pameran, Girin membanderol batiknya lebih dari 8 kali lipat biaya produksi. Harga itu untuk menghormati mantan-mantan juragannya yang kebetulan ikut serta dalam pameran UMKM itu.

Sebanyak 70 potong kain batik habis terbeli di pameran. Dia untung puluhan juta rupiah. Girin pun lolos dari bencana kebangkrutan. Itu titik balik hidupnya dari keterpurukan.

“Mulailah saya dikenal. Mantan juragan saya menjadikan saya mitra untuk menyuplai galeri mereka yang ada di Yogyakarta maupun Bogor sampai sekarang. Permintaannya besar sampai saya tak kuat, sedangkan saya punya toko. Saya juga mensuplai ke beberapa tempat,” kata Girin.

Girin menamai bikinannya Sembung Batik yang berarti batik rakyat asal Dusun Sembungan. Sembungan sendiri diambil dari nama orang terpandang di dusun itu.

Mencintai batik

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, lanjut dia, punya andil besar dalam perkembangan Lendah. Ia menerapkan kebijakan cinta produk lokal, termasuk batik. Karena kebijakan pemerintah itu, permintaan batik di Lendah pun meningkat.

“Memang masa Pak Bupati Hasto membuat hidup kami jadi enak,” kata Girin.

Apalagi, Geblek Renteng jadi ikon batik kabupaten sekitar 4 tahun lalu. Geblek itu makanan khas Kulon Progo berbentuk seperti angka 8. Batik dengan dominasi ‘angka 8’ tentu khas Kulon Progo.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejumlah Warga Tak Mau Terima BST Dobel, Begini Respons Ganjar Pranowo

Sejumlah Warga Tak Mau Terima BST Dobel, Begini Respons Ganjar Pranowo

Regional
Bantu Pemkab Bogor Kejar Target, Telaga Kahuripan Fasilitasi Vaksin untuk Warga

Bantu Pemkab Bogor Kejar Target, Telaga Kahuripan Fasilitasi Vaksin untuk Warga

Regional
11 Tahun Menanti, Wonogiri Akhirnya Kantongi Predikat KLA Tingkat Pratama

11 Tahun Menanti, Wonogiri Akhirnya Kantongi Predikat KLA Tingkat Pratama

Regional
Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, Pemkot Semarang Tak Lagi Lakukan Penyekatan

Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, Pemkot Semarang Tak Lagi Lakukan Penyekatan

Regional
Isoman Rawan Tularkan Virus, Pemkab Wonogiri Terapkan Tempat Isolasi Terpadu

Isoman Rawan Tularkan Virus, Pemkab Wonogiri Terapkan Tempat Isolasi Terpadu

Regional
Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Apresiasi Aksi Peduli Covid-19 Mahasiswa di Semarang, Ganjar: Bisa Jadi Contoh untuk Daerah Lain

Regional
Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Jamin Biaya Pemakaman Pasien Covid-19, Pemkab Wonogiri Anggarkan Rp 2 Juta Per Pemulasaraan

Regional
Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Keterlibatan Pemerintah Bikin BOR di Wonogiri Turun Drastis Selama PPKM

Regional
Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Bupati Wonogiri Fokus Percepat Vaksinasi di Tingkat Kecamatan

Regional
Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk, Wali Kota Madiun Terima Penghargaan MKK 2021

Regional
Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Sapa Warga Subang dan Purwakarta, Ridwan Kamil Bagikan Sembako dan Tinjau Vaksinasi

Regional
Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Mahasiswa Bantu Penanganan Covid-19, Ganjar Pranowo Berikan Apresiasi

Regional
Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi 'Getar Dilan' Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Wujudkan Ketahanan Pangan, Inovasi "Getar Dilan" Luwu Utara Masuk Top 45 KIPP

Regional
Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Jabar Optimistis Desa Wisatanya Akan Menang di Ajang ADWI 2021

Regional
Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Meninggal Usai Makan Singkong Bakar, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X