Kompas.com - 19/03/2018, 10:19 WIB
Untuk memberi kenyamanan bermain kendang, Maman juga menyediakan penyanggannya. KOMPAS.com/Muhlis Al AlawiUntuk memberi kenyamanan bermain kendang, Maman juga menyediakan penyanggannya.


Malaysia hingga Inggris

Menjual kendang ke pasaran tidaklah gampang. Apalagi alat musik kendang memiliki segmen penikmat dan pembeli tersendiri.

Tak kurang akal, Maman menggunakan jejaring di perguruan tinggi yang memiliki jurusan seni untuk membantunya. Dari jejaring itu, tak sedikit orang asing seperti Malaysia, Jepang, hingga Inggris memesan kendang besutannya.

Tak hanya mendapatkan pesanan dari mancanegara, pria asal Somoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo ini juga kerap diundang sebagai instruktur mengajari mengendang hingga menyetel alat kendang di luar negeri.

Dari pengalamannya menjadi instruktur kendang di negeri Jiran, Maman menemukan perbedaan selera mengendang orang Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, nada kendang yang digunakan nada bes terdengar seperti kolaborasi kendang Jawa dan Melayu.

"Awalnya saya tertawa karena mereka memilih nada bes untuk musik melayu. Padahal dari sini sudah saya setel dengan nada A," kata Maman. 

Maman juga pernah menjadi instruktur di Jepang dan Inggris. Hanya saja, ia merasa urusan administrasi masuk ke dua negara itu rumit. Rumitnya terutama saat berada di bandara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat berada di Inggris, dirinya tiga kali transit sebelum sampai tujuan dan terus mengalami masalah. Permasalahannya bukan lantaran passport. Namun terkait alat yang digunakan seperti kulit hingga pisau khusus dipersoalkan.

"Lantaran dipersoalkan saya sampai kasih telepon petugasnya dengan pihak pengundang langsung untuk berbicara. Setelah mereka berkomunikasi baru diperbolehkan membawa alat-alat tersebut," ungkap Maman.

Saat berada di mancanegara, Maman merasa heran dengan antusias orang di Inggris dan Malaysia yang rela antre untuk belajar mengendang dan menyetel kendang.

"Setiap dua jam saya pindah tempat untuk mengajari peserta kursus. Saya juga heran di sana bermain kendang begitu banyak diminati. Sementara di sini kok seperti diabaikan dan jarang diminati," jelas Maman.

Meski hasil karyanya sampai luar negeri, ia justru merasa sedih. Maman merasa kendang sebagai salah satu piranti gamelan kurang diperhatikan keberadaannya oleh pemerintah.

"Kesedihan saya karena di sini kurang diperhatikan budaya seperti itu. Sementara di negara lain, orang sampai rela mengantre untuk bisa mengendang dan menyetel alatnya," tuturnya.

"Saya merasa di sini seperti tidak dijaga malah dibiarkan hingga terjungkir. Makanya saya merasa kasihan dan sedih," tambahnya.

Ia merasa heran, pemerintah memberikan bantuan kepada warga yang membuka usaha warung di pinggir jalan. Padahal industri gamelan seperti kendang bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Maman mengakui selama ini pemerintah belum memerhatikan keberadaan usaha alat-alat musik tradisional. Padahal industri alat-alat musik tradisional membutuhkan pembinaan dan promosi dari pemerintah.

Kendati demikian, Maman berharap pemerintah lebih menggiatkan lagi musik gamelan sebagai musik kebanggaan bangsanya sendiri. Salah satu caranya, menghidupkan gamelan di sekolah-sekolah sebagai ektrakurikuler wajib.

Kondisi itu akan menjadikan anak anak memiliki pengalaman terhadap musik gamelan dan menyenangi alat musik jawa tersebut. 

Kompas TV Petani asal Kendeng, Jawa Tengah, kembali berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Regional
Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Regional
Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.