Mengenal Singgih, Perajin Stik Bambu di Madiun yang Dikenal hingga Luar Negeri

Kompas.com - 05/03/2018, 15:44 WIB
Singgih melayani pembeli yang memesan produk kerajinan berbahan stik bambu. KOMPAS.com/Muhlis Al AlawiSinggih melayani pembeli yang memesan produk kerajinan berbahan stik bambu.

"Harganya murah, satu bonggol isi 1.000 batang, cuma Rp 75.000," katanya.

Setahun bergelut dengan stik bambu, pria yang masih bujang ini telah berhasil membuat beragam bentuk dan jenis kerajinan dari stik bambu. Dengan bahan stik bambu, ia berhasil membuat lampu hias, pigura, gantungan kunci, miniatur rumah, miniatur vespa, miniatur kereta, miniatur biola, dan beragam bentuk unik lainnya.

Baca juga: Mengembangkan Wisata Hidroponik dan Kerajinan Limbah Kayu

Untuk membuat kerajinan dari stik bambu, Singgih bekerja sendirian. Satu produk kerajinan yang dibuat dari bahan stik bambu membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu.

"Semua bentuk produk kerajinan stik bambu saya buat secara manual. Hanya menggunakan peralatan sederhana, seperti pisau, cutter, kawat, tang, dan lem kayu," jelas Singgih.

Lantaran bekerja sendiri, Singgih mengaku belum bisa memproduksi secara massal. Tak hanya itu, peralatan yang belum memadai juga menjadikan Singgih tak bisa berkarya dalam jumlah yang banyak.

Untuk memasarkan karya uniknya itu, Singgih menawarkan produknya melalui akun Facebook dan Instagram miliknya. Biasanya para pembeli kerajinan buatannya berasal dari pencinta kerajinan unik.

Keunikan kerajinan stik bambu, lanjut Singgih, menjadikan seorang warga Jerman memesan miniatur rumah. Namun, karya miniatur rumah itu batal dikirim karena masalah packing pengiriman.

"Saya pernah mendapatkan pesanan miniatur rumah dari orang Jerman. Tetapi karena packing-nya susah, akhirnya enggak jadi," tuturnya.

Untuk harga satu produk kerajinan stik bambunya, Singgih menjual mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 300.000. Harga tergantung dengan tingkat kerumitan serta banyaknya bahan yang dibutuhkan.

"Kalau ukurannya besar dan tingkat kerumitannya tinggi, tentu harganya akan berbeda dibandingkan produk yang ukurannya kecil," ucap Singgih.

Baca juga: Dedi Mulyadi Ingin Kerajinan Perkakas Tradisional Masuk Kurikulum Sekolah

Menurut Singgih, ukuran dan bentuk selalu ditanyakan kepada pemesan produknya terlebih dahulu. Setelah sepakat mengenai ukuran dan bentuk gambar, Singgih lalu membuat sketsa hingga dilanjutkan merangkai satu per satu stik bambu menjadi kerajinan.

Untuk pengembangan usahanya, Singgih berharap mendapat bantuan modal dari Pemerintah Kota Madiun. Bukan hanya sekadar modal untuk membeli peralatan, melainkan juga pendampingan dan dibantu dalam hal pemasaran.

"Selama ini saya masih terkendala modal dan pemasaran, apalagi di sini belum ada wadah UKM pemula," jelas Singgih.

Bagi Singgih, pemerintah semestinya lebih banyak mendampingi UKM pemula agar bisa mengembangkan usahanya. Tanpa pendampingan modal dan pemasaran, UKM pemula tak akan bisa berkembang mengikuti pasar. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ganjar soal Rencana Sekolah Tatap Muka pada Juli 2021: Uji Coba Dulu

Ganjar soal Rencana Sekolah Tatap Muka pada Juli 2021: Uji Coba Dulu

Regional
Was-was Longsor Susulan, 50 Santriwati Ponpes di Pamekasan Dipulangkan

Was-was Longsor Susulan, 50 Santriwati Ponpes di Pamekasan Dipulangkan

Regional
Heboh Hiu Berwajah Mirip Manusia, BKKPN Kupang: Itu Normal, Fisiknya Belum Sempurna

Heboh Hiu Berwajah Mirip Manusia, BKKPN Kupang: Itu Normal, Fisiknya Belum Sempurna

Regional
Tenaga Ahli Menkes Temui Sultan HB X, Bicara soal PPKM hingga Vaksinasi Pedagang

Tenaga Ahli Menkes Temui Sultan HB X, Bicara soal PPKM hingga Vaksinasi Pedagang

Regional
Kisah Risalianus, Ayah Ibunya Lumpuh, Sepulang Sekolah Dia Berkebun untuk Hidupi Keluarga

Kisah Risalianus, Ayah Ibunya Lumpuh, Sepulang Sekolah Dia Berkebun untuk Hidupi Keluarga

Regional
Cerita Mantan Kades di Cianjur, Gelapkan Dana Desa 332 Juta untuk Bayar Utang Pribadi

Cerita Mantan Kades di Cianjur, Gelapkan Dana Desa 332 Juta untuk Bayar Utang Pribadi

Regional
Diduga Cemburu, Seorang Mahasiswa Gantung Diri Pakai Jilbab di Kos, Ini Ceritanya

Diduga Cemburu, Seorang Mahasiswa Gantung Diri Pakai Jilbab di Kos, Ini Ceritanya

Regional
Jumat Ini, Cellica dan Aep Dilantik Langsung oleh Ridwan Kamil

Jumat Ini, Cellica dan Aep Dilantik Langsung oleh Ridwan Kamil

Regional
Bupati dan Wakil Bupati Semarang Terpilih Dilantik Besok, Undangan Terbatas

Bupati dan Wakil Bupati Semarang Terpilih Dilantik Besok, Undangan Terbatas

Regional
Prokes Super Ketat Pelantikan Kepala Daerah di Jatim, Wajib Tinggal di Surabaya

Prokes Super Ketat Pelantikan Kepala Daerah di Jatim, Wajib Tinggal di Surabaya

Regional
Sekda Samarinda: Kami Tidak Keluarkan Izin Kerumunan, Perkawinan dan Lainnya

Sekda Samarinda: Kami Tidak Keluarkan Izin Kerumunan, Perkawinan dan Lainnya

Regional
Tragedi Longsor di Tambang Emas Ilegal Parigi Moutong, Ini Faktanya

Tragedi Longsor di Tambang Emas Ilegal Parigi Moutong, Ini Faktanya

Regional
Hari Tanpa Bayangan di Bali Terjadi 26 dan 27 Februari, Ini Penjelasan BMKG

Hari Tanpa Bayangan di Bali Terjadi 26 dan 27 Februari, Ini Penjelasan BMKG

Regional
Suami Curi Ponsel Istri karena Korban Sering Rebutan dengan Anaknya, Rancang Skenario Maling

Suami Curi Ponsel Istri karena Korban Sering Rebutan dengan Anaknya, Rancang Skenario Maling

Regional
Pelantikan 3 Kepala Daerah di Bangka Belitung Akan Digelar secara Tatap Muka

Pelantikan 3 Kepala Daerah di Bangka Belitung Akan Digelar secara Tatap Muka

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X