Rem yang Bocor Sempat Diakali Sebelum Bus Terguling dan Tewaskan 27 Orang

Kompas.com - 14/02/2018, 08:47 WIB
Warga melihat lokasi tabrakan di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2). Sebanyak 26 orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka akibat kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Yusup SuparmanWarga melihat lokasi tabrakan di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2). Sebanyak 26 orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka akibat kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.

BANDUNG, KOMPAS.com - Kecelakaan bus yang menewaskan 27 orang penumpang di Jalan Tanjakan Ciater, Subang, pada Sabtu (10/2/2018) diduga disebabkan sistem pengereman bus yang tidak berfungsi. Kondisi itu diduga karena kelalaian sopir.

Oleh karena itu, setelah dilaksanakan gelar perkara Polres Subang, polisi menetapkan Amirudin (32), sopir bus maut, sebagai tersangka. 

Polisi juga tak menutup kemungkinan menetapkan tersangka lain dalam kasus kecelakaan ini.

Kasubdit Jamenopsrek Korlantas Polri, Kombes Pol Yohanes Didiek Dwi Prihantono mengungkap, dugaan tidak berfungsinya sistem pengereman setelah ketahui ada kebocoran rem yang sempat dialami bus pariwisata itu sebelum terjadinya kecelakaan.

"Dari hasil pemeriksaan kernet, pada saat di salah satu tempat makan ada trouble, ada kendala, dia menghubungi tim teknis dari perusahaan. Petunjuknya seperti itu, (mengakali) dari dua selang (rem) dipotong dan ditutup baut. Nah secara teknis itu ini tidak boleh, tapi biar jelas nanti teknisnya tim labfor yang menjelaskan," ungkap Didiek di Dinas Perhubungan Jabar, Kota Bandung, Rabu (14/2/2018).

Baca juga : Manajemen PO Bus yang Terguling di Tanjakan Emen Subang Diperiksa

Menurutnya, usulan pemotongan kabel itu sendiri diduga dari kepala bengkelnya. "Penjelasan dari sopir dan kernet (usulan) dari kepala bengkelnya," kata Didiek.?

Pihak kepolisian sendiri telah memeriksa beberapa saksi korban dan kernet, termasuk sopir bus maut tersebut. 

Tak hanya itu, panggilan dan pemeriksaan perwakilan manajemen perusahaan otobus (PO) bus maut itu pun telah dilakukan. "Sudah diperiksa, sudah ke perusahaan, kepala teknisnya, kepala bengkel," katanya.

Seperti diketahui, pemeriksaan perwakilan manajemen PO itu masih berstatus saksi. Namun tak menutup kemungkinan jika ada sesuatu yang mengindikasikan keterlibatan perusahaan, maka akan ada penetapan tersangka lainnya. "Perusahaan bisa (jadi tersangka)," tuturnya.

Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Pasal 315 bisa menjerat PO bus maut itu.

"Pasal 315 bisa mengenakan perusahaan, ancamannya bisa penutupan sementara maupun pidana," terangnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X