Mencermati Somasi Buat Produsen Rokok

Kompas.com - 11/03/2018, 21:07 WIB
Ilustrasi merokok dan minum minuman beralkohol Steve MasonIlustrasi merokok dan minum minuman beralkohol


JAKARTA, Kompas.com - PT Gudang Garam, Tbk dan PT Djarum disarankan untuk tidak melayani somasi yang dilayangkan oleh seorang perokok bernama Rohayani. Pasalnya, somasi tersebut akan menjadi preseden buruk bagi industri konsumer di Tanah Air seperti rokok, makanan dan minuman.

Pendapat itu disampaikan oleh pengamat sosial Suhardi di Jakarta Minggu (11/3/2018). ”Somasi itu aneh, karena hubungan dia dengan perusahaan rokok itu kan jual beli. Karena itu sebaiknya tidak perlu dilayani,” ujarnya.

Suhardi beralasan, jika kedua produsen rokok itu sampai melayani somasi semacam itu, akan menjadi preseden buruk. Bukan mustahil, hal itu akan mendorong 90 juta perokok lain di Indonesia untuk melakukan hal yang sama. ”Dia (Rohayani) menuntut Rp 178 juta kepada Gudang Garam dan Rp 293 juta kepada Djarum, ditambah santunan Rp 1 triliun. Kalau dikabulkan, perokok lain akan berbondong-bondong melakukan hal serupa,” jelas dia.

Suhardi  menambahkan, setiap perokok memiliki kemerdekaan untuk menghentikan kebiasaan merokok, juga mengganti jenis dan merek dagang rokok yang dikonsumsi. Dengan begitu, hubungan antara perokok dan produsen hanyalah hubungan dagang biasa. Tidak ada unsur paksaan. ”Jadi, keputusan sepenuhnya ada di tangan konsumen sendiri. Faktanya, banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti atau tidak merokok lagi,” lanjutnya.

Sebagai peneliti yang pernah melakukan penelitian tentang konsumsi tembakau di Indonesia, Suhardi tak menepis fakta, tembakau yang ada di dalam rokok memang memberi efek ketagihan. Tetapi hal itu lumrah, karena efek ketagihan juga terjadi pada produk konsumer lain seperti kopi, teh atau gula. ”Kalau kemudian ada konsumen terkena diabetes, apakah wajar dia melayangkan somasi ke pabrik kopi atau pabrik gula?” ujarnya.

Karena itu, terkait penyakit yang diderita Rohayani, Suhardi menyarankan perlunya dilakukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut. Hal itu penting untuk mengetahui secara pasti apa penyebab dia terpapar penyakit.

Apalagi, menurut pengakuan Rohayani sendiri, ia menjadi pecandu rokok selama kurun waktu 1975 s.d. 2000. Artinya, sudah 18 tahun yang lalu dia berhenti merokok. ”Jadi, jangan hanya berbekal pandangan subyektif lalu menyimpulkan sendiri bahwa kebiasaan merokoklah yang mengakibatkan dirinya sakit,” tegas Suhardi.

Seperti diwartakan, Rohayani – perempuan berusia 50 tahun – mengaku telah menjadi konsumen rokok dari dua merek dagang tersebut sejak 1975 hingga 2000. Merasa kecanduan dan membuat paru-parunya sakit, ia lalu mengirim somasi, menuntut ganti rugi kepada Gudang Garam sebesar Rp 178.074.000 dan Djarum sebesar Rp 293.068.000.

Angka tersebut adalah jumlah uang yang ia habiskan untuk membeli rokok. Selain itu, ia juga meminta santunan masing-masing senilai Rp 500 miliar kepada kedua produsen rokok.

Rohayani melayangkan somasi pada 19 Februari 2018, didampingi oleh pengacara kondang Todung Mulya Lubis dan Azas Tigor Nainggolan. Dalam somasinya, Rohayani menyebutkan, jika tuntutan yang mencapai Rp 1 triliun itu tidak dipenuhi, dirinya akan membawa kasus ini ke meja hijau.

Menurut Todung, somasi mendasarkan pada ketentuan Pasal 19 ayat (1) UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Bunyinya: pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berikan Kode OTP karena Dijanjikan Pulsa Rp 500.000, Ratusan Juta Tabungan Nasabah Bank Raib

Berikan Kode OTP karena Dijanjikan Pulsa Rp 500.000, Ratusan Juta Tabungan Nasabah Bank Raib

Regional
Kasus Covid-19 Meningkat, Gubernur Banten Ingatkan Pandemi Masih Jadi Ancaman

Kasus Covid-19 Meningkat, Gubernur Banten Ingatkan Pandemi Masih Jadi Ancaman

Regional
Pangdam Siliwangi dan Kapolda Banten Akan Turunkan Baliho Tak Berizin

Pangdam Siliwangi dan Kapolda Banten Akan Turunkan Baliho Tak Berizin

Regional
Pengungsi Gunung Merapi di Sleman Dibekali Pelatihan Keterampilan

Pengungsi Gunung Merapi di Sleman Dibekali Pelatihan Keterampilan

Regional
Gubernur Banten Sebut Sekolah Tatap Muka Dimulai pada Januari 2021

Gubernur Banten Sebut Sekolah Tatap Muka Dimulai pada Januari 2021

Regional
Permudah Akses Pelayanan Publik Lewat Inovasi, Diskominfo Babel Raih 4 Penghargaan

Permudah Akses Pelayanan Publik Lewat Inovasi, Diskominfo Babel Raih 4 Penghargaan

Regional
Cerita Kapolsek Takut Menangis Saat Anak Seorang Tahanan Menikah di Kantor Polisi

Cerita Kapolsek Takut Menangis Saat Anak Seorang Tahanan Menikah di Kantor Polisi

Regional
Debat Pilkada Karawang, Adu Canggih Teknologi hingga Janji Calon Bupati

Debat Pilkada Karawang, Adu Canggih Teknologi hingga Janji Calon Bupati

Regional
Aplikasi Fight Covid-19 Babel Raih Penghargaan dari Kemenpan RB

Aplikasi Fight Covid-19 Babel Raih Penghargaan dari Kemenpan RB

Regional
Limbah Sungai Ciujung Jadi Topik Debat, Ini Kata 2 Paslon Pilkada Serang

Limbah Sungai Ciujung Jadi Topik Debat, Ini Kata 2 Paslon Pilkada Serang

Regional
Ratusan Rumah di Kabupaten Tasikmalaya Terendam Banjir

Ratusan Rumah di Kabupaten Tasikmalaya Terendam Banjir

Regional
Ditegur Tak Pakai Helm, Ibu Ini Marahi Polisi di Tengah Jalan, Ini Ceritanya

Ditegur Tak Pakai Helm, Ibu Ini Marahi Polisi di Tengah Jalan, Ini Ceritanya

Regional
Dalam Hitungan Menit Setelah Berikan Kode OTP, Ratusan Juta Tabungan Nasabah Bank Raib

Dalam Hitungan Menit Setelah Berikan Kode OTP, Ratusan Juta Tabungan Nasabah Bank Raib

Regional
Sumbangkan Warisan Naskah Kuno Diduga Berusia 200 Tahun, Ini Harapan Rasiti

Sumbangkan Warisan Naskah Kuno Diduga Berusia 200 Tahun, Ini Harapan Rasiti

Regional
KPK Tangkap Menteri Edhy, Pukat UGM Sebut Penangkapan Level Tinggi

KPK Tangkap Menteri Edhy, Pukat UGM Sebut Penangkapan Level Tinggi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X