Menguak Cerita 6 TKW, Korban Perdagangan Manusia Asal NTB

Kompas.com - 06/02/2018, 07:02 WIB
Ilustrasi TKI Kompas.com/ERICSSENIlustrasi TKI

 

 

Disekap dan Disiksa

Dalam melakukan aksinya, AU dibantu SU yang berperan meyakinkan korban agar bersedia dikirim ke luar negeri dengan iming-iming gaji yang besar. Selain itu, AU yang berdomisili di Jakarta, membuat korban yakin dengan janji AU maupun SU.

Keduanya mengaku, kerap mendapatkan order mencari perempuan untuk diberangkatkan ke Timur Tengah. Walaupun beberapa negara di Timur Tengah masuk dalam moratorium pengiriman TKI, khsususnya pembantu rumah tangga.

Dari hasil investigasi, sambung Pujawati, setelah korban tiba di Turki, bukan pekerjaan dan perlindungan yang mereka dapat. Tetapi perlakuan kasar dan penyiksaan fisik.

“Dokumen mereka dirampas oleh agen dan ditempatkan di penampungan. Bukan dipekerjakan, mereka disekap selama 1,5 bulan, hingga berhasil melarikan diri dan minta perlindungan ke KBRI,” tuturnya.

(Baca juga : Telepon Kakaknya, TKW Ini Mengaku Disiksa Majikan di Arab Saudi )

Selain untuk pengembangan penyelidikan, Pujawati berharap, media tidak mengekspose nama keenam korban atau TKW yang berhasil melarikan diri. Itu dilakukan demi keselamatan mereka dan TKW lainnya yang masih berada di tempat penampungan.

Saat ini, aparat telah mengantongi sejumlah barang bukti, berupa boarding pass tiket pesawat keberangkatan korban, dan paspor masing-masing korban, yang sempat direbut jaringan agen internasional di Turki.

Untuk penanganan enam korban, Polda NTB menyerahkan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) NTB. Mereka akan membantu mengatasi trauma enam korban TPPO yang disekap selama 1,5 bulan di tempat penampungannya di Turki.

Kepala P2TP2A NTB, Ratnaningdiah mengatakan, timnya berupaya memulihkan fisik dan psikis korban. Karena keadaan para TKW tersebut sangat memprihatinkan.

“Setelah disekap 1,5 bulan, mereka pulang dalam keadaan sangat lemah dan lusuh. Hanya dengan baju tersisa di badan, mereka melarikan diri dari tempat penampungan," tuturnya.

Ratnaningdiah menjelaskan, dua dari enam korban adalah sarjana kesehatan dan seorang bidan. Mereka pergi ke Turki karena tergiur dengan janji muluk sang tekong sebagai tenaga kesehatan di Turki.

(Baca juga : TKW Asal Madiun Meninggal di Taiwan)

Saat ini, lanjut Ratna, trauma para korban tengah dipulihkan. Mengingat tidak mudah bagi para korban melupakan peristiwa yang menakutkan mereka selama dalam sekapan di tempat penampungan.

Kini, para pelaku dijerat pasal 10 dan 11 junto pasal 4 UU No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau melakukan permufakatan jahat TPPO ke luar negeri.

Ancaman hukumannya 3 hingga 15 tahun penjara dengan denda Rp 120 juta hingga Rp 600 juta rupiah. 

Apakah hukuman tersebut cukup memberikan efek jera? Yang pasti, kisah pahit para pahlawan devisa ini masih membutuhkan keseriusan penanganan aparat Kepolisian dan pemerintah, agar nasib para TKI tak hanya berakhir memilukan. 

Kompas TV Perdagangan manusia hantui warga Rohingya di pengungsian Banglades.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sebelum Tumbang di Tangan Algojo Cambuk, Pria Ini Ditangkap Berzina di Bengkel

Sebelum Tumbang di Tangan Algojo Cambuk, Pria Ini Ditangkap Berzina di Bengkel

Regional
Direstui Presiden, Gedung RSUD Soekarno yang Mangkrak 9 Tahun Dibangun Kembali

Direstui Presiden, Gedung RSUD Soekarno yang Mangkrak 9 Tahun Dibangun Kembali

Regional
Kronologi Kakak Dibakar Adik gara-gara Tak Beri Uang, Disiram Bensin Saat Rebahan di Sofa

Kronologi Kakak Dibakar Adik gara-gara Tak Beri Uang, Disiram Bensin Saat Rebahan di Sofa

Regional
Angka Penularan Covid-19 Masih Tinggi, Masa Transisi di Malang Raya Diperpanjang

Angka Penularan Covid-19 Masih Tinggi, Masa Transisi di Malang Raya Diperpanjang

Regional
Hendak Bepergian dengan Pesawat, Keluarga Gubernur Babel Tes Swab, Anak Bungsu Positif Corona

Hendak Bepergian dengan Pesawat, Keluarga Gubernur Babel Tes Swab, Anak Bungsu Positif Corona

Regional
Siswi SMK di Gresik Tewas Gantung Diri, Polisi: Berencana Nikah Usai Lebaran

Siswi SMK di Gresik Tewas Gantung Diri, Polisi: Berencana Nikah Usai Lebaran

Regional
Warga yang Bawa Kabur 'Cool Box' Sampel Swab Ditangkap, Polisi: Dia Pikir Milik Jenazah PDP

Warga yang Bawa Kabur "Cool Box" Sampel Swab Ditangkap, Polisi: Dia Pikir Milik Jenazah PDP

Regional
Viral Status Teman Tuli Saat Tarik Tabungan di Bank: Teler Berbicara Satpam Menuliskannya Untukku

Viral Status Teman Tuli Saat Tarik Tabungan di Bank: Teler Berbicara Satpam Menuliskannya Untukku

Regional
 Detik-detik Adik Bakar Kakak Kandung karena Tak Diberi Uang

Detik-detik Adik Bakar Kakak Kandung karena Tak Diberi Uang

Regional
Balikpapan Dibebani Kasus Impor Covid-19 dari Jawa dan Sulawesi

Balikpapan Dibebani Kasus Impor Covid-19 dari Jawa dan Sulawesi

Regional
Anak Bungsu Gubernur Bangka Belitung Positif Covid-19, Diduga Terpapar Transmisi Lokal

Anak Bungsu Gubernur Bangka Belitung Positif Covid-19, Diduga Terpapar Transmisi Lokal

Regional
Kronologi Satpol PP Bacok PNS karena Tersinggung Dipaksa Buka Portal

Kronologi Satpol PP Bacok PNS karena Tersinggung Dipaksa Buka Portal

Regional
Setelah Sepekan Nihil Kasus, 1 Warga Ditemukan Positif Corona, Diduga Seorang Pejabat

Setelah Sepekan Nihil Kasus, 1 Warga Ditemukan Positif Corona, Diduga Seorang Pejabat

Regional
Mayat Perempuan Ditemukan Membusuk Dalam Tumpukan Jerami di Kandang Sapi

Mayat Perempuan Ditemukan Membusuk Dalam Tumpukan Jerami di Kandang Sapi

Regional
Tak Diberi Uang, Adik Bakar Kakak Kandung di Cianjur

Tak Diberi Uang, Adik Bakar Kakak Kandung di Cianjur

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X