Di Tangan Sidik, Gerabah Bayat "Naik Kelas" dan Raih Penghargaan UNESCO

Kompas.com - 08/03/2018, 15:11 WIB
Sidik Purnomo (23), pemuda asal Klaten, yang ingin mengembangkan gerabah/keramik khas tanah Bayat menjadi lebih berkelas. Sidik baru mendapat penghargaan dari UNESCO dan Citi Foundation atas kreativitasnya belum lama ini. KOMPAS.com/IKA FITRIANA Sidik Purnomo (23), pemuda asal Klaten, yang ingin mengembangkan gerabah/keramik khas tanah Bayat menjadi lebih berkelas. Sidik baru mendapat penghargaan dari UNESCO dan Citi Foundation atas kreativitasnya belum lama ini.

BANTUL, KOMPAS.com - Gerabah adalah kerajinan yang populer di kawasan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di tanah kelahirannya itu, tak heran jika Sidik Purnomo tumbuh menjadi pemuda yang gemar dengan seni mengolah tanah liat.

Kegemaran itu pula yang telah mengantarkan Sidik memenangi Kompetisi Pemuda Kreatif (Youth Creative Competition) yang digelar oleh UNESCO dan Citi Foundation di Yogyakarta belum lama ini.

Pemuda kelahiran 9 Juni 1994 itu mulai belajar serius tentang gerabah sejak duduk di bangku SMK Negeri 1 Rota, Bayat, Jurusan Kriya Keramik. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di jurusan yang sama di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta hingga sekarang.


Ilmunya tentang gerabah juga diperoleh ketika berkesempatan magang di Jepang pada tahun 2013-2014. Dari negeri sakura itu, Sidik belajar bagaimana menghargai gerabah menjadi karya seni tinggi.

Baca juga: Perajin Rotan Asal Aceh, Aminah Beromzet hingga Rp 30 Juta Per Bulan

Bagi Sidik, gerabah memang tidak sekadar bisa dibuat peralatan rumah tangga maupun cenderamata, seperti kebanyakan gerabah yang dijumpai di kawasan Bayat. Namun, gerabah bisa dikreasikan menjadi benda-benda dekoratif, tidak terkecuali peralatan rumah tangga yang memiliki nilai seni tinggi.

"Kalau lihat di Bayat, gerabah hanya dibuat benda-benda itu-itu saja, sejak dahulu sampai sekarang juga masih, harga juga relatif murah. Padahal, gerabah Bayat bisa dibuat dengan teknik tertentu sehingga punya ciri khas, bisa dijual lebih mahal," papar Sidik saat ditemui di studio Kresan Art di Dusun Pringgading RT 1, Desa Goasari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, belum lama ini.

Kata Sidik, tanah liat khas Bayat memiliki keunikan tersendiri dibanding tanah liat dari daerah lain, yakni memiliki warna cenderung kecoklatan. Jika pada tahap terakhir (glasir) menggunakan teknik reduksi akan menghasilkan warna yang menarik dan alami.

"Saya pakai tanah liat dari Bayat, karakteristik beda, dari tekstur dan warna dasar coklat. Saya sering pakai teknik glasir reduksi sehingga ada efek gelap, hasil akhirnya terkesan handmade," ungkap putra dari pasangan Sadiyem dan Sagiman ini.

Kalau gerabah pada umumnya, lanjut Sidik, memiliki dasar warna merah dengan teknik glasir oksidasi akan menghasilkan keramik yang cerah dan bening. Sidik sendiri memakai tungku pembakaran sederhana yang dirakit sendiri.

Baca juga: Mengenal Singgih, Perajin Stik Bambu di Madiun yang Dikenal hingga Luar Negeri

Beberapa gerabah tanah Bayat hasil produksi Sidik Purnomo. KOMPAS.com/IKA FITRIANA Beberapa gerabah tanah Bayat hasil produksi Sidik Purnomo.

Mengangkat gerabah Bayat

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X