ITB dan MIT Bekerja Sama dalam Penelitian Baterai Mobil Listrik Nasional

Kompas.com - 23/02/2018, 12:33 WIB
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir tengah menjelaskan progres pembuatan mobil listrik nasional usai melakukan rapat pleno forum guru besar ITB di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Jalan Surapati, Kota Bandung, Kamis (22/2/2018). KOMPAS.com/AGIE PERMADIMenteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir tengah menjelaskan progres pembuatan mobil listrik nasional usai melakukan rapat pleno forum guru besar ITB di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Jalan Surapati, Kota Bandung, Kamis (22/2/2018).


BANDUNG, KOMPAS.com - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memberikan tugas penelitian kepada lima perguruan tinggi (PT) Indonesia untuk membuat mobil listrik nasional (molina).

Dalam tugas tersebut, Institut Teknologi Bandung ( ITB) dipercaya untuk meneliti baterai berteknologi tinggi untuk molina. Penelitian ini pun dikerjasamakan dengan institusi riset swasta dan universitas di Cambridge, Amerika Serikat, yakni Institut Teknologi Massachusetts (MIT) sejak tahun 2017 dan akan berlangsung hingga lima tahun mendatang.

"Kami sedang meneliti baterainya itu karena elemen paling penting untuk mobil listrik itu baterai. Nah, kami kerja sama dengan MIT Amerika. Dapat dana dari USAID dalam proyek SHERA (Sustainable Higher Education Research Aliances). Jadi dengan MIT kami bermitra. Kami juga ajak perguruan tinggi dalam negeri supaya ilmunya menyebar tak hanya untuk kita, yaitu meneliti baterai yang terbaik untuk mobil listrik. Kenapa MIT, karena dia yang terbaik di dunia," jelas Rektor ITB Kadarsah Suryadi, Jumat (23/2/2018).

Pengerjaan baterai ini dilakukan oleh 20 orang peneliti ITB dari lintas disiplin ilmu. Penelitian baterai berteknologi tinggi itudilakukan di PT masing-masing. Meski begitu, para peneliti dua PT ini tetap berkomunikasi dan akan waktu bertemu untuk membicarakan hasil penelitiannya.

"Kami sifatnya on stay, jadi di sini ada, di sana ada. Nanti suatu waktu ketemu, tapi mereka tetap komunikasi. Baterai ini sulit memang, karena itu teknologi baru. Di negara Jepang saja masih hybrid. Kalau pun ada, kecepatannya belum tinggi," ujar Kadarsah.

Baca juga: 5 Perguruan Tinggi Ditugaskan Buat Mobil Listrik Nasional

Penelitian yang diketuai oleh Sigit Santosa dari Fakultas Teknologi Mesin Dirgantara ITB ini menargetkan pembuatan baterai berteknologi tinggi dengan waktu charging yang cepat dan penggunaan yang tahan lama.

"Jadi baterai itu di-charge-nya cepat, tapi tahan lama. Seperti di Finlandia yang hanya di-charge sekian menit, tapi bisa dipakai berhari-hari karena pakai teknologi tinggi. Nah, ini perlu ketekunan," katanya.

Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menargetkan bahwa Indonesia mampu memproduksi molina secara mandiri pada tahun 2020. Adapun tahun 2018 ini pihaknya menargetkan molina sudah pada tahap uji tes lapangan.

Dari Rp 2,45 triliun dana untuk pengembangan riset, Menristek bakal menganggarkan Rp 200 miliar untuk mencapai target penelitian molina tahun ini.

"Mobil listrik sangat tinggi sekali ini, nanti kalau presiden sudah mengeluarkan kebijakan baru, yaitu subsidi, orang mungkin akan pilih itu (mobil listrik). Kalau itu disubsidi, lebih murah dari harga (kendaraan) bensin," ucap Mohamad Nasir.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X