Kelestarian Burung Maleo Terancam, Habitatnya Diganggu Aktivitas Manusia

Kompas.com - 23/03/2018, 14:12 WIB
Burung maleo (Macrocephalon maleo) di Cagar Alam Panua, Gorontalo. Burung ini meletakkan telurnya di dalam pasir dan menyerahkan pada panas matahari untuk mengeraminya selama 60 hari. KOMPAS.com/IDHAM ALIBurung maleo (Macrocephalon maleo) di Cagar Alam Panua, Gorontalo. Burung ini meletakkan telurnya di dalam pasir dan menyerahkan pada panas matahari untuk mengeraminya selama 60 hari.

GORONTALO, KOMPAS.com – Tiga ancaman serius mengintai kelangsungan hidup burung maleo (Macrocephalon maleo), satwa endemik Pulau Sulawesi.

Ketiganya adalah rusaknya habitat hutan, hilangnya ladang peneluran, serta perburuan burung dan telurnya.

“Tidak semua hutan atau pantai menjadi habitat burung maleo,” kata Iwan Hunowu, Sulawesi Program Manager, Wildlife Conservation Society–Indonesia Program (WCS-IP), Jumat (23/3/2018).

Burung ini hanya bisa ditemukan di hutan primer yang memiliki panas bumi (geotermal) atau di kawasan hutan yang memiliki pantai.

Baca juga: Untuk Kali Pertama pada 2018, Anak Burung Maleo Menetas di Pohulongo 

Di Pulau Sulawesi, tidak banyak hutan yang memiliki kondisi lingkungan yang dibutuhkan maleo untuk melangsungkan kehidupannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Namun, tidak semua hutan yang ada panas buminya terdapat burung maleo. Burung ini juga pilih-pilih lokasi yang sesuai,” tutur Iwan.

Habitat unik dan khas ini membuat burung maleo rentan terhadap gangguan, terutama oleh manusia. Sedikit saja ancaman muncul, sulit bagi maleo untuk mengembangkan kehidupannya.

Perambahan hutan dan alih fungsi di kawasan peneluran maleo menjadi ancaman utama burung ini. Maleo akan terusir dari habitatnya dan sulit menemukan lahan yang dibutuhkan untuk berkembang biak.

Baca juga: Ada Burung Mirip Maleo Hidup di NTT 

Perburuan burung dan telurnya oleh orang yang tidak bertanggung jawab menghantui kelangsungan hidup mereka.

Di Gorontalo, maleo dijumpai di kawasan Hungayono, Pohulongo, dan beberapa titik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Mereka mengandalkan panas bumi untuk “mengerami” telur.

Di kawasan barat Gorontalo, burung ini dijumpai di Cagar Alam Panua yang meletakkan telurnya di pasir pantai. Telur ini menetas setelah panas pasir yang bersumber dari matahari menghangatkannya selama 60 hari.

Kompas TV BKSDA bersama Yayasan Wildlife Rescue Center dan UGM Yogyakarta berencana melepasliarkan seekor burung elang brontok di kawasan hutan Bunder, Gunung Kidul.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Regional
Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Regional
Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Regional
Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Regional
Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Regional
Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.