Protes Impor Garam, Petani dan Mahasiswa Beralasan Stoknya Melimpah

Kompas.com - 09/02/2018, 19:59 WIB
Mahasiswa dan petani garam Pamekasan berunjuk rasa menolak impor garam sebesar 2,37 juta ton. KOMPAS.com/TaufiqurrahmanMahasiswa dan petani garam Pamekasan berunjuk rasa menolak impor garam sebesar 2,37 juta ton.


PAMEKASAN, KOMPAS.com - Impor garam yang akan dilakukan Kementerian Perdagangan sebanyak 2,37 juta ton dalam waktu dekat mendapat penolakan dari petani garam Pamekasan dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan. Ratusan mahasiswa dan petani berunjuk rasa ke kantor DPRD Pamekasan, Jumat (9/2/2018).

Dalam aksinya, massa membawa garam yang diangkut menggunakan gerobak. Garam tersebut ditabur di sepanjang jalan menuju kantor DPRD Pamekasan. Ada pula garam yang dibagi-bagi ke warga.

"Biar pemerintah tahu kalau garam di Pamekasan melimpah sehingga kami tabur-tabur dan sebagian kami bagikan ke masyarakat," kata Sulaiman, salah satu petani yang ikut aksi unjuk rasa.

Tiba di kantor DPRD Pamekasan, Ketua PMII Cabang Pamekasan Fadil menyampaikan orasi. Isi orasinya antara lain menolak impor garam yang akan dilakukan pemerintah pusat. Alasan penolakan itu karena garam rakyat masih melimpah. Seharusnya garam rakyat dibeli habis sebelum mengimpor.

"Garam rakyat banyak yang layu karena terlalu lama disimpan. Mau dijual harganya murah. Tolak impor garam karena laut di Madura masih asin," ujar Fadil.

Baca juga: Kemenperin: Impor Garam Industri Jaga Kegiatan Produksi dan Investasi

Fadil menjelaskan, seharusnya Presiden Jolowi sudah bisa mewujudkan salah satu Nawacita-nya berupa kemandirian pangan. Garam merupakan salah satu pangan yang belum mandiri karena tergantung pada impor. Padahal, laut Indonesia paling luas kedua di dunia setelah Kanada.

"Seharusnya intensifikasi garam lokal terus dilakukan pemerintah. Kami menunggu langkah strategis Jokowi dalam Nawacita-nya," imbuh Fadil.

Mahasiswa Universitas Madura Pamekasan ini mengungkapkan, yang tak kalah pentingnya adalah tindakan tegas pemerintah terhadap perusahaan garam di Indonesia yang tercatat sebagai pengimpor garam. Termasuk di Pamekasan, ada perusahaan yang juga menjadi importir, padahal di Madura tak butuh garam impor.

"Kami minta izin impor perusahaan garam di Pamekasan dicabut karena terindikasi nakal dengan membeli garam impor," ucap Fadil.

Baca juga: Apindo: Data Impor Garam dari Industri Lebih Bisa Dipegang

Sementara itu, Harun Suyitno, anggota Komisi II DPRD Pamekasan, merespons baik aksi menolak impor garam yang dilakukan PMII bersama petani. DPRD juga ikut menolak impor garam.

Surat penolakan dari DPRD Pamekasan sudah dikirim ke Gubernur Jawa Timur. Garam yang sudah diangkut menggunakan kapal hendaknya jangan diturunkan dulu.

"Ke Kementerian Perdagangan serta Kementerian Kelautan Perikanan dan Kelautan, juga akan kami audiensi soal aspirasi petani dan mahasiswa," ujar Harun.

Aksi ini sempat diwarnai kericuhan. Penyebabnya yaitu garam yang ditabur mahasiswa mengenai wajah polisi yang berjaga. Salah satu mahasiswa yang diduga sebagai pelaku pelemparan garam dikejar polisi.

Massa sempat kocar-kacir setelah baku pukul dengan polisi. Namun, situasi kembali normal setelah mahasiswa dan polisi berhasil menahan emosi untuk mengakhiri kericuhan.

Baca juga: Menteri Susi: Ada Masalah Teknis pada Rencana Pemerintah Impor Garam

Kompas TV Izin impor garam kini langsung berasal dari Kementerian Perdagangan atas permintaan Kementrian Perindustrian.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Duduk Perkara Kasus Penusukan Mata 12 Kucing, Pelaku Dibawa ke Rumah Sakit Jiwa

Duduk Perkara Kasus Penusukan Mata 12 Kucing, Pelaku Dibawa ke Rumah Sakit Jiwa

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kiai Protes Jabatan Menteri Agama ke PBNU | Risma Akui Rugi Tolak Jadi Menteri

[POPULER NUSANTARA] Kiai Protes Jabatan Menteri Agama ke PBNU | Risma Akui Rugi Tolak Jadi Menteri

Regional
Pasien Demam Berdarah di Cianjur Bertambah Jadi 22 Orang

Pasien Demam Berdarah di Cianjur Bertambah Jadi 22 Orang

Regional
Puslabfor Ambil Sampel di Lokasi Kebakaran Pipa Pertamina Cimahi

Puslabfor Ambil Sampel di Lokasi Kebakaran Pipa Pertamina Cimahi

Regional
Ganjar Apresiasi Terpilihnya Tito Karnavian Sebagai Mendagri

Ganjar Apresiasi Terpilihnya Tito Karnavian Sebagai Mendagri

Regional
Surabaya Bakal Punya Layanan Kedokteran Nuklir, Warga Tak Perlu Terapi ke Luar Kota

Surabaya Bakal Punya Layanan Kedokteran Nuklir, Warga Tak Perlu Terapi ke Luar Kota

Regional
Pilkada Surabaya, Risma Akui Diminta Pendapat Megawati Soal Calon Wali Kota dari PDIP

Pilkada Surabaya, Risma Akui Diminta Pendapat Megawati Soal Calon Wali Kota dari PDIP

Regional
Dalam 7 Bulan, 186 Orang Meninggal karena Kecelakaan di Banyumas

Dalam 7 Bulan, 186 Orang Meninggal karena Kecelakaan di Banyumas

Regional
Bersembunyi 2 Tahun dengan Nama Palsu, Buronan Koruptor Ini Akhirnya Ditangkap

Bersembunyi 2 Tahun dengan Nama Palsu, Buronan Koruptor Ini Akhirnya Ditangkap

Regional
Api di Gunung Tampomas Masih Menyala, Luas Lahan yang Terbakar Capai 154 Hektare

Api di Gunung Tampomas Masih Menyala, Luas Lahan yang Terbakar Capai 154 Hektare

Regional
Asosiasi Tradisi Lisan Gelar Munas dan Seminar Internasional di Makassar

Asosiasi Tradisi Lisan Gelar Munas dan Seminar Internasional di Makassar

Regional
Kepala Daerah di Maluku Diminta Tak Takut dengan KPK

Kepala Daerah di Maluku Diminta Tak Takut dengan KPK

Regional
Tak Ingin Ada OTT, Wakil Ketua KPK Minta Kepala Daerah di Maluku Tak Berbuat Tercela

Tak Ingin Ada OTT, Wakil Ketua KPK Minta Kepala Daerah di Maluku Tak Berbuat Tercela

Regional
Dalam Sepekan Terjadi 3 Kecelakaan di Lampung, 12 Orang Tewas

Dalam Sepekan Terjadi 3 Kecelakaan di Lampung, 12 Orang Tewas

Regional
Dedi Mulyadi: Susi Pudjiastuti Legenda Kelautan

Dedi Mulyadi: Susi Pudjiastuti Legenda Kelautan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X