Mantan Santrinya Jadi Pelaku Penyerangan Gereja, Ponpes Payaman Perketat Seleksi

Kompas.com - 15/02/2018, 22:47 WIB
Kompleks sekolah dan Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman II, di Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/2/2018). KOMPAS.com/Ika FitrianaKompleks sekolah dan Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman II, di Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/2/2018).

MAGELANG, KOMPAS.com - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin Payaman II, Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyatakan akan memperketat seleksi penerimaan santri baru setelah salah satu alumnusnya menjadi pelaku penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018).

Abdul Hamid, salah satu pengasuh ponpes tersebut, menyatakan apa yang dilakukan Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, sama sekali tidak mencerminkan ajaran yang diajarkan di ponpes tersebut.

"Ke depan, akan kami ketatkan penerimaan santri. Pengawasan terhadap keseharian santri juga akan ditingkatkan. Selama ini kami tidak terpikir akan terjadi seperti ini karena ajaran pondok sangat bertentangan dengan kekerasan dan radikal," ujar Hamid, saat ditemui wartawan, Kamis (15/2/2018) sore.

Hamid mengatakan, ponpesnya terbuka dengan masyarakat, serta memegang teguh faham Ahlusunnah Wal Jamaah yang sejalan dengan ponpes Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya. Ponpesnya memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin.

"Ponpes tidak pernah ajarkan kekerasan dan hal-hal yang bersifat radikal, apalagi terorisme. Pondok kami memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin. Sejak berdiri 102 tahun lalu, pondok masih berpegang teguh dalam menganut, mengajarkan, dan menyebarkan faham Ahlusunnah Wal Jamaah, sejalan dengan pesantren NU lainnya," tutur Hamid.

Baca juga: Suliono Pernah Diingatkan karena Kumpulkan Santri Ponpes Ibnu Sina

Hamid menyatakan, lingkungan di dalam ponpes senantiasa mencerminkan kehidupan yang penuh kasih sayang. Hal itu terlihat dari keseharian para santri ketika di dalam ponpes maupun di luar ponpes. Hamid pun yakin bahwa Suliono telah mendapat pengaruh radikal dari luar ponpes.

"Ajaran dan suasana pondok tidak mendukung tumbuhnya paham kekerasan seperti ini. Dia (Suliono) dapatkan itu bukan dari pondok, tapi dari luar. Alumni dan orangtua juga sudah memahami itu. Yang melakukan kekerasan itu individu atau oknum, dia sendiri sudah bukan santri di Ponpes Sirojul Mukhlasin," tambahnya.

Selain akan memperketat penerimaan santri, pihaknya juga akan melakukan penataan di dalam ponpes supaya pengaruh buruk dari luar tidak sampai masuk dan memengaruhi santri yang masih menempuh pendidikan di ponpes tersebut.

"Pelajaran yang ada di ponpes selama ini tidak ada yang salah. Tinggal bagaimana caranya agar pengaruh dari luar tidak sampai memengaruhi santri," imbuh putra kedua KH Mukhlisun itu.

Baca juga: Pelaku Penyerangan Gereja Santa Lidwina Pernah Kuliah di Palu

Suliono, pemuda asal Kabupaten Banyuwangi itu, sempat menimba ilmu di Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman II selama dua tahun, sejak tahun 2015-2017. Pada Juni 2017, Suliono melanjutkan pendidikannya ke Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman I di Desa Payaman selama sekitar lima bulan.

Pada Desember 2017, Suliono dicoret sebagai santri di Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman I lantaran kerap membolos dan tidak mematuhi peraturan ponpes.

"Sejauh laporan yang kami dapatkan, memang dia sempat berbicara pada teman-temannya. Tapi, pemikiran dan pembicaraan ini tidak cocok dengan teman-temannya sehingga akhirnya menjadi banyak penyendiri karena pemikirannya berlawanan ajaran ponpes," ungkap Hamid.

Setelah kejadian penyerangan di Gereja Lidwina, pihaknya mengimbau kepada semua wali murid dan masyarakat untuk menjaga kedamaian, keamanan, ketenangan, dan ketertiban, serta tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Pihaknya mengutuk keras aksi kekerasan, apalagi terorisme hingga melukai orang lain.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bawa Kabur Biaya Pernikahan Rp 10 Juta, Makcomblang di Lampung Ditangkap Polisi

Bawa Kabur Biaya Pernikahan Rp 10 Juta, Makcomblang di Lampung Ditangkap Polisi

Regional
Mendapat Berkah dari Hidroponik Barokah

Mendapat Berkah dari Hidroponik Barokah

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 31 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 31 Oktober 2020

Regional
Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Regional
Puncak Bogor Hujan Deras, Wisatawan Diminta Waspada Bencana

Puncak Bogor Hujan Deras, Wisatawan Diminta Waspada Bencana

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 31 Oktober 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 31 Oktober 2020

Regional
Penyebab Anggota TNI Dikeroyok Anggota Klub Motor Gede, Kapolres: Sama-sama Tidak Bisa Kendalikan Emosi

Penyebab Anggota TNI Dikeroyok Anggota Klub Motor Gede, Kapolres: Sama-sama Tidak Bisa Kendalikan Emosi

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 31 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 31 Oktober 2020

Regional
Heboh Harga Nasi Goreng Dinilai Terlalu Mahal, Ini Kata Kadispar Bintan

Heboh Harga Nasi Goreng Dinilai Terlalu Mahal, Ini Kata Kadispar Bintan

Regional
Pria Ini Nekat Bunuh Tetangganya, Polisi: Pelaku Curiga Istrinya Selingkuh dengan Korban

Pria Ini Nekat Bunuh Tetangganya, Polisi: Pelaku Curiga Istrinya Selingkuh dengan Korban

Regional
'Waktu Pertama Ketemu Tidak Pernah Merasa Mirip seperti Jokowi'

"Waktu Pertama Ketemu Tidak Pernah Merasa Mirip seperti Jokowi"

Regional
UMP DIY Naik Sebanyak 3,54 Persen, Berlaku 1 Januari 2021

UMP DIY Naik Sebanyak 3,54 Persen, Berlaku 1 Januari 2021

Regional
Sempat Minta Selimut, Tamu Hotel di Mataram Ditemukan Tewas Telentang di Depan Pintu Kamar

Sempat Minta Selimut, Tamu Hotel di Mataram Ditemukan Tewas Telentang di Depan Pintu Kamar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X