Kampoong Art Attack: Seni untuk Warga Kampung Besar Jakarta

Kompas.com - 13/02/2018, 09:44 WIB
Para penari sedang mementaskan kolaborasi gerak dan tubuh dengan seniman-seniman graffiti di sebuah tembok kuburan di kampung Bali Mester Jatinegara pada 2016 Foto Doc JAM Para penari sedang mementaskan kolaborasi gerak dan tubuh dengan seniman-seniman graffiti di sebuah tembok kuburan di kampung Bali Mester Jatinegara pada 2016 Foto

SEGREGASI sosial juga kultural telah meminggirkan warga kampung-kampung di Jakarta. Peran apa yang dilakukan oleh seniman dengan karya-karya seninya?

Kampung, kampong, atau kampoong di Jakarta adalah sebuah sistem masyarakat yang tinggal di wilayah urban, urban village di tengah-tengah kota. Mereka miliki identitas yang terkait sejarah masa silam. Potret kontrak sosial sekumpulan orang yang unik.

Para pendatang (dari berbagai daerah di wilayah Nusantara) dan imigran (luar) yang bermukim dan berkelompok sejak masa kolonial Belanda atau bahkan ratusan tahun sebelumnya, hidup dan beranak-pinak di sana.

Kampung-kampung tersebut ditandai dengan ciri-ciri suku/etnik yang sama, membedakan dengan kampung lain.


Pada abad ke-20, meskipun abad-abad yang silam telah lewat, tapi jejak-jejak budaya dan lokasi geografi sekaligus warga kampung-kampung tersebut masih tertera dengan jelas. Era modern kota Jakarta menjadi tantangan eksistensinya, bahwa keniscayaan komunitas kampung-kampung yang majemuk yang menyimpan potensinya yang tetap besar.

Ikatan dan ingatan komunal hidup bersama adalah bentuk paling baik untuk selalu mempertahankannnya sebagai modal sosial dan tidak sekalipun ada kebijakan yang baik untuk menggusurnya dengan dalih pembangunan.

Dimensi gemeinschaft, masyarakat berciri paguyuban yang warganya terhubung secara intim, warga yang saling mengenal secara personal sesama warga masih tetap bisa kita ketemukan. Masih ada optimisme di sana.

Sebagian kampung bertransformasi/berkembang menjadi modern dan layak untuk ditinggali, tapi sebagian lainnya terdesak dan tertinggal, ter-eksklusi, menjadi kumuh, miskin dan tidak berdaya. Sangat rentan menjadi titik picu konflik dan permasalahan serius kota sebesar Jakarta ini.

Warga kampung melintas di tembok-tembok berlabur mural yang bernarasi empati dan kepedulian terhadap sesama karya para seniman sreet art pada 2016.Doc Fendi Siregar Warga kampung melintas di tembok-tembok berlabur mural yang bernarasi empati dan kepedulian terhadap sesama karya para seniman sreet art pada 2016.
Problem perencanaan kota yang semrawut, tingkat urbanisasi yang menggila tiap tahun, keputusan politik pemerintah kota yang berpihak pada kelas menengah-atas, dan terbatasnya ruang untuk tempat tinggal.

Ditambah lagi pengaruh investor besar, segera saja menelantarkan kampung-kampung dengan masyarakatnya yang “old fashioned” ini dan mengubahnya menjadi masyarakat “marginal”.

Pada akhirnya warga kampung menghadapi masalah sosial klasik nan pelik seperti pengangguran, kemiskinan, putus sekolah, kekerasan horisontal (tawuran), dan bentuk-bentuk kriminalitas lainnya.

Paling rentan adalah: digunakan secara keji dan dihasut oleh para elit politik dalam pengumpulan suara pada masa-masa pemilihan pejabat publik yang datang dari mana saja. Pemerintah, partai politik, dan ormas-ormas tertentu, sama saja.


Seni, seniman, dan Kampoong Art Attack

Sebuah komunitas, sekelompok pekerja seni, seniman, atau pekerja kreatif kecil berjuluk Jakarta Art Movement (JAM) mencoba membuat program seni kampung: kampoong art attack sejak 2012.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X