Diperiksa KPK, Ketua DPRD Kota Malang Ditanya Peran Wali Kota

Kompas.com - 06/02/2018, 08:44 WIB
Ketua DPRD Kota Malang, Abd Hakim saat ditemui di Kantor DPRD Kota Malang, Senin (5/2/2018). KOMPAS.com/Andi HartikKetua DPRD Kota Malang, Abd Hakim saat ditemui di Kantor DPRD Kota Malang, Senin (5/2/2018).
|
EditorReni Susanti

MALANG, KOMPAS.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa sejumlah anggota DPRD Kota Malang terkait kasus suap pembahasan APBD Kota Malang tahun anggaran 2015, Senin (5/2/2018). Tidak seperti biasanya, pemeriksaan dilakukan di Mapolres Batu.

Di antara anggota dewan yang diperiksa adalah Subur Triono (PAN), Suprapto (PDI-P), Rahayu Sugiarti (Golkar) Sukarno (Golkar), Sahrawi (PKB), Mohan Katelu (PAN), dan Abd Hakim (PDI-P).

Selain itu juga ada Priyatmoko Oetomo (PDI-P), Arief Hermanto (PDI-P) Hadi Susanto (PDI-P), Tutuk Hariyani (PDI-P), dan Sony Yudiarto (Demokrat).

"Hari ini diagendakan pemeriksaan terhadap 12 anggota DPRD Kota Malang," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah melalui pesan tertulis kepada Kompas.com.

(Baca juga : Kasus Suap APBD Kota Malang, 12 Anggota DPRD Diperiksa KPK)

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Malang, Abd Hakim yang turut diperiksa mengaku ditanya soal peran Wali Kota Malang M Anton dalam pembahasan APBD Kota Malang.

"Ditanya tentang tugas wali kota dan sekda," katanya.

Pemeriksaan tidak berlangsung lama. Hakim mengaku hanya diperiksa selama 1,5 jam. "Jadi saya tadi satu jam setengah. Lanjutan yang kemarin," katanya.

Nama Wali Kota Malang, M Anton muncul dalam persidangan Jarot Edy Sulistyono, pemberi suap dalam kasus itu. Anton disebut terlibat dalam pemberian suap kepada mantan Ketua DPRD Kota Malang Moch Arief Wicaksono yang menjadi tersangka utama kasus ini.

Arief, disangka menerima suap sebesar Rp 700 juta dari Jarot Edy Sulistyono yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang.

(Baca juga : KPK Tahan Pemberi Suap Ketua DPRD Kota Malang )

Suap sebanyak itu disebut terkait pembahasan APBD Perubahan Kota Malang Tahun Anggaran 2015.

Selain itu, Arief juga disangka menerima suap dari Komisaris PT ENK, Hendarwan Maruszaman sebesar Rp 250 juta. Suap itu diduga terkait penganggaran kembali proyek pembangunan Jembatan Kendung Kandang dalam APBD Kota Malang Tahun Anggaran 2016 pada 2015.

Nilai proyek pembangunan jembatan tersebut yakni Rp 98 miliar, yang dikerjakan secara multiyears tahun 2016 sampai 2018. Hendarwan juga sudah ditetapkan tersangka sebagai pemberi suap.

Saat ini, Jarot sudah menjadi terdakwa dalam kasus tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Rohani Ketika Suaminya Disebut Mirip Jokowi dan Viral

Cerita Rohani Ketika Suaminya Disebut Mirip Jokowi dan Viral

Regional
Sepatu dan Helm Klub Moge Jadi Barang Bukti Pengeroyokan 2 Anggota TNI di Bukittinggi

Sepatu dan Helm Klub Moge Jadi Barang Bukti Pengeroyokan 2 Anggota TNI di Bukittinggi

Regional
Diduga Sedang Tertidur Pulas, Satu Keluarga Tewas Terbakar

Diduga Sedang Tertidur Pulas, Satu Keluarga Tewas Terbakar

Regional
Terungkap Penyebab Kematian Karyawati SPBU di Kupang, Bukan Kecelakaan

Terungkap Penyebab Kematian Karyawati SPBU di Kupang, Bukan Kecelakaan

Regional
Disebut Covid-19 Usai 'Rapid Test', Pasien Melahirkan Merasa Dipingpong Rumah Sakit

Disebut Covid-19 Usai "Rapid Test", Pasien Melahirkan Merasa Dipingpong Rumah Sakit

Regional
Kasus Pengeroyokan Anggota TNI di Bukittinggi, 14 Motor Gede Diamankan Polisi

Kasus Pengeroyokan Anggota TNI di Bukittinggi, 14 Motor Gede Diamankan Polisi

Regional
Anggota Klub Moge Diduga Menganiaya dan Mengancam 2 Prajurit TNI

Anggota Klub Moge Diduga Menganiaya dan Mengancam 2 Prajurit TNI

Regional
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan Berencana

Cemburu Buta Berujung Pembunuhan Berencana

Regional
Buruh di DIY Kecewa walaupun UMP Ditetapkan Naik, Apa Sebabnya?

Buruh di DIY Kecewa walaupun UMP Ditetapkan Naik, Apa Sebabnya?

Regional
Pemprov Jabar Tetapkan UMP 2021, Berapa Besarnya?

Pemprov Jabar Tetapkan UMP 2021, Berapa Besarnya?

Regional
Bawa Kabur Biaya Pernikahan Rp 10 Juta, Makcomblang di Lampung Ditangkap Polisi

Bawa Kabur Biaya Pernikahan Rp 10 Juta, Makcomblang di Lampung Ditangkap Polisi

Regional
Mendapat Berkah dari Hidroponik Barokah

Mendapat Berkah dari Hidroponik Barokah

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 31 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 31 Oktober 2020

Regional
Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X